Dangerous Frienship/YAOI/Super Junior FF Part 1

16 February 2011 at 10:25 PM | Posted in FF ( FanFiction ), Super Junior | Leave a comment
Tags: , , , , , ,

Author : Park Eun kyung@SEI’s group

Cast :
Sungmin
Kyuhyun
Ryeowook
Yesung
Shindong
Kibum
Song Hye Kyo
Genre: YAOI
Summary: Terinspirasi dengan drama buatan Sungmin kira-kira 2 tahun yang lalu di M-net Mini Drama, kompetensi buat drama sebagus-bagusnya antara team Sungmin dan team Eunhyuk. Happy Reading !!^^

PART 1

Lee Sungmin, kurasa Tuhan mengutus orang tuaku menamaiku demikian. Orang tuaku itu, aku meninggalkan mereka beberapa bulan yang lalu, mencoba untuk pergi ke Seoul, pusat dari negara ini, mencoba meraih apa yang ingin aku raih. Mengejar mimpi-mimpiku di suatu universitas ternama di kota ini. Berusaha mendapatkan beasiswa agar aku terus melanjutkan sekolahku. Berat, sungguh berat, kuakui itu. Orang-orang disini, sungguh diluar dugaanku. Biasanya aku hanya mengunakan seperempat atau bahkan kurang dari itu untuk mendapatkan beasiswa di salah satu sekolah ternama di Incheon. namun sebaliknya, kau pasti tahu, aku harus menggunakan seluruh atau bahkan lebih kemampuan otakku untuk mendapatkan beasiswa disini, orang-orang disini sungguh jenius, aku harus mengakui itu karena fakta itu benar. Orang-orang Seoul mungkin IQ mereka hampir sepadan dengan Albert Einstein. Kurasa aku terlalu berlebih-lebihan mengambarkan IQ orang-orang Seoul. Setidaknya mereka, orang-orang Seoul, aku perlu tenaga lebih untuk mengalahkan mereka dalam segala bidang. Entah bagaimana aku tanpa beasiswa itu. Mungkin saja aku bisa menjadi gelandangan di Seoul, berjalan-jalan tak tentu arah, memasang raut muka sedemikian rupa agar orang-orang memerhatikanmu dan memberimu sedikit uang untuk sekali makan, itu adalah keberuntungan. jika tidak mungkin aku akan berpikir untuk mengorak-arik tong sampah mencoba mencari makanan yang aku rasa layak untuk ku makan. setidaknya untuk membuat aku terus hidup. Tapi hal itu ku tegaskan tak kan mungkin terjadi, karena aku memiliki seorang yang selalu membuatku tegar, semangat untuk terus mendapatkan berbagai beasiswa di universitas ini, setia mendampingiku hingga sampai saat ini setelah aku lulus dari perguruan tinggiku dengan nilai tertinggi kedua disana, dan aku betul-betul menyanyanginya. Seorang perempuan tentu. Sangat sulit didapatkan, kurasa. aku mendapatkannya karena keberuntunan saja. Hye Kyo, My Angel.
Hari ini, kuputuskan untuk menghabiskan waktu dengannya. Hanya aku dan dia, berjalan-jalan mungkin, atau membicarakan beberapa lelucon yang telah ku buat semalam. Harus ku akui aku pintar dalam logika, tapi aku payah dalam lelucon. Lucu, sangat lucu. Aku terkikik geli ketika ku ingat semalaman untuk membuat sebuah lelucon, otakku betul-betul sangat ku paksa untuk bekerja, aku meminta tolong pada Shindong. Dia sangat hebat dalam hal ini kurasa. Shindong selalu membuat para penghuni asrama lain tertawa hingga menangis, termasuk salah satunya aku. pernah saat itu saking lucunya Yesung mengompol, dan akhirnya Ryeowook mengantarnya ke kamar mandi untuk berganti celana. Ryeowook dan Yesung, mereka sungguh sangat akrab, atau bisa dibilang sangat mesra. Aku kadang merasa aneh dengan keakraban mereka. Sudahlah, tak perlu aku membahas kedua orang itu. Kau akan melihatnya setelah aku kembali ke asrama beberapa jam lagi. Aku berlari secepat yang aku bisa, menuju halte bus yang telah aku janjikan menjadi tempat pertemuan aku dan Hye Kyo. Aku telah memakai pakaian terbaikku, aku rasa warna merah muda cocok untukku. Dan tentu aku masih dengan potongan rambut panjangku, seperti kau tahu potongan salah satu member Super Junior yang namanya persis denganku, Sungmin Super Junior saat di music video mereka, U. dan dengan anting-anting keberuntunganku yang berbentuk salib pemberian kedua orang tuaku sebelum aku benar-benar meninggalkan mereka untuk menimba ilmuku di Seoul. Sepertinya aku sudah sampai, tepat di sebrang sebuah halte dekat lampu lalu lintas. Aku menghentikan laju kakiku. Melihat ke sekeliling, mencoba menemukan sosok perempuan yang aku cari. Dan disana lah ia, sedang duduk tertunduk sendiri. Aku tersenyum sumringah. Hanya ada keanehan di wajahnya, tak biasanya dia sedikit murung. Aku rasa dia terlalu lelah karena tugas-tugas kuliahnya. Dia lebih muda setahun daripadaku. Dan semalam dia mengeluh padaku karena terlalu lelah mengerjakan skripsinya. Aku hanya terkekeh menanggapinya. Aku melambaikan tangan kepadanya saat ia benar-benar melihatku. Dia hanya tersenyum samar.
“Cepatlah kemari!” seruku sambil terus tak henti-hentinya melabaikan tanganku dan tersenyum.
Dia hanya membalas dengan senyuman khasnya. Berdiri, dan melangkahkan kaki-kakinya meninggalkan halte itu, menuju ke tempat dimana tubuhku berada, di seberang halte bus berada. Ku arahkan kedua mataku pada sebuah benda yang mengatur jalanan layaknya polisi. Terpampang jelas disana rambu-rambu lalu lintas sudah berpindah warna, merah. Dan itu berarti seluruh kendaraan berhenti mempersilahkan orang-orang yang ingin menyebrang untuk berjalan menyebrang dari satu sisi ke sisi lain, begitulah hukum lalu lintas di seluruh negara, bukankah begitu? Dan ku lihat ke sisi lain, Hye Kyo telah melangkahkan kakinya, perlahan berjalan ke arahku, sambil terus tersenyum melihatku. Aku membalasnya dengan senyuman terbaikku. Dan lalu, entah, kejadiannya terlalu cepat. aku benar-benar tidak memperhatikan secara detail. Sebuah mobil seperti BMW warna silver mengkilat melaju cepat, entah sengaja atau tidak sengaja, mobil itu menabrak sosok tubuh perempuan yang tengah berjalan tersenyum padaku. Membuat tubuh itu terpental sekitar 2 meter dari tempatnya berdiri. Terhempas keras ke jalanan, sangat keras. Hingga sebuah cairan merah kental keluar deras dari kepala dan hidungnya, bisa ku lihat itu dari tempatku berdiri. Membuat sosok tubuh itu seketika berhenti membuat sebuah gerakan kecil. Tubuhku bergetar, sebuah hawa udara aneh mendesir di seluruh tubuhku, aliran darahku terhenti sesaat, detak jantungku berdebar-debar tak karuan, mataku terbelalak tak percaya. Ap…Apa yang sebenarnya terjadi? A…Aku… dan sontak aku berteriak dengan sangat keras ketika menyadari apa yang telah terjadi.
“ANDDDWAEEEEE !!!!”

 

PART 2

Dan kurasa tiga bulan telah berlalu sejak peristiwa itu, dan hidupku kini berantakan. Benar-benar berantakan. Aku mengalami depresi berat. Tak ada lagi semangat. Putus asa. Tiga bulan terakhir ini aku tidak melakukan hal yang berguna. Yang kulakukan hanya tidur, makan, minum dalam kutipan, dan termenung. Berdiam diri di kamar, menyendiri. Hidupku kurasa telah berakhir. Aku benar-benar kehilangan sebagian dari diriku. Shindong, Yesung, dan Ryeowook, mereka berusaha keras untuk mengembalikan diriku yang dulu. Namun percuma kurasa. Aku hanya membutuhkan Hye Kyo, hanya Hye Kyo. Aku ingin dia kembali, menghiburku, dan membuatku bersemangat kembali. Bukan kah itu tidak sulit? Aku pernah mengatakan hal ini pada mereka, mereka hanya terdiam seribu bahasa. Tak ada kata-kata yang keluar. Mungkin hanya Shindong, dia selalu mengatakan itu tak mungkin, kau tahu Hye Kyo sudah mati, dan sebagainya, aku tidak benar-benar mencerna apa yang dia katakan. Dan itu membuatku sangat marah, benar-benar marah. Dan mungkin aku mengusir mereka atau melempari mereka dengan segalanya yang ada di dekatku. Kemudian aku menangis sejadi-jadinya dan mungkin aku keluar membeli minuman berkadar alkohol tinggi, aku tidak pernah benar-benar meminumnya jika keadaanku tidak seburuk ini, setelah itu aku mabuk, mengigau-igau, meronta-ronta dan menangis di jalanan. Pernah saat itu aku tertidur di jalan karena saking mabuknya, dan untungnya Shindong mencariku dan membopongku sampai ke rumah. Parahnya aku memutahinya tepat di kaos yang baru ia beli seminggu yang lalu. Atau pada Senin malam kurasa, aku berniat membeli minuman lagi di tempat yang sama. Ku putuskan untuk menghabiskan minumanku di halte bus tempat dimana Hye Kyo terakhir kali berada. Kemudian aku merasa benar-benar lelah, aku ingin pulang dan tidur. Dan aku menyebrangi jalanan ini. Aku berhenti di tengah-tengah jalanan ini, menoleh 45 derajat ke arah kiri. Sebuah sinar yang menyilaukan datang mendekat, semakin dekat. Aku hanya menutupi mataku dengan tangan kiriku, mencoba melihat cahaya apa itu. Dan yang aku rasakan aku terhempas keras ke aspal. Sekejap ku kira aku akan mati disini. Tapi tidak, lagi-lagi Shindong menyelamatkanku. Aku bisa melihat tubunya yang super besar mendekatiku.
“Kau gila? Kau ingin mati?” dan aku mendorong tubuhnya, berusaha menjauhkannya dari tubuhku, dan aku berkata tidak sopan terhadapnya. Hingga akhirnya aku berjalan sempoyongan menuju rumah, meninggalkan Shindong di jalanan itu.
TING TONG !
Pagi ini aku benar-benar malas sama seperti biasanya. Ku dengar bel asrama berbunyi, dan aku mengabaikannya. Kini aku tengah berbaring di bawah sofa hanya beralaskan dengan bantal yang ku ambil dari kamarku, memandangi botol-botol minuman kosong yang berserakan di lantai, sekitar terdapat 3 botol, dan salah satunya berada di tanganku. Ku dengar pasangan itu, kau pasti tahu, Ryeowook dan Yesung berlarian bersama mencoba permainan Siapa-Cepat-Dia-Menang, barang siapa yang menyambut tamu paling dulu dia menang, begitu peraturan utamanya, terkekeh geli, dan akhirnya pemenang itu dimenangkan oleh keduanya.
“Nugu seyo?” ku dengar mereka berbarengan mengucapkan demikian. Betul-betul pasangan yang cocok, jika kalau salah satunya adalah seorang perempuan, dan kurasa di lah Ryeowook.
KLEK!
Engsel pintu terbuka dan sebuah suara ku dengar jelas dari tempatku berada.
“Wuoooaaahhh!!” Suara pasangan itu terkejut karena sesuatu, aku tahu itu.
“Aku orang yang akan tinggal bersama kalian mulai saat ini” dan aku rasa setelah dia mengucapkan itu dia menunduk 45 derajat pada pasangan itu.
“Oh, arraseo! Silahkan masuk!” Yseung mempersilahkannya masuk ke asrama ini, bukan kah demikian?
BROK! Suara pintu tertutup.
“Annyeong! Kyuhyun imnida” Ku dengar begitu. Kyuhyun, inisial yang sama dengan Hye Kyo. Hanya saja terbailk KH dan HK.
“Yesung imnida”
“Ryeowook imnida. Kau begitu tampan, Kyuhyun-ah!” dan jitakan Yesung meluncur ke kepala Ryeowook, aku rasa dia cemburu.
“Ah, gomawo. Senang bertemu dengan kalian”
“Kami juga!” serentak mereka, nampaknya sangat bersemangat.
Dan ku dengar langkah mereka mulai semakin mendekat ke arahku. Sepertinya akan duduk di sofa ini, pikirku.
“Silahkan duduk!” Yesung lagi-lagi, dia seperti pramuwisma saja. Dan ku lihat Yesung sudah duduk di atasku, dengan kaki ditekuk hingga seluruhnya benar-benar berada di atas sofa, seperti L tokoh dalam salah satu komik kesukaanku, Death Note, kurasa dia mencoba untuk cool sepertinya. Ryeowook memilih untuk tidak duduk, berdiri disampingku, sekilas menatapku dengan sendu. Dan orang asing ini, duduk tidak jauh dari Yesung, duduk seperti layaknya orang duduk, sangat sopan.
“Sungmin-ah seharusnya kau menyapanya” Ryeowook menatapku. Aku membalasnya dengan erangan, benar-benar malas dengan segalanya. Ku putuskan untuk menyembunyikan wajahku di bantal ini.
“Oh, maafkanlah dia. Dia baru saja kehilangan perempuan yang di sayanginya tiga bulan yang lalu. Ku harap kau mengerti” Yesung menambahkan. Ah, dia benar-benar terlalu bijak.
“Oh… baiklah. Tidak apa-apa. Aku sangat mengerti” Kyuhyun, aku rasa dia sedang menatapku sendu. Sama seperti yang lain. Benar-benar menyebalkan.
Esok paginya dengan penghuni baru di asrama ini, aku, Kyuhyun, dan pasangan itu sedang menatap sebuah tontonan yang aku rasa sangat membosankan. Mungkin hanya Kyuhyun yang menikmati acara itu. Ku lihat pasangan itu, sedang bermesra-mesraan di atas sofa. Aku memlilih duduk di lantai saat ini. Mungkin mereka sedang mencoba membuat salah satunya mati dengan sebuah gelitikan yang mereka buat. Terkekeh-kekeh geli, terutama Ryeowook, dia tidak tahan terhadap sentuhan maksudku gelitikan yang dibuat Yesung, dia ahli mengelitik, aku pernah dibaut mati karena gelitikannya. Dan sebuah getaran besar membuat kami terkejut.

 

PART 3

“Hei! Shindong disini membawa ramen! Siapa yang ingin memasaknya?” Shindong, pantas asrama ini bergetar hebat, hampir saja aku berniat untuk mengerakkan kakiku menyelamatkan nyawaku kalau-kalau itu adalah getaran karena sebuah gempa.
“Biar aku saja!” Aku menoleh, Kyuhyun mengambil tas isi ramen itu dari tangan Shindong. Wajahnya datar, tak ada ekspresi. Tunggu, apa bocah itu kemarin juga menatapku demikian? Jika benar, firasatku salah. Dia, Kyuhyun benar-benar berbeda. Hei, apa yang aku pikirkan? Aku menyukainya? Yang benar saja?
“Mwo? Siapa orang sih orang itu?” Shindong, aku rasa dari nada bicaranya dia tidak munyukai Kyuhyun.
“Dia Kyuhyun, orang baru di asrama kita” Aku angkat bicara, seperti ada sebuah dorongan untuk membela Kyuhyun, entah kenapa?
“Dia aneh. Kau merasa tidak?”
“Aku rasa dia baik” Dan aku melanjutkan pekerjaanku, menonton acara televisi yang sungguh membosankan. Sebal sekali rasanya, Shindong mengatakan Kyuhyun seorang yang aneh.
“Ramennya siap!” Ku dengar Yesung berteriak, Yesung mungkin hanya membantu mencicipi masakan Kyuhyun, Yesung payah dalam hal masak-memasak. Ryeowook begitu bersemangat, bangkit dari duduknya, dan berlari kecil ke ruang makan.
“Akhirnya! Ayo makan.” Shindong mencoba bangkit, aku rasa butuh tenaga dia melakukannya. Bobotnya sekitar 0,1 ton. Mungkin?
“Tidak. Sepertinya aku tidak lapar”
“Ah, kau selalu seperti ini. Ayolah!” dan aku tidak bisa lagi menolaknya, tanganku diseret olehnya hingga aku benar-benar berdiri seutuhnya dengan kedua kakiku. Shindong awalnya meninggalkanku, membiarkanku berjalan sendiri dengan kedua kakiku. Namun, aku malas sekali menjalankan kakiku menuju ruang makan, sangat berat rasanya. Shindong yang mengetahui hal ini langsung saja mendorong tubuhku hingga aku benar-benar berjalan menuju ke ruang dapur. Selalu seperti ini, jika aku malas untuk mengisi perutku, Shindong lah yang selalu beraksi.
Dan kini aku disini, terduduk di sebuah bangku yang menurutku nyaman, sigasana favoritku, ruangan yang berukuran sedang, dimana aku dan yang lainnya selalu mengisi perut kami di ruangan ini. Sebuah ruangan dengan sebuah meja dan 4 kursi biasanya, dan kami menambahkan menjadi 5 kursi sejak hadirnya Kyuhyun disini. Aku hanya terdiam, menunggu Kyuhyun menghadirkan ramen buatanya di meja ini, sedangkan jari-jariku sibuk memainkan sumpit-sumpit ini. Bibirku terkantum rapat, namun bola mataku tak henti-hentinya berputar, mengawasi gerak-gerik pasangan itu. Yesung dan Ryeowook, sudah tradisi, mereka selalu bermesraan, entah dimana mereka berada, sekalipun di meja makan ini, aku tidak percaya ini. Benarkah mereka? Tidak, bukan, tidak mungkin. Yesung, dia sibuk memasangkan sebuah tisu di dada Ryeowook, menyelipkan salah satu ujung tisu tersebut ke dalam kerah baju pasangannya. Seperti layaknya anak kecil yang memakai celemek bayinya, takut ibunya jika makanan yang akan ia suapi mengotori bajunya. Persis yang kini terjadi antara Yesung dan ryeowook. Ryeowook membalasnya dengan senyuman, kemudian melakukan hal yang sama pada Yesung, suaminya, menurutku begitu. Aku benar-benar tidak mengerti, dengan tujuan apa yang mereka lakukan hal bodoh itu?
“Ramen siappp!!” Kyuhyun meletakkan panci berisi ramen matang ini dengan hati-hati, yang harus ku akui, bau ramen ini benar-benar tidak asing dan membuat lambung di perutku meronta-ronta. Sungguh, biasanya jika Shindong membuatnya, atau Ryeowook, aku merasa ogah-ogahan memakannya. Kau tahu mengapa aku tidak menyebut nama Yesung di dalamnya? Karena dia sangat payah dalam hal masak-memasak.
“Kyuhyun-ah… Kau lupa memasukan bawang goreng ke dalamnya?” suara Yesung, dia tidak mau memakan tanpa bawang goreng.
“Oh…Mian! Aku lupa”
“Cepat ambil!” Ryeowook dan Yesung, suara mereka sangat serempak. Tunggu, bawang goreng? Dia lupa menambahkanya? Dia, dia benar-benar seperti Hye Kyo. Hye Kyo sering sekali melupakan tentang bawang goreng. Lupa menaburkannya ke dalam ramen. Hye Kyo? Kyuhyun? Apa yang terjadi? Banyak sekali kemiripan? Aku, aku…sungguh tidak mengerti.
Dan acara makan malam dengan ramen itu telah selesai beberapa jam yang lalu. Begitu cepat, dan membuat pikiranku dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Tentang bawang goreng itu, dan sendok. Hye Kyo tidak ahli memakai sumpit, begitu pula Kyuhyun. Shindong mengolok-oloknya, mengejeknya bahwa Kyuhyun bukanlah orang yang benar-benar berdarah Korea, membuat suasana ruangan makan ini sedikit tegang. Kyuhyun hanya diam menaggapinya, dan entah, lagi-lagi aku membelanya. Saat itu pun, sorot mata Kyuhyun dan aku bertemu. Sorot mata yang benar-benar membuat jantungku terhenti beberapa detik. Ada apa denganku? Aku … Sudahlah, mungkin aku terlalu melebih-lebihkannya. Terlalu menganggap semua hal tentang Kyuhyun adalah juga tentang Hye Kyo. Aku hanya belum benar-benar bisa melupakan perempuan itu. Perempuan yang benar-benar tega membuatku menjadi gila. Dan bodohnya aku, aku terlalu mencintai perempuan itu.
Ku lirik jam dinding bulat merah muda polos tanpa gambar, pukul 10 malam. Ku pikir sudah saatnya aku mengistirahatkan seluruh kinerja tubuhku. Benar-benar lelah dengan semua hal hari ini, terutama orang pindahan itu, Kyuhyun. Aku menghela nafas panjang, berusaha menenangkan diriku. Ku tatap seprai kasurku, sapphire blue warnanya, sepertinya aku harus mengantinya dengan yang baru. Rindu dengan seprai kasur merah mudaku. Dan akhirnya aku melipatnya, tidak, bukan melipat lebih tepatnya, hanya mengulung sembarang, benar-benar tidak teratur. Kedua tanganku pun memeluk gundukan seprai itu, mengangkatnya dan membawanya ke almari serba guna di ruang depan. Sungguh berat untuk pria sepertiku. Seprai ini menutupi wajahku, sehingga aku hanya mengira-ira dengan kaki-kakiku kemana aku harus pergi. Aku tidak bisa melihat, ini terlalu besar, dan membuat wajahku termakan oleh gundukan ini. Perlahan-lahan, tiga langkah lagi harus belok ke kanan, keluar dari kamarku. Kemudian berjalan kira-kira 7 sampai 8 langkah, dan aku akan sampai. Itu mudah, hanya perlu insting. Dan aku mulai melangkahkan kaki-kakiku. 1 2 dan 3, berhasil. Aku membelokan kaki kiriku ke arah kanan, 8 langkah lagi kurasa, aku menghitungnya tadi. 1 2 3 dan BROOOKKK !!! Sesuatu membuat tubuhku terhempas ke lantai keras, dan seprai ini terpelanting ke atas, entah jatuh dimana aku tidak memikirkannya. Sempat terbesit dipikirku, mungkin aku salah perhitungan, mungkin saja 3 langkah seharusnya aku sudah sampai. Tapi salah, ini karena sesuatu, dan sesuatu itu berada di atas tubuhku. Sesuatu yang membuat jantungku, kali ini benar-benar tidak karuan. Sesuatu itu menyentuh bibirku dengan cepat tapi sangat lembut. Aku dan sesuatu itu, wajahku dan wajahnya, hanya beberapa senti saja. Matanya tajam menatapku. Aku hanya menatap mata tajamnya, diam di bawah tubuhnya yang menimpaku, tidak berkutik, mencoba memahami apa yang terjadi. Sesuatu itu, Kyuhyun, beberapa detik yang lalu, dia mencium bibirku.

TO BE CONTINUE …

Advertisements

[FF YAOI SHINee ONESHOT] PENDING MESSAGE

16 February 2011 at 10:14 PM | Posted in FF ( FanFiction ), SHINee | 1 Comment
Tags: , , , , , , ,

Main Cast: Pairing OnKey

Cast:

  • Miss-A Min
  • Tiara Eunjung
  • Choi Minho
  • Kara Gyuri
  • Kim Jonghyun

Rating: PG 15

Genre: Romance

Author: Kim JongGey

 

Selalu! Pesanku sebelum kalian membaca FF YAOI adalah.. anggap saja kalian sedang berada di dunia dimana tidak ada perbedaan gender. Namja berpasangan dengan namja adalah hal yang biasa di dunia ini. Tapi bukan berarti namja menyukai yeoja adalah hal yang dilarang didunia YAOI..

RCL please..

 

 

Jinki POV

***

 

Rumah lamaku. Warna dindingnya tidak seputih dulu. Pada beberapa sisi bahkan catnya sudah terkelupas. Lantai teras penuh dengan daun kering berserakan, angin membuatnya berkumpul didekat kursi yang sudah berkarat. Tak ada tanda kehidupan. Tak ada yang merawatnya lagi.

 

***

 

Sudah beberapa hari ini kau sering memimpikan rumahku yang dulu. Sudah berapa tahun aku tidak melihatnya? Tujuh tahun setengah? Delapan tahun? Yang pasti sudah cukup lama.

Terakhir kali aku melihat rumahku saat aku lulus SMA. Aku tumbuh besar disana, aku bahkan lahir disana. Sedikit merindukan rumah lamaku memang… Agak menyedihkan melihatnya tidak terawat  dalam mimpiku.

 

Aku mengambil kopi dan meneguknya sedikit. Masih panas. Kutaruh kembali gelas kopiku dimeja makan dan kugosokan rambut basahku dengan handuk. Aku selalu sarapan hanya dengan segelas kopi. Aku tidak bisa memasak. Umma bilang jika aku sudah menikah maka aku bisa sarapan minimal dengan telur mata sapi. Sebenarnya..memang sudah berniat untuk melamar yeoja yang sudah menjadi pacarku selama dua tahun ini. Aku sudah menyiapkan cincinnya. Tapi entah mengapa selalu kuurungkan niatku.

Satu minggu yang penuh rencana. Mulai dari merencanakan melamarnya saat makan malam, hingga rencana melamarnya saat menonton bioskop. Awalnya selalu berjalan dengan lancar. Tapi berakhir dengan keragu-raguanku mengeluarkan cincinnya, sehingga aku mengurungkan niatku.

 

Kurogoh saku celanaku dengan tangan kiriku, tangan kananku mengendalikan setir. Kuambil kotak cincin dari dalam saku. Cincin yang indah. Kuyakin setiap yeoja pasti akan menyukainya.

Hari ini harus berhasil. Aku tidak mau sendirian di apartemenku. Mengapa melamar seseorang begitu membebani hidupmu?

 

Drrrttttt…ddrrrrrrrtttttttttt…

Kutepikan mobilku. Berbahaya apabila menelefon sambil menyetir bukan? Aku tidak mau mengambil resiko.

Eunjung calling?

“Ne yoebo??”

“Mwo? Kau di Incheon?”

“Temanmu menikah?”

“Ne..arraso..”

Haahhhh…apa rencanaku melamarnya gagal lagi hari ini? kenapa tiba-tiba temannya menikah? Apa aku susul saja ke Incheon? Tidak terlalu jauh kan? Mungkin dengan mengejutkannya akan sedikit lebih romantis.

 

Aku kembali menjalankan mobilku. Tujuan berikutnya, Incheon.

 

Satu setengah jam perjalanan. Aku agak ngebut. Kini aku sudah berada di daerah Incheon. Kulihat plang tanda aku sudah memasuki daerah Incheon. Tidak banyak berubah, hampir sama seperti terakhir kali aku melihatnya, delapan tahun yang lalu.

Incheon. Kota kelahiranku.

Kupelankan mobilku. Aku sedang melewati daerah perumahan dimana aku tinggal dulu. Kulihat daerah ini banyak berubah, lebih tertata rapih.

Kuinjak gas lebih dalam setelah melewatinya. Aku harus segera bertemu Eunjung. Dimana pernikahannya? Eunjung tidak memberitahuku.. tidak mungkin aku menelefon dan bertanya padanya. Tidak akan menjadi kejutan. Aisshhhhh!! Pabo! Aku menyusul seseorang yang aku tidak tahu keberadaannya.

Aku teringat kembali rumahku.. aku sudah berada di Incheon. Aku memutar balik mobilku. Lebih baik aku menengok rumah lamaku saja.

 

Masih bisa kuingat dengan jelas arah menuju rumahku. Aku menghentikan mobilku. Kupandangi rumahku yang dulu dari dalam mobil. Sama persis seperti dalam mimpiku. Warna dindingnya tidak seputih dulu, bahkan catnya sudah terkelupas. Lantai teras penuh dengan daun kering berserakan, kursi yang berada diteraspun sudah berkarat.

 

Dok dok dok

 

Seorang yeoja mengetuk kaca jendela mobilku. Rambutnya pendek sebahu, manis. Kuturunkan kaca jendela mobilku.

“Ne??” tanyaku.

“Mobilmu menghalangi, akan sulit bagi kami untuk memasukan mobil kami ke garasi..bisa kau maju sedikit?” pintanya. Dia menunjuk mobilnya yang ada dibelakangku. Kulihat dari kaca spionku, mobil sedan hitam itu masih menyala, ada seseorang didalamnya.

“ohh..ne..” aku menghidupkan kembali mobilku dan memasukannya ke garasi rumah lamaku. Yahh..ini lah salah satu alasan mengapa kami pindah. Jalannya sempit.

Kuperhatikan mobil sedan hitam itu memasuki rumah di depan rumahku. Bukankah itu rumah Min? apa yeoja tadi itu Min?

Yeoja tadi berlari kearahku, dia hendak mengetuk kaca jendelaku tapi sudah kuturunkan terlebih dahulu.

“Padahal kau tidak perlu masuk ke garasi ini, kau cukup maju sedikit..” dia gak menunduk, untuk mengimbangi tinggiku.

“Gwenchana..aku memang ingin melihat-lihat rumah lamaku..”

“Jinki oppa??” tanyanya.

“Bukankah kau Min?” aku balik bertanya. Kami tertawa.

“Seharusnya aku sudah mengenalmu dari matamu yang sipit..” aissshhh yeoja ini, baru bertemu sudah berani meledekku.

“Kau juga Min..tidak bertambah tinggi? Tinggimu tetap sama seperti delapan tahun yang lalu..bukankah saat itu kau masih SMP? Seharusnya kau sudah kuliah sekarang, dan kau sudah bertambah tinggi seharusnya..” aku balas meledek. Min memanyunkan bibirnya, dia mengepalkan tangannya dan mengayunkannya kearahku.

“Ahahahah..kau tidak banyak berubah Min..” aku menutup kaca jendelaku dan keluar dari mobilku.

“Kau mau masuk kedalam rumahmu?” tanya Min.

“Ahni! Aku tidak membawa kunci rumahku..aku hanya ingin melihatnya dari luar saja..” jawabku.

 

Bip!

 

Aku mungunci mobilku. Kulihat rumahku tampak seram dari dekat, seperti rumah hantu.

“Oppa, kau mau berkunjung kerumahku? Akan kubuatkan kau jus..kau lelah kan?” Min menaiki anak tangga didepanku sehingga membuatnya lebih tinggi, tapi tetap tidak lebih tinggi dariku.

“Jus?? Sepertinya segar..” jawabku. Aku menaiki anak tangga yang sama, sehingga aku semakin lebih tinggi darinya. Kulihat Min menyipitkan matanya, dia kesal.

“Umma dan appa sedang ada dirumah..mereka pasti terkejut jika melihat namja yang sering mencuri tomat dihalamannya..”

“Mereka masih ingat?? Kalau begitu aku pulang saja..” aku hendak membuka pintu mobilku tapi Min menahannya.

“Ayolah oppa..aku hanya bercanda..”

“Kalau begitu aku mau dua gelas jus.. dan ayam goreng.. aku lapar..”

“Hanya itu permintaan terakhirmu sebelum dihukum umma dan appa??”

“Kalau ini permintaan terakhirku.. aku mau ayam goreng yang ada di seluruh korea..”

“Ayam goreng belum pergi dari otakmu oppa??” Min menjitak kepalaku.

“Aaoowww..” jitakannya cukup keras. Kepalaku sakit.

“Ayo oppa..” Min menuntun tanganku menuju rumahnya.

 

Aku memasuki halamannya.. ahjussi masih gemar menanam pohon tomat dihalamannya. Tomatnya sudah matang, warna merahnya seperti menantangku untuk memetiknya.

“Aigoo..Kenapa kau lama sekali..” seorang namja keluar dari dalam rumah Min. Melihatnya sempat membuatku menghentikan nafasku.

Kibum. Dia tidak banyak berubah.

Kibum pun sepertinya terkejut bertemu denganku. Bagaimana dia bisa berada dirumah Min?

“Ah! Jinki oppa..perkenalkan..ini..”

“Kami sudah kenal..” jawabku.

“Benarkah??”

“Kami satu SMA..” aku tersenyum pada Min.

 

Aku duduk di meja makan, berbincang dengan paman dan bibi. Aku bisa melihat jelas kearah dapur dari tempat dudukku. Min dan Kibum sedang membuat Jus. Hubungan mereka sepertinya sudah sangat dekat. Kibum lebih tua dari Min..apa mereka pacaran? Setahuku Kibum berpacaran dengan Jonghyun. Hhhhh.. Itu delapan tahun yang lalu, semuanya bisa berubah kan?

“Kapan kau menikah?? Usiamu sudah cukup untuk menikah bukan??” bibi menanyakan sesuatu yang membuatku kembali teringat pada Eunjung. Melihat Kibum aku menjadi lupa akan Eunjung.

“Aku..sedang akan melamarnya bi..”

“Benarkah?? Kalau begini aku juga sudah tidak sabar ingin menikahkan Min..” apa? Apa Min akan menikah dengan Kibum? Aku melihat kearah dapur, Min sedang menyuapkan stroberi kemulut Kibum.

“Chaggy..Min masih muda..” paman tampaknya tidak setuju dengan rencana bibi. Syukurlah.

“Tidak apa-apa..untuk yeoja dia sudah cukup umur..” bibi tetap mempertahankan keinginannya.

 

Min datang dari arah dapur dengan membawa nampan berisi beberapa gelas jus stroberi.

“Ini untuk appa..umma..” Min menaruh gelas didepan bibi dan paman dengan hati-hati.

“Gomawo..” paman meminumnya.

“Ini untuk Jinki oppa..” Min memberikanku dua gelas jus stroberi. Ahahah..yeoja ini mendengar dengan baik.

“Gomawo..” Min menaruh nampannya dikursi yang tidak terisi.

Kibum datang dengan membawa dua gelas jus ditangannya. Dia memberikan satu gelas kepada Min dan menyimpan sisanya diatas meja kemudian dia duduk di kursi, di depan Min. Di depanku juga, hanya agak sedikit lebih ke kiri.

“Kibumie..” bibi memanggil Kibum dengan sebutan kecilnya.

“Ne??” Kibum meminum jusnya.

“Kapan kau siap menikah?” pertanyaan dari bibi membuatnya langsung tersedak.

“Umma! Jangan tanyakan itu..” Min memanyunkan bibirnya lagi.

“Kalau begitu kapan kau siap menikah Min??” tanya bibi kepada Min.

“Chaggy..” paman berusaha menghentikan pembicaraan ini.

“Jangan tanyakan hal itu juga padaku..kenapa umma selalu bertanya kepada setiap orang kapan mereka akan menikah..” jawab Min.

“Karena aku ingin kau cepat menikah.. Jinki pun akan menikah dalam waktu dekat ini..dia sudah akan melamar pacarnya..” bibi memberitahu rencanaku untuk melamar? Aissshh..kenapa dia harus mengatakannya di depan Kibum.

“Mwo?? Benarkah itu oppa??” tanya Min. Kulirik sedikit kearah Kibum. Dia memandangiku tidak percaya dengan apa yang dikatakan bibi. Kenapa kau seperti kecewa? Bukankah kau juga akan menikah dengan Min?

 

“Ah..sepertinya aku meninggalkan buku Min dimobil..akan kuambilkan dulu..” Kibum beranjak dari tempat duduk. Langkahnya cepat sekali, seperti tergesa-gesa.

“Jinki? kudengar kau satu SMA dengan Kibum..” akhirnya bibi tidak membicarakan pernikahan lagi. Tapi tetap saja aku tidak suka dia membicarakan Kibum.

“Ne” jawabku singkat.

“Apa Kibum sudah pandai bermain piano sejak SMA? Dia pandai sekali bermain piano..”

“Kami satu ekskul saat SMA..kami mengambil ekskul musik..piano..” jawabku.

“Kibum oppa bahkan bisa mengajariku piano lebih baik dari guru privat pianoku yang sebelumnya..aku akan turut mengisi pertunjukan musik klasik minggu depan” Min terlihat bangga sekali.

“Kibum guru privatmu??” tanyaku.

“Ne”

“Kukira dia namjacingumu..”

“Ahniyo oppa.. ahahha..bagaimana bisa kau berfikir seperti itu?” apa? Bukan pacar Min?

“Ahni..hanya saja..”

 

Kibum kembali dengan membawa sebuah buku.

“Min yang..ini buku yang akan kupinjamkan..pelajarilah dengan baik malam ini..” Kibum memberikan bukunya pada Min.

“Ne oppa”

“Aku ada urusan mendadak..sepertinya aku harus pulang lebih cepat..” Kibum melihat jam tangannya.

“Kau bahkan belum menghabiskan jusmu Kibumie..” bibi menahannya pulang, entah kenapa aku juga ingin menahannya agar tidak pulang.

“Mianhe bi..benar-benar urusan mendadak..” Kibum tersenyum kepada bibi dan paman.

“Baiklah kalau begitu..hati-hati dijalan..” aku ingin sekali berdiri dan menahannya tetap disini.

“Annyeong..” Kibum pergi. Dia melambaikan tangannya sekali kemudian berlari keluar rumah.

 

Hatiku tidak tenang saat Kibum pergi. Bagaimana jika aku tidak bisa bertemu dengannya lagi?

 

“Aku lupa..aku juga harus segera pergi..” aku menghabiskan jusku oneshot sebelum berdiri.

“Kenapa hari ini semua orang tampak tergesa-gesa..” keluh paman.

Aku berdiri kemudian membungkuk. “Kamzahamnida bibi..paman..Min..aku benar-benar harus pergi..”

“Eh tapi..” Min mencoba mencegahku. Aku buru-buru pergi, menyusul Kibum.

 

Kulihat Kibum sudah memundurkan mobilnya keluar dari garasi. Aku berlari menghapiri mobilnya tapi dia sudah menancapkan gasnya. Aku berlari menuju mobilku. Kubuka mobilku dan kupasang sabuk pengamanku dengan tergesa-gesa kemudian kunyalakan mobilku.

 

Aku sudah kehilangan jejaknya. Aku tidak melihat sedan hitam didepanku. Tuhan, aku tidak ingin kehilangannya lagi kali ini.

 

***

 

Flashback

 

“Kudengar sebenarnya Kibum menyukaimu..” Minho membisikiku.

“Apa maksudmu? Kibum dan Jonghyun berpacaran kan?” aku balas berbisik. Kami sedang mendengarkan pidato kelulusanku.

“Aku tidak yakin mereka pacaran..aku rasa mereka hanya dekat saja..”

“sssttttt!!!” seseorang menyuruh kami diam. Minho sudah berbisik, hanya saja suara bassnya tetap terdengar meski berbisik.

Minho tidak menggubrisnya dan tetap berbisik kepadaku. “Bukankah Kibum selalu mau saat kau ajak kencan? Aku rasa dia sudah memberimu sinyal..”

“Aku tidak yakin..” jawabku.

“Tapi..”

“Sssstttt!! Bisakah kalian tidak berisik?” bahkan siketua OSIS Park Gyuri menyuruh kami untuk diam. Dan akhirnya kami terdiam.

 

//

 

“Mwo?? Aku diterima??” aku tidak mempercayai berita yang disampaikan umma, aku diterima di universitas favoritku.

“Ne..appa sudah mendapatkan rumah baru di dekat universitasmu..disana lingkungannya lebih ramah..”

“Kita akan pindah sekarang?? Bukankah umma bilang tahun depan?” kami akan pindah.. hal pertama yang kupikirkan adalah.. aku tidak akan bertemu Kibum lagi..

“Lebih baik sekarang..lagi pula kau akan kuliah.. daripada kau tinggal di asrama..” yang ada dipikranku saat ini hanyalah bagaimana jika aku tidak bisa bertemu dengan Kibum lagi.

Aku ambil jaketku dan kupakai sepatuku. Aku kembali kesekolah. Menemui Kibum. Jika hari ini hari terakhirku bertemu dengannya, aku akan menyatakan perasaanku padanya.

Aku mencarinya di ruang klub musik. Dia tidak ada. Sekolah belum sepi. Masih ada anak OSIS yang sedang rapat. Aku memutuskan untuk memberinya pesan agar menemuiku diruang klub musik.

Kusenderkan punggungku didinding dan kuturunkan tubuhku perlahan hingga aku terduduk dilantai. Aku lelah sekali sudah berlari kemari. Aku mulai membuka handphoneku dan mengirim pesan kepada Kibum.

 

To: Kim Kibum

Bisakah kita bertemu di klub musik sekarang?? Ada yang ingin kubicarakan.

Send.

Aku terus menunggunya di klub musik. Aku memainkan piano salama menunggunya. Sudah beberapa jam aku disini, Kibum belum juga datang. Dia bahkan tidak membalas pesanku.

 

Bosan memainkan piano, aku duduk didekat jendela. Dari sini aku bisa melihat gerbang sekolah, aku bisa melihat orang yang masuk dan keluar gerbang. Langit sudah merah. Aku akan menunggu sebentar lagi.

 

Sekarang langit sudah gelap. Kunyalakan lampu ruangan. Dan aku kembali duduk didekat jendela. Terus mengawasi gerbang sekolah, mengawasi sesosok namja yang aku tunggu datang dari gerbang itu.

 

Sudah jam sembilan malam. Sampai kapan aku harus menunggu?

 

“Apa ada orang?” Gyuri masuk ke ruang musik.

“Ne..aku..” jawabku.

“pantas saja lampunya menyala..sedang apa kau disini?”

“Mengenang ruangan ini..” jawabku.

“Belum bisa lepas huh? Kita harus segera pulang..gerbang akan dikunci..”

Aku melihat kearah gerbang sekali lagi. Memang sepertinya Kibum tidak akan datang.

“Ne..” aku melangkah menuju pintu.

Kulihat kembali ruang musik ini untuk yang terakhir kalinya sebelum aku menutup pintu. Kututup pintu ruang musik. Sama seperti aku menutup hatiku untuk Kibum.

***

 

Sambil menyetir aku terus memperhatikan kiri dan kananku, siapa tahu Kibum berbelok. Aku terus mengikuti arah keluar dari perumahan ini.

 

Ketemu!

 

Untung saja ada antrian mobil yang akan menyebrang sehingga jalan agak sedikit macet. Mobil Kibum tepat berada didepanku saat ini.

 

Aku terus mengikutinya. Menempel ketat mobil Kibum.

 

Kibum menepikan mobilnya. Dia tahu aku mengikutinya. Aku menepikan mobilku di depan mobil Kibum.

Kibum keluar dari mobilnya dan mengunci pintu mobilnya kemudian mendekati mobilku. Aku turun dari mobilku, tapi Kibum memberikan isyarat kalau dia akan masuk ke mobilku. Kibum membuka pintu penumpang dan masuk kedalam mobilku. Aku masuk kembali kedalam mobilku.

“Kenapa kau mengikutiku?”

Aku terdiam menatap wajahnya. Aku tidak tahu jawaban untuk pertanyaannya barusan. Kenapa aku harus mengikutinya?

“Apa kau akan mengundangku ke pernikahanmu?” mata kibum merah, seperti habis menangis.

“Pasang sabuk pengamanmu” aku memasang sabuk pengamanku kemudian menghidupkan mesin mobilku.

“Kau akan membawaku kemana? Aku membawa mobilku sendiri..” aku tidak menghiraukan protes Kibum dan terus menginjak gas. Kibum akhirnya terpaksa memasang sabuk pengamannya.

 

“Kau tidak datang..” aku terus menyetir, pandanganku terus kejalan.

“Aku tidak bisa datang..” jawabnya.

“Kenapa kau tidak pernah membalas pesanku?”

“Aku membalas..hanya saja terus pending..” aku mengganti gigi dan menginjak rem. Lampu merah.

“Aku terus menunggumu hingga malam” aku menatap matanya. Matanya terus berkedip dan mengalihkan pandangannya seperti terganggu dengan tatapanku.

“Aku balas pesanmu, aku tidak bisa datang..”

“Aku tidak menerima balasanmu”

“Baiklah! entah ini salahku atau bukan anggaplah ini salahku..aku membalas pesanmu tetapi tetap pending..aku terus mengirim pesan yang sama hingga akhirnya semua pesan itu gagal..aku juga sulit mendapatkan sinyal untuk menelefonmu..mungkin karena aku sedang berada dirumah sakit..aku tidak bisa menemuimu karena umma masuk rumah sakit..” lampu hijau menyala setelah penjelasan Kibum selesai. Aku kembali mengoper gigi dan menginjak gas.

“Keesokan harinya aku mencoba untuk menelefonmu tapi nomormu sudah tidak aktif..”

“Aku..mengganti nomorku..aku kira kau memang berpacaran dengan Jonghyun..”

“Semua orang tahu Jonghyun sahabatku..”

“Apa kau akan datang jika ibumu tidak masuk rumah sakit?”

“Tentu saja aku akan datang..aku selalu datang setiap kali kau menyuruhku datang..” Kibum memalingkan wajahnya keluar jendela.

 

Kami diam. Kami tidak berkata apa-apa lagi. Aku terus memikirkan perkataannya. Sebenarnya ini salah siapa?

Aku tidak bisa berfikir jernih sambil menyetir. Aku menepikan mobilku dan mematikan mesinnya. Kulihat Kibum masih menatap keluar jendela.

 

“Apa kau ingin aku menikah? Aku akan melamar eunjung hari ini..”

“heuh..eunjung..” dia terus menatap keluar jendela.

“Kibum? Kau ingin aku melanjutkan melamarnya atau tidak??” Kibum akhirnya menatapku. Matanya sudah berair.

“Kau pikir aku mau kau menikah dengan eunjung?? Kau pikir kenapa aku terus menunggumu sampai saat ini? pertanyaanmu benar-benar bodoh Jinki..” Kibum sudah meneteskan air matanya.

Aku menangkup wajahnya dan mengecup bibirnya lembut. Kutatap matanya dalam, dia tampak terkejut.

“Orang yang selama ini aku cintai..hanya kau Kibum..” air mata Kibum semakin deras. Aku memeluknya erat, membiarkannya menangis dipelukanku.

 

“sepertinya orang yang akan kulamar hari ini adalah kau Kibum..” aku mengambil kotak cincin dari saku celanaku. Rasanya berbeda saat aku mengambilkannya untuk Kibum. Tanganku ringan, tidak ada beban sedikit pun.

“Aku tidak mau”

“Mwo?? Aku kira kau juga mencintaiku??”

“Aku tidak mau cincin itu.. kau memikirkan eunjung saat membelinya bukan?? Belikan aku cincin yang baru..kemudian kembalilah untuk melamarku..”

“Baiklah..besok aku akan kembali dengan cincin yang baru..”

“Kau juga harus sudah memberitahu eunjung tentang hal ini..bicaralah baik-baik..jangan sampai dia terluka..”

“Arraso..” Aku mengecup keningnya kali ini.

 

~ THE END ~

 

(FF YAOI ONESHOOT SHINee) VANILLA ICE CREAM

16 February 2011 at 10:08 PM | Posted in FF ( FanFiction ), Super Junior | 1 Comment
Tags: , , , , , ,

Main Cast: Pairing 2Min

Cast:

Onkey

Dongwoon (beast)

Shindong (Suju)

Wooyong (2PM)

Rating:G

Genre: Romance

 

author: Kim JongGey

Bagi yang belum terbiasa membaca FF YAOI, tips dari Kim Jong Gey adalah anggap saja kalian sedang berada di dunia dimana tidak ada perbedaan gender. Namja berpasangan dengan namja adalah hal yang biasa di dunia ini. Tapi bukan berarti namja menyukai yeoja adalah hal yang dilarang didunia YAOI..

RCL!!

Minho POV

Ting~ Tong~

 

Aisshhhh..tolong jangan dia lagi..

 

Ting~ Tong~

 

“SEBENTAR!!” tamu yang gak sabaran!

 

Langkahku berat sekali menuju pintu. Aku tidak suka tamuku yang satu ini.

 

Kubuka pintuku dengan agak kasar. Agar tamuku tahu kalau aku sama sekali tidak mengharapkan kedatangannya.

 

Well.. sudah kuduga. Namja ini datang dengan membawa bucket es krim vanilla, lagi!

 

“Apa ini milikmu??” dia mengangkat bucket ice creamnya.

“Bukan..” aku menutup kembali pintuku. Aku sudah bosan menjawab pertanyaan yang sama hampir setiap hari.

 

Ting~ Tong~

 

Tak usah dihiraukan Minho! Anggap saja kau tidak mendengarkan belnya berbunyi. Aku membenamkan tubuhku disofa, dan menutup kepalaku dengan bantal kursi.

 

Ting~ Tong~

 

Jangan hiraukan. Sebentar lagi dia akan menyerah dan pergi.

 

Ting~ Tong~

 

Arrggghhhh!!! Menyebalkan sekali namja ini!

Dengan terpaksa aku membukakan lagi pintu untuknya.

 

“Kau tahu berapa suhu udara malam ini? minus 15 derajat! Dan kau masih mengirimku ice cream??” namja ini langsung mengoceh saat aku membuka pintu.

“Hey! Sudah kukatakan berapa kali kalau ice cream itu bukan milikku! Dan bukan aku yang mengirimkan ice cream itu kerumahmu! Untuk apa aku melakukannya?” aku hendak menutup kembali pintuku, tapi namja ini menahannya dengan bucket ice creamnya.

“Kalau begitu kenapa nama Choi Minho bisa ada di kartu pengirimnya?” dengan kuat dia menyodorkan paksa bucket ice creamnya ke dadaku. Dingin sekali saat dadaku terkena bucket ice cream. Aku hendak menjauhkan bucket ice creamnya dari dadaku, tapi si namja menyebalkan ini melepaskan pegangannya sehingga kini bucket ice creamnya ada ditanganku.

“YA! Taemin!!” dia tidak menghiraukan panggilanku dan terus melangkah pulang kerumahnya.

 

“Taemin!!” aku terus memanggilnya, aku ingin dia mengambil kembali ice cream ini.

Dia tetap tidak menghiraukanku, dia sudah sampai didepan pintu rumahnya sekarang.

 

BAM!!!

Dia membanting pintu rumahnya. Apa maksudnya? Seharusnya aku yang marah..

Aisshhh!! Taemin yang menyebalkan!

 

Oke! Ini bucket ice cream ke delapan yang menghiasi kulkasku. Kulkasku kini penuh dengan ice cream vanilla. Ice cream vanilla dengan kartu atas nama Choi Minho yang dikirimkan untuk Lee Taemin. Aneh sekali! Aku tidak pernah merasa mengirimkan ice cream ini untuk Taemin. Siapa yang mengirimkannya? Siapapun orangnya, dia sudah berhasil membuat hubunganku dengan tetanggaku semakin buruk. Hubunganku dengan Taemin memang sudah memburuk sebelum munculnya ice cream ini. Tapi sekarang semakin buruk saja.

 

//

 

Whoaammmm~..pagi yang dingin. Aku harus memasak sarapunku sendiri. Umma dan appa belum pulang dari kunjungan mereka ke rumah saudara di Busan. Aku ingin omelete hangat dipagi yang dingin ini, sereal tidak akan membuat perutku hangat. Sedikit kerepotan dengan memasak sarapan sendiri. Semoga tidak terlambat ke sekolah.

 

//

 

Hhhaaaahhhh!!! Sedikit menyesali keputusanku untuk sarapan dengan omelete pagi ini. Andai aku lebih memilih sereal, aku pasti akan pergi kesekolah lebih awal dan tidak akan melihat Taemin berjalan didepanku.

Pemandangan yang merusak mataku. Taemin asik bercengkrama dengan yeoja-yeoja disampingnya. Dia pasti mengeluarkan senyuman cute andalannya untuk menarik perhatian yeoja-yeoja tersebut. Yah..harus kuakui senyumannya memang cute, dan membuatnya menjadi lebih cantik dari yeoja-yeoja disampingnya. Tapi senyuman itu sudah tidak mempan lagi terhadapku.

 

Kruueekkk~

aku tidak memperhatikan jalanku dan menginjak botol kaleng minuman yang sudah kosong. Gara-gara Taemin!

Lagi pula kaleng ini menghalangi jalanku saja! Aku menendangnya ke sudut jalan dan mengarahkannya agar masuk keselokan.

 

Klontangg~ tangg~ tanggg~

 

Tendanganku terlalu keras. Suaranya nyaring sekali, sehingga membuat Taemin menoleh kebelakang dan melihatku dibelakangnya. Huh! Dia pasti berfikir aku mengikutinya. Kaleng bodoh! Kenapa kau berisik sekali.

Taemin melihatku kemudian bertingkah seolah-olah tidak melihatku. Dia melanjutkan rayuannya kepada yeoja-yeoja centil itu. Cih! Sudah jangan perdulikan aku! Lihat saja sampai Kibum memergokimu sedang bermesraan bersama yeoja-yeoja itu. Kau pasti akan dicampakannya.

 

“Taemin ah!!!” haihhhh..suara nyaring itu. Pasti Kibum. Tamatlah sudah kau Taemin.

 

Kibum datang dari arah belakangku dan berlari menuju Taemin. Dengan sigap Kibum langsung menggandeng tangan Taemin. Dengan tatapannya yang seperti nenek sihir, Kibum berhasil membuat yeoja-yeoja yang berada disamping Taemin pergi meninggalkan mereka berdua. Kibum tidak marah? Bukankah dia sudah menangkap basah Taemin sedang berselingkuh? Hubungan mereka benar-benar tidak sehat.

 

Kibum melirik kearahku. Apa Kibum?? Kemudian dia menarik Taemin pergi menjauhiku. Apa maksudnya? Kau pikir aku akan merebut Taemin darimu? No thanks! Ambil saja Taemin, aku tidak butuh!Yah..dia harus bekerja ekstra untuk melindungi Taemin dari yeoja ataupun namja yang akan merebut Taemin dari sisinya.

 

Kibum dan Taemin.. bukan pasangan yang serasi. Aku lebih suka kalau Taemin mencari namja lain. Jonghyun misalnya. Atau Jinki. Setidaknya bukan namja yang senang mengatur kehidupan Taemin. Apa yang harus dikenakan Taemin hari ini, model rambut apa yang bagus untuk hari ini, makanan apa yang enak hari ini.. Kibum terus saja mengatur Taemin. Heran, kenapa Taemin betah sekali diperlakukan seperti itu?

 

//

Sepertinya aku dan Taemin berjodoh hari ini. Kelasku dan kelas Taemin pulang lebih awal, memaksaku berjalan dibelakan Taemin lagi. Taemin menggosok-gosokan kedua tangannya kemudian meniupnya. Dia kedinginan rupanya. Dimana Kibum? Dia meninggalkan Taemin sendiri? Aku tidak akan membiarkan Taemin pulang sendirian jika aku jadi Kibum. Taemin sering dibully namja-namja yang iri padanya. Membiarkannya sendirian berarti melepaskan Taemin ke alam liar yang penuh dengan serigala.

 

Bugh!

 

“Ya! Taemin! Bisa tidak kau berjalan dengan benar?” dongwoon, namja itu langsung membentak Taemin karena sedikit tersenggol Taemin.

“Mianhe hyung, aku tidak sengaja” Taemin berusaha meninggalkan Dongwoon.

Aku rasa Dongwoon sudang sangat membenci Taemin, terlebih lagi setelah Taemin merebut Kibum dari tangan Dongwoon. Dongwoon tidak membiarkan Taemin melewatinya. Aigooo.. apa aku harus turun tangan? Taemin tidak pernah bisa membela dirinya sendiri.

 

“Hyung..aku benar-benar minta maaf.. aku tidak bermaksud menyenggolmu..” Taemin bersikeras lepas dari cengkraman Dongwoon.

“Aissshhh!! Kau ini! urusanku belum selesai! Selalu bersikap manis di depan semua orang! Cih! Menjijikan!” Dongwoon mendorong kepala Taemin? Melihat itu aku sangat marah. Sepertinya aku memang harus turun tangan.

“Ya! Dongwoon! Dia bilang tidak sengaja! Kenapa tak kau lepaskan saja!” aku menarik Taemin hingga terlepas dari genggaman Dongwoon.

“Minho ya! Membela mantan pacarmu huh? Kau tidak membencinya lagi?” aissshh..namja ini menyebalkan sekali.

“Apa urusanmu?” aku menantangnya. Aku yakin dia tidak akan berani.

“ Taemin!! Kau selamat hari ini!” dongwoon segera pergi meninggalkan kami. Sudah kubilang, Dongwoon hanya berani pada Taemin apabila Taemin sendirian.

 

“Gwencana??” aku berusaha untuk menanyakan keadaanya, tapi Taemin malah tidak menggubrisku dan pergi. Bagus!

“Kau tidak tahu bagaimana cara berterima kasih??” aku berjalan mendahuluinya kemudian berjalan mundur, sehingga kami berhadap-hadapan sekarang.

“Kenapa kau peduli?” taemin memalingkan pandangannya, menghindari bertatapan denganku.

“Hey Taemin.. seharusnya aku yang marah! Kau sudah menghianatiku!” taemin menghentikan langkahnya dan menatapku kesal. Bodohnya aku mengungkit masa lalu.

“Bukankah kau tidak suka mengungkit masa lalu Minho hyung??” aneh rasanya mendengar Taemin memanggilku hyung, aku sudah terbiasa diapanggil yeobo olehnya.

“Itu karena hatiku sakit sekali saat kau bersama Kibum..”

“Apa yang kau ketahui hyung?? Kau bahkan tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan..” Taemin memutar bola matanya dan melanjutkan langkahnya.

“Untuk apa kau menjelaskannya.. kau sudah bersama Kibum sekarang..semuanya sudah jelas bagiku..” dia menghentikan langkahnya lagi, dan berjalan mendekatiku. Matanya seperti ingin memakanku.

“Pergilah jauh-jauh! Dan jangan mengirimku ice cream lagi!” Taemin mendorong tubuhku dengan kedua tangannya, membuatku melangkah mundur. Dorongannya tidak cukup kuat untuk membuatku terjatuh.

 

Baiklah. Sekarang Taemin meninggalkanku. Jangan salahkan aku kalau ditengah jalan ada yang membully mu lagi Taemin! Namja pabo!

Ngomong-ngomong soal ice cream, aku penasaran siapa yang sudah mengirimnya. Bukankah toko ice creamnya ada disekitar sini? Mungkin aku akan coba menanyakannya pada penjaga toko.

 

//

 

Frizzy Ice Cream.. nama yang sama seperti yang terdapat dikemasan ice creamnya. Sepertinya aku pernah melihat toko ini sebelumnya. Aku masuk kedalam toko ice cream yang cukup ramai dikunjungi orang meskipun dimusim sedingin ini. Banyak anak SMA seusiaku yang membeli ice cream disini. Toko ini memang cukup popular dikalangan anak sekolah. Aku menghampiri counter penjaganya.

“Permisi..apakah toko ini melayani delivery order?” tanyaku. Kulihat papan namanya ‘Shindong’. Jadi nama namja ini Shindong.

“Ne..kau juga bisa mengirimnya untuk seseorang..” jawabnya, wajahnya ceria sekali.

“emmm..ada yang ingin kutanyakan sebenarnya..”

“emmm..tanyakan saja..” dia menirukan nada bicaraku. Pelayan yang menyenangkan.

“Apakah Choi Minho pernah memesan disini? Dia memesan vanilla ice cream..” aku mengetuk-ngetuk counter dengan jari-jariku. aku gugup. Apakah Shindong akan memberitahuku?

“Tunggu sebentar..” kujinjitkan kakiku, kulirik sedikit apa yang diketiknya dilayar. Mulutnya menyebut nama Choi Minho dan jarinya menelusuri nama Choi Minho. “AHA!..tidak ada Choi Minho didaftar pemesan kami..” jawabnya.

“Apa? Kau yakin?” sedikit kecewa, tapi dikartu itu tertulis namaku.

“Aku yakin.. tapi ada seorang yang bernama Jinki yang mengirimkan Vanilla ice cream kepada Lee Taemin atas nama Choi Minho..”

“Jinki??”

“Kibum juga pernah memesan ice cream yang sama dan atas anam Choi Minho..”

“Kibum??” tidak cukupkah Kibum sudah merebut taemin dariku?? Sekarang dia memperkeruh hubungan kami dengan mengirim ice cream atas anamaku?

“Apa kau Lee Taemin??” Tanya Shindong.

“Bukan..aku Choi Minho.. aku hanya mengecek.. Kamzahamnida..”

“Kau tidak akan memesan??” tawarnya.

“hhmmm..aku ingin vanilla ice cream saja..”

“Kau tidak usah memesan jika kau tidak mau..” Shindong tahu ku terpaksa memesan.

“Tidak apa-apa..aku..sekalian menunggu teman..” jawabku mengelas.

“Kau menunggu Kibum dan Jinki?? mereka sebentar lagi datang untuk memesan..seperti biasanya..” Apa? Benarkah? Senang akhirnya dapat memergoki mereka.

“Kamzahamnida..jika mereka sudah datang.. bisakah kau beritahu kalau aku menunggu mereka?” pintaku sambil mengambil ice cream pesananku. Sebenarnya ice cream yang terpaksa kupesan.

“Baiklah..” jawabnya. Aku membayar kemudian mencari tempat duduk yang kosong dan mudah terlihat dari counter.

 

//

 

Ice creamku sudah habis..aku belum melihat batang hidung Kibum. Aku memainkan sendokku, memutar-mutarkannya pada gelas ice cream yang sudah kosong. Aku tidak suka menunggu. Mungkin hari ini bukan hari keberuntunganku, mungkin besok aku bisa bertemu dengan si pembuat onar Kibum.

Aku berdiri beranjak dari kursiku. Seperti mandapatkan lotere, aku melihat Kibum dan Jinki hyung di counter, mereka sedang memesan. Kibum menggandeng tangan Jinki hyung mesra, ternyata dia berselingkuh dengan Jinki hyung? aku akan menghajarnya nanti kalau sampai dia menyakiti Taemin.

Kulihat Shindong menunjuk kearahku, kemudian Jinki hung dan Kibum terkejut melihatku menunggu disini. Mereka saling mendorong untuk menghampiriku. Kekanak-kanakan sekali.

 

“Minho..kau sudah lama menunggu?” Jinki hyung perlahan duduk didepanku.

“Kami bisa jelaskan..” Kibum langsung duduk disampingku dan memijit bahuku. Senyumnya seperti dipaksakan.

“Apa maksud kalian? Kalian berselingkuh dibelakang Taemin??” aku menapih tangan Kibum dari bahuku.

“Selingkuh??” Jinki hyung terlihat bingung. Apa Jinki hyung juga termasuk korban Kibum?

“Ya! Minho! Biarkan kami menjelaskannya padamu! Kau tidak pernah mau mendengarkan..aisshhh..” Kibum membentakku, seperti umma umma sajah.

“Kibum..kau takut aku memberitahu Jinki hyung kalau sebenarnya kau berpacaran dengan Taemin??”

“ahahahah..” Jinki hyung tertawa keras sekali. Kenapa? Dia senang menjadi yang kedua?

“Oke Minho! Diam dan dengarkan aku baik-baik..” Kibum menagkup wajahku dan mengarahkannya agar menatap mata Kibum. Aku segera menangkis tangannya dari wajahku.

“Kau tahu dari mana kalau taemin dan aku pacaran??” Kibum menggeleng-gelengkan kepalanya dan memutar bola matanya.

“Dongwoon..” jawabku. Memang benar, Dongwoon bilang dia ditolak Kibum karena Kibum bilang kalau dia sudah berpacaran dengan Taemin.

“Sudah kuduga..dan kau lebih percaya Dongwoon daripada Taemin??” Kibum melipat kedua tangannya dan bersandar pada kursi.

“Well..Taemin tidak pernah menjelaskannya..”

“Kau tidak pernah memberikannya kesempatan untuk menjelaskannya..kau langsung memutuskan hubungan kalian..” Kibum berkata seolah-olah dia tahu segalanya.

“Lalu maksudmu Dongwoon bohong??”

“Tidak..dia benar..tapi..”

“Apa maksudnya ini?? kau berbelit-belit sekali..” aku memelototi Kibum.

“Dongwoon menembakku paksa.. aku bilang kalau aku sudah punya pacar, memang benar aku sudah berpacaran dengan Jinki saat itu.. dia memaksa untuk bertemu dengan pacarku..karena Jinki masih berada di luar kota, maka aku meminta Taemin untuk berpura-pura menjadi pacarku..”

“Apa??”

“Tadi pagi pun..sebenarnya aku berusaha mengusir yeoja-yeoja yang mendekati Taemin karena melihatmu dengan wajah kesal dibelakang Taemin..”

“Kenapa kau juga menjauhkan Taemin dariku??” Tadi pagi itu jelas sekali Kibum menarik Taemin menjauhiku.

“Taemin bilang akan memberimu pelajaran karena sudah mengikutinya..maka aku kupikir lebih baik aku menjauhkannya darimu..benarkan keputusanku?” Kibum memberikan tanda V padaku.

“Lalu ice cream ini??” aku menunjuk pada bucket vanilla ice cream dimejaku..lengkap dengan kartunya.

“Minho..kau lupa..aigoo..aku pikir rencana kami akan mengembalikan hubungan kalian..” Kibum menarik Bucket ice cream kearahku. “Sepertinya api cemburumu sudah menghanguskan memori kalian..”

“Apa yang kau maksud Kibum??”

“Hyung dan Kibum mengirim vanilla ice cream atas namamu agar Taemin luluh dan kembali padamu..kami merasa bersalah karena sudah membuat kalian putus..maka kami ingin menyatukan kalian kembali..tapi..tampaknya rencana kami sia-sia..” Jinki hyung menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum kearah Kibum.

“Kenapa ice cream ini bisa menyatukan aku dan Taemin??” Kibum memukul belakang kepalaku.

“Aucchhh!!ada apa denganmu Kibum!!” aku mengusap kepalaku yang sudak ternodai pukulan Kibum.

“Cobalah untuk ingat kembali..sekarang tugas mengirim ice cream ini aku serahkan padamu!!” Kibum beranjak dari tempat duduknya dan menarik Jinki hyung dari tempat duduknya.

“Aku pikir akan lebih efektif apabila kau yang langsung mengirimnya..” Kibum memalingkan wajahnya dan pergi meninggalkanku dengan bucket ice cream vanilla ini.

 

Ice cream vanilla?? Kenapa aku harus mengirimnya ice cream vanilla?

 

Taemin POV

 

Ting~ Tong~

 

Itu pasti kiriman ice cream lagi! Aigoo Choi Minho!! Apa yang kau inginkan!!

 

Aku membukakan pintu, tadinya mau aku biarkan saja. Tapi rasanya tidak adil menghukum Wooyong hyung yang mengirim ice creamnya karena perbuatan Choi Minho.

 

“Ice cream..lagi!!” seru wooyong hyung. Aku menjadi dekat dengan Wooyong karena dia selalu mengirimku ice cream.

“Gomawo..Wooyong hyung..” aku menerima dengan terpaksa, bukan salah wooyong hyung..dia hanya menjalankan tugasnya.

“Selamat menikmati!!Taemin ah!!” Wooyong hyung melambaikan tangannya seraya meninggalkan pekarangan rumahku. Aku membalasnya dengan senyumanku.

 

Sekarang saatnya mengembalikan kembali ice cream ini kepada pemiliknya! Aku berjalan menuju rumah Choi Minho. Tidak ada mobil digarasi rumahnya, sepertinya orang tua Minho hyung belum pulang.

 

Aku menekan bel kekuat tenaga, berharap suara yang dikeluarkan lebih nyaring dan merusak gendang telinga Minho hyung.

Aku dengar seseorang berusaha membuka pintunya. Hanya dengan sekali bel? Tumben? Minho hyung yang membuka pintunya. Wajahnya tidak tampak kesal seperti biasanya, tapi itu tidak mengurangi rasa marahku hari ini.

 

“Ini milikmu??” aku menyodorkan bucket ice cream kedadanya.

“Kau tidak mau??” tanyanya. Kenapa dia melemah hari ini?

“Aku tidak mau memakan yang bukan milikku..” aku terus menyodorkan ice creamnya kepada Minho nyung, tapi dia tetap tidak mau menerimanya.

“Aku sengaja membelikannya untukmu..kau tidak suka?” apa dia salah minum obat? Dia mengakui kalau ini kirimannya? “Bukankah kau bilang ingin aku belikan satu bucket ice cream vanilla untukmu?? Aku sudah membelikannya untukmu sekarang..”

Dia ingat? Kenapa baru sekarang dia ingat permintaanku..pabo Choi Minho! Aku lihat kartu yang tergantung di bucket.. tulisannya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ini memang tulisan Minho hyung.. dan ada kata ‘Mianhe’ dibawahnya.

“Aku sudah tahu semuanya dari Kibum dan Jinki hyung..Mianhe Taemin..aku memang terlalu cemburu..” Minho hyung tersenyum padaku. Aku sangat merindukan senyumannya ini..

Langsung kupeluk tubuh Minho hyung. Aku bahagia sekali Minho hyung mau tersenyum lagi padaku.

“Kau mau menghabiskan ice creammu sendiri Taeminie??” Minho mengusap-usap kepalku.

“Kalau yeobo mau..bisa temani aku menghabiskannya??” Minho hyung mengambil bucket ice cream dari tanganku dan mempersilahkan aku masuk.

 

//

 

“Aigoo..aku kenyang sekali..” aku menepuk-nepuk perutku yang membesar karena ice cream.

“Jangan senang dulu Taemin..masih ada delapan bukcket lagi dikulkasku..” Minho mengangkatku dan mendorongku menuju dapur.

 

Minho hyung membukakan kulkasnya, dan kulihat bucket ice cream vanilla memenuhi kulkasnya.

 

“Yeobo, kau masih menyimpannya??” tanyaku.

 

“Entahlah..aku tidak pernah mau membuangnya..mungkin kita bisa mengundang Kibum dan Jinki hyung untuk menghabiskannya..”

“Ide yang bagus!”

“Ahahahahhahah”

 

~ THE END ~

 

 

 

[FF/1S/PG-16] Deja Vu Under The Rain

16 February 2011 at 6:34 PM | Posted in FF ( FanFiction ), Super Junior | 22 Comments
Tags: , , ,

Title : Deja Vu under The Rain
 

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Cho Kyuhyun and Park Chae Rin

Other Casts : Lee Sungmin, Cho Ahra, and other

Genre : Romance

Length : 1 Shots

A/N : will be better if you read Change of Rain *click the title* before read this story

***

“Waktu berlalu begitu cepat, tiga tahun terasa sangat singkat jika bersamanya,” ujar Kyuhyun oppa di hadapan makam Ki Bum. Dia memelukku dari belakang sementara aku terdiam mendengarkan percakapan satu arah ini. “Kau benar, Ki Bum, dia wanita yang aneh,” aku memukul lengannya, sempat kulihat dia tersenyum manis. “Tapi wanita aneh ini telah membuatku jatuh cinta. Terima kasih telah membiarkanku menjaganya. Terima kasih telah memberikan jalan padaku untuk bersamanya. Dan terima kasih telah rela melihatku mencintainya.”

Kata-kata Kyuhyun oppa membuat hatiku bergetar hebat, tanpa terasa air mataku menetes membasahi lengan Kyu oppa yang melingkar di pundakku.

“Kau menangis Chae Rin?” tanya kyu oppa.

“Apa jika kubilang tidak kau akan percaya?”

“Anak bodoh,” dia mempererat pelukannya “Uljimarayo.” Aku hanya mengangguk kecil, dia menaruh dagunya di bahu kananku. “Aku telah berjanji pada Ki Bum untuk tidak membuatmu menangis. Kalau kau begini, dia bisa membunuhku.” Candanya, dan aku tergelak lemah.

“Kau tak akan dibunuh olehnya. Karena aku menangis karena dia.”

Wae?

“Aku merindukannya.”

Kyuhyun oppa terdiam. Apa ucapanku membuatnya bersedih?

“Maaf.” ujarku lagi.

Gwenchanayo.” Dia masih saja memelukiku, dekapannya hangat. Ya, dekapannya berbeda, inilah dia Cho Kyuhyun.

***

Aku baru saja sampai di rumah Kyu oppa. Aku memintanya untuk membantuku menyelesaikan tugas dosen yang deadline-nya tiga hari lagi. Dengan langkah santai aku membuka pintu kamarnya dan kudapati dia sedang berkutat asyik dengan laptopnya, apalagi kalau bukan bermain game. Dia seperti tidak menyadari kehadiranku. Aku pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Aku datang oppa.” aku mengecup pipinya.

“…”

Oppa..” aku menyentuh pipinya dengan telunjukku, dan dia tetap fokus pada permainannya. “Ah aku pulang saja deh,” aku beranjak dan dia menahan tanganku.

“Ih baru juga begitu, sudah marah.”

“Habis.. kau seperti tidak menganggapku..” rengekku kecil, dia tersenyum dan mengacak rambutku pelan.

“Tunggu di sini aku ambil makanan kecil dan minuman untukmu, kau siapkan saja data-data yang akan kita pergunakan.” ujarnya. Aku hanya mengangguk kecil dan dia pun beranjak keluar.

Aku telah menyiapkan segalanya. Tapi dia tak kunjung datang. Aaaah lama sekali.

Aku berdiri dan duduk di ranjangnya yang bersprai putih. Aku membaringkan tubuhku dan menutup mata. Dulu aku pernah melakukan ini. Setelah hujan turun di atas sekolah beberapa tahun silam. Aku membuka mata dan menatapi langit-langit yang putih bersih. Pikiranku melayang pada kenangan hari itu. Aku beranjak dan berjalan pelan ke arah meja belajar hitam yang ada di sudut kamar ini. Ada notebook putih yang sedang tertutup dan beberapa tumpuk surat. Persis. Aku menutup mata menahan pilu dan kerinduan yang mulai menggebu.

“Hai, siapapun kau yang menerima surat ini.

Boleh aku minta tolong? Jika boleh lanjutkan membaca jika tidak tolong masukkan kembali surat ini ke dalam amplop dan taruh di tempat kau menemukannya.

Terima kasih”

Halaman pertama surat dari Ki Bum, bahkan aku hafal isinya, padahal hanya sekali aku membacanya. Aku mendengar suara langkah kaki. Itu pasti Kyuhyun oppa. Aku kembali ke ranjang dan membaringkan tubuh aku kembali memejam dan memori itu kembali menyeruak. Tanpa kusadari butiran air mata telah membasahi pipiku. Ada yang menyentuh pipiku. Aku membuka mata dan kudapati Kyuhyun oppa sedang menatapku cemas.

“Kenapa? Apa kau sakit? Kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

“…” aku hanya dapat menggeleng lemah tanpa bersua. Dia semakin kebingungan.

“Kenapa menangis? Apa aku salah? Apa aku menyakitimu?”

“…” lagi-lagi aku hanya menggeleng dan mulai terisak lebih kencang. Dia semakin bingung.

“Chae Rin-ah ada apa denganmu? Jangan membuatku takut begini…” dia memelukku yang masih berbaring. Aku membalas pelukannya.

Mianhae..” ujarku pada akhirnya.

***

Aku baru saja keluar dari kelas filsafat dasar, aku merapikan buku-bukuku dan mendekapnya. Di depan pintu sudah ada Kyuhyun oppa yang menungguku dengan senyum terbaiknya.

“Bagaimana harimu?” tanyanya ketika mendapati aku tak jauh darinya.

“Lumayan, aku selalu suka kelas filsafat dasar. Kau?”

“Ada sedikit masalah, tadi aku ketahuan tidur di kelas kalkulus.” dia tersenyum malu.

“Makanya kalau main game jangan sampai malam jagiya…” aku mencubit pipinya.

“Hehehe, seperti tidak tahu saja..” dia mengambil buku yang kupegang dan mengamit tangan kananku. “Pulang atau makan siang dulu?” tanyanya.

“Emm.. ke toko buku dulu, baru kita makan. Ada yang harus ku beli dulu.”

“Baiklah, ayo.”

Kami berjalan menuju parkiran motor. Dari jauh sudah terlihat bahwa hujan sedang turun. aku tergelak kecil. Kyuhyun oppa menatapku bingung.

Wae? kau tidak suka hujan turun?”

“Ah, anni.. hanya saja..”

“Ada apa? Lebih baik kemarikan semua bawaanmu, dan bermainlah bersama hujan.” Kyuhyun sudah mengambil tas dari tanganku.

“A.. aku sedang tidak ingin bermain hujan.” aku menarik lagi tasku yang sempat berada di tangannya dengan cepat.

“Ada yang salah denganmu? Apa kau sakit?” dia menempelkan punggung tangannya di dahiku.

Gwenchana..”ujarku lemas.

“Kau ini kenapa hah? tumben sekali.” ujarnya lembut. aku langsung memeluknya. “Apa ada masalah?” tanyanya lagi. aku menggeleng lemah. dia mengelus punggungku. “Katakan jika memang iya. aku ada untuk berbagi senang maupun dukamu. Arra?” aku mengangguk perlahan. tanpa sadar air mataku membasahi kemeja hitamnya.

Bodoh, betapa bodohnya aku masih saja terlalu mencintai Ki Bum. Padahal sudah ada orang bodoh ini yang begitu mencintaiku.

Mianhae.

“Untuk apa meminta maaf?”

Molla.” aku melepaskan pelukan. dan menyeka air mataku.

“Kau menangis? Jangan membuatku bingung Chae Rin.” dia mulai ikut menyeka bekas tangisanku.

Oppa, dapatkah kita pergi menggunakan taksi saja? Aku takut kehujanan.”

“Kepalamu terbentur atau apa?”

“Ku mohon..”

“Tapi Chae Rin..”

Aku memegang bahunya dan berjinjit, mendekatkan wajahku ke wajahnya kemudian menutup mata. bibir kami bertemu, dia mulai memegangi leherku dan menikmati ciuman kami.

Maafkan aku oppa, hanya dengan cara ini aku bisa membungkam semua pertanyaanmu. Kau bukan Ki Bum yang akan terus memaksaku bercerita.

***

“Aku pulang..” ucapku pelan saat memasuki rumah. Aku melewati kamar Ji Hyun yang terbuka.

“Chae Rin-ah.. bukankah di luar hujan?”

“Iya.” jawabku lemah, aku sudah tahu apa yang akan dia tanyakan selanjutnya.

“Tumben sekali kau tidak basah kuyup? Kau sakit?”

Anni. Hanya sedang tidak ingin.” aku lalu melengos pergi.

Ya! Chae Rin-ah..” Ji hyun mengikutiku ke kamar. “Apa benar kau tidak apa-apa?” aku duduk di ranjang sambil menaruh beberapa buku yang kubeli dari toko buku tadi. Ji Hyun ikut duduk.

Gwenchana.

“Cepat katakan. Aku satu-satunya orang yang tidak bisa kau bohongi setelah Ki Bum.” ujarnya bangga, aku menghela napas mendengar namanya disebut. “Apa Kyuhyun sunbae berbuat sesuatu yang salah?”

“Akulah yang salah padanya.” Ji Hyun mendengarkanku dengan seksama. “Aku.. merindukan Ki Bum.. setiap melihat hujan aku selalu terbayang wajahnya, senyumnya, dekapannya, ciumannya, semua hal tentangnya. Aku, aku tahu aku bodoh, Ki Bum tak akan bisa kembali. dan aku tahu aku jahat, karena aku sudah memiliki Kyuhyun, tapi..” aku mulai membenamkan wajahku ke kedua telapak tanganku.

“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu, tapi.. coba kau pikir di mana kurangnya Kyuhyun sunbae. Dulu dia rela menjadi Ki Bum untuk mendapatkanmu. Kau pikir itu tidak menyakitkan? kini dia selalu ada untukmu, kapan pun saat kau membutuhkannya. Aku hanya dapat mengatakan itu. Silahkan kau camkan baik-baik.” Ji Hyun memegang pundakku dan berlalu. Sempat kudengar ponselnya bedering “Yobseyo sunbae..” ujarnya dan aku tak dapat mendengar apa-apa lagi.

Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan?

***

Hari ini minggu, aku melihat jam dinding di kamarku yang menunjukkan pukul 9. Aigoo apa aku tidur terlalu larut semalam? Sepertinya tidak. kenapa aku bangun sesiang ini.

Aku mengambil ponselku di atas meja. Aneh, tidak ada telepon atau bahkan pesan. biasanya Kyuhyun oppa akan meneleponku jika dia sudah bangun. apa dia belum bangun? aku berniat untuk meneleponnya, tapi kuurungkan karena aku sedang benar-benar tak ingin bicara. maafkan aku oppa.

Hari ini benar-benar hampa. aku mandi, membereskan kamar, lalu mengerjakan tugasku hingga pukul 2 siang. aku kembali mengecek ponselku. masih tidak ada panggilan juga pesan. segera kutekan speed dial nomor 2 –yah nomor 1 punya ayah.

“Nomor yang anda tuju..” mesin penjawab? tumben sekali ponsel Kyuhyun oppa mati –atau mungkin dimatikan. biasanya aku tak pernah kesulitan menghubunginya. malah dia yang sering mengomel karena kebiasaanku yang malas men-carg handphone.

Aku memutuskan menelepon ke rumahnya.

Yobseyo..” ujar orang di seberang sana.

Yobseyo, bisa aku bicara dengan Kyuhyun?” tanyaku pelan.

“Tuan muda sedang tidak ada di rumah, Nona.”

“Dia pergi ke mana?”

“Entahlah, sudah tiga hari dia tidak pulang.”

“Apa? belum pulang? dia sama sekali tidak memberi kabar ke rumah?”

“Tidak, Nona.”

Ah ye. kamsahamnida.”

Aku menutup telepon. ke mana dia, kenapa dia tidak pulang, dia di mana, pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan mengenainya. Aigoo aku sangat cemas.

Aku mencari nomor di ponselku, setelah dapat segera ku tekan tombol call.

Yobseyo..” ujarku saat teleponnya terangkat.

Yobseyo, Chae Rin. ada apa?”

“Ah Ra unnie, apa kau tahu di mana Kyuhyun oppa?”

“Eh? dia tidak bersamamu?”

Anni unnie.. aku cemas sekali padanya. bibi Hye bilang dia tidak pulang tiga hari ini. apa yang dia pikir sih?” aku mulai terisak.

“Chae Rin-ah gwenchana.. Uljima.. Kyuhyun pasti baik-baik saja.”

Unnie.. aku benar-benar khawatir.”

“Tenanglah, lebih baik kau cari ke tempat yang paling sering dia kunjungi. ah, coba ke apartemen Sungmin, siapa tahu dia menginap di sana.”

Ye, aku akan segera ke sana. Kamsa unnie.

Choenma, sudah jangan menangis, dia pasti tidak akan kenapa-kenapa. Maaf aku tak bisa ikut mencari si pabo bersamamu.  tapi aku akan terus berusaha meneleponnya, kalau dia sudah bisa dihubungi aku akan memberitahumu.”

Ye, gwenchana. masa iya unnie harus kembali ke Korea Cuma untuk mencarinya.”

“Ya sudah Chae Rin, aku sedang ada kerjaan ya. Bye.” telepon ditutup.

Aku yang hanya mengenakan celana pendek dan kaus tidak sama sekali terpikir untuk berganti baju. aku segera mengambil jaket dan dengan terburu memakai sandal. Aku hanya membawa ponsel dan uang. Kulangkahkan kaki keluar rumah dan berlari menuju halte.

Dua puluh menit untuk sampai ke rumah Sungmin oppa, dan dalam dua puluh menit itu pula aku diliputi harapan untuk menemukan Kyuhyun oppa. sampai di depan apartemennya aku langsung mengetuknya dengan tergesa.

“Sungmin oppa.. Sungmin oppa buka pintunya.”

“Ya sebentar.” teriaknya dri dalam. “Chae Rin ada apa?” tanyanya setelah membukakan pintu. aku langsung masuk ke dalam dan menyisir semua ruangan. “Kau cari apa Chae Rin?”

“Kyuhyun oppa.. dia tidak ada di sini?” tanyaku cepat.

“Kyuhyun? Anni. dia tidak ke sini.”

“Kapan.. Kapan terakhir kau meneleponnya?” aku mengguncang bahu Sungmin oppa.

“Dua hari yang lalu, dia bilang dia sedang bingung denganmu. Apa kalian sedang bertengkar.” aku melepaskan tanganku dari bahunya.

“Tidak, kami tidak bertengkar, tapi sepertinya dia kecewa padaku. aku duduk di sofa yang tak jauh dari tempatku berdiri.”

“Dia tidak mungkin kecewa padamu. Tenanglah..”

“Aku egois oppa.. aku bodoh..”

“Sudahlah Chae Rin..” Sungmin oppa tampaknya iba denganku.

“Aku, harus pergi, aku harus mencari Kyuhyun oppa. Kamsa, maaf membuat keributan.” aku lalu membungkuk dan berlalu.

Ke mana lagi aku harus mencarinya?

Aku telah mencari ke semua tempat yang mungkin dikunjunginya. Tempat dia latihan menyanyi, café yang biasa menjadi tempat nongkrongnya, toko buku, rumah sakit, aku bahkan sampai pergi ke kantor polisi. Aku juga mengunjungi semua rumah temannya yang aku tahu, dari mulai rumah Donghae oppa sampai rumah Seohyun –siapa tahu. tapi tetap saja hasilnya nihil. Semua usahaku tidak membuahkan hasil.

Aku berjalan gontai di pinggir sungai Han, sudah sangat bingung dan tak tahu lagi harus mencari ke mana. dan tiba-tiba saja kulihat tetesan-tetesan air mulai jatuh, aku tergelak lemah, dan segera beringsut ke tanah.

“Kyuhyun oppa.. kau di mana? maafkan aku.. aku tahu aku salah, tapi jangan menyiksaku seperti ini..” aku mulai bergumam sendiri seperti orang gila. “Oppa.. cepat kembali, aku mencintaimu.. sungguh.. aku mencintaimu..”

Kepalaku mulai pening, campuran antara kelelahan dan frustasi. ditambah air hujan yang membasahi tak kenal kompromi. Aku tahu tubuhku sudah tak kuat dan ingin rehat tapi aku bersikeras dan mulai beranjak. Saat aku mulai melangkah pandanganku kabur dan seseorang menangkapku sebelum aku tersungkur. Dan aku tak dapat mengingat apapun setelahnya.

***

Ketika pertama kali ku buka mata, yang kulihat hanyalah langit-langit kamar –yang bukan kamarku maupun kamar Kyuhyun oppa–. Ini kamar Ki Bum. aku sangat kaget mengapa tiba-tiba ada di sini. Ini benar-benar apartemen Ki Bum. aku duduk di ranjangnya. dan ketika kulihat di sekeliling ada foto-fotoku bersama Ki Bum tertempel di seluruh dinding kamar ini. bukan hanya satu-dua foto tapi beratus-ratus hingga seluruh dinding tertutup foto. aku menyusuri setiap senti dinding kamar ini, memoriku terbuka seolah aku kembali ke beberapa tahun silam –saat aku masih bersama Ki Bum.

Ini foto saat sebulan kami bersama, ini saat dia makan malam di rumah sedang bersama appa, itu saat kami kencan ke taman hiburan, semua foto yang pernah kami ambil tertempel di sini. banyak juga foto Ki Bum sendiri.

Aku mulai beringsut ke lantai, dan memeluki kedua lututku, aku terisak dalam kepiluan yang mendalam.

“Aku tak butuh ini.. aku hanya ingin Kyuhyun oppa kembali.. aku benar-benar takut kehilangannya..” Aku berteriak sejadi-jadinya mungkin tak akan ada yang mendengarku, aku tak peduli! “Kumohon oppa, Kyuhyun oppa kembalilah.. aku takut.. Kyuhyun oppa..”

Hening, tak ada jawaban sama sekali.

Dengan sisa tenaga yang kumiliki aku bangkit dan mencabuti semua foto yang tertempel di dinding itu.

“Aku tak butuh ini, aku tak butuh ini semua.. aku hanya mau Cho Kyuhyun, aku mau dia kembali.. cukup.. itu saja cukup.. aku bahkan tak butuh hujan.. aku hanya ingin Cho Kyuhyun.. cukup Cho Kyuhyun..” teriakku.

Dengan tiba-tiba ada yang memelukku. Aku tidak tahu apa aku sedang berkhayal atau apa, yang jelas tubuhnya hangat. Dia mengelus punggungku.

“Kyuhyun oppa..” ujarku parau.

“Terima kasih.”

“Kyuhyun oppa..”

“Aku di sini Chae Rin..”

“Kyuhyun oppa..” aku menangis sekeras-kerasnya, dia kembali, dia ada di sini, bersamaku, memelukku. “Jangan pergi lagi.. jangan biarkan aku sendirian..” aku memeluk tubuhnya erat seolah tak ingin melepaskannya. aku takut kehilangannya lagi, aku hanya ingin bersamanya, tidak dengan siapa pun, tidak juga Ki Bum.

“Aku janji.. maaf aku keterlaluan, aku hanya ingin memastikan cintamu..” aku malah makin terisak, pria ini.. aku tak bisa membaca jalan pikirnya. yang aku tahu hanya satu: dia mencintaiku.

“…” aku tak dapat bersua aku hanya ingin memeluknya.

Saranghae..” bisiknya pelan.

Na do..” balasku.

Aku melepaskan pelukannya, dia menatapiku dengan lembut sementara aku masih menangis karenanya. Dia menghapus air mataku dengan jemarinya. Aku mengambil tangannya yang ada di wajahku dan mulai menciuminya seperti yang pernah dia lakukan dulu.

“Chae Rin-ah..” ujarnya, aku menatapnya sendu.

“Aku mencintaimu oppa, hanya kau..” aku memegangi pipinya, mengelusnya pelan.

Aku mencium kedua kelopak matanya, hidungnya dan bibirnya. Kami berciuman lama seolah saling membutuhkan.

Kini di bawah hujan aku dan Kyuhyun oppa memiliki kenangan kami sendiri. Biarlah Ki Bum menjadi kenangan, hanya kenangan. Dan aku memiliki masa depanku sendiri bersama hujanku yang baru –Kyuhyun oppa.

-END

[FF/1S/PG-16] Change of Rain

16 February 2011 at 6:26 PM | Posted in FF ( FanFiction ), Super Junior | 6 Comments
Tags: , , , , ,

Title : Change of Rain 

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Cko Kyuhyun, Kim Ki Bum, Park Chae Rin

Other Casts : other cast

Genre : Romance

Length : 1 Shots

A/N : will be better if you read Under The Rain *click the title* before you read this fiction.

***

Hujan masih membasahi tubuh terpuruk itu. Seorang gadis memeluk kakinya ditengah jalan. Di bawah hujan. Membiarkan dirinya dihujam butiran-butiran kasar yang biasanya bersahabat. Terisak, hanya itu yang dapat dia kerjaan.

“Pergi, sedang apa kau disitu! jangan halangi hujan dariku.” ujar gadis itu dengan kasar. Seorang pria dengan payung hitam ditangannya berusaha melindungi si gadis agar tak terjamah hujan.

“…” pria itu diam tapi tak jua beranjak dari tempatnya. Dia tahu tak ada gunanya bicara apapun dengan si gadis kini.

“Kau bodoh atau apa? Ku bilang pergi!” si gadis makin berteriak. Pria tersebut menarik tangan si gadis menyuruhnya berdiri tanpa sepatah kata. Tentu saja gadis itu memberontak dan menepis lengan pria yang menatapnya sendu. Tapi pria itu kuat sehingga si gadis akhirnya bangun dan menatap langsung wajah pria tersebut.

“Apa? Apa yang kau mau?”

“Ikut pulang denganku.”

“Tidak. Apa pedulimu? Apa yang kau mengerti tentang aku?” Pria itu menarik tubuh si gadis kedalam dekapannya “Lepaskan aku Kyuhyun sunbae.. lepaskan..”

“Menangislah Chae Rin.”

“Hujanku telah pergi. Apa kau tahu rasanya?” gadis yang di panggil Chae Rin memukul dada Kyuhyun. Semakin lama semakin melambat “Hujanku telah meninggalkanku. Apa kau mengerti?”

“…”

“Kau tidak mengerti. Kau tidak tahu.. Kau tidak merasakannya. Hujanku..” Chae Rin kembali terisak. Kyuhyun memeluk Chae Rin makin erat.

“Aku memang tidak mengerti.. tapi..” Kyuhyun melepaskan payung yang dia pegang di tangan kanan lalu memeluk Chae Rin lagi “Aku bersedia menjadi hujanmu.”

“Kau tidak akan bisa menggantikannya” Chae Rin mendorong tubuh Kyuhyun yang sedari tadi mendekapnya “Hujanku hanya satu. Kim Ki Bum bukan kau!”

“Tapi dia telah pergi.” suara Kyu meninggi.

“Sejauh apapun dia meninggalkanku. Kemanapun dia pergi. Hujanku hanya Kim Ki Bum dan akan selamanya begitu.”

“Dia pergi dari dunia ini. Apa kau belum juga bisa menerima itu? Ini sudah hampir enam bulan dan kau masih begini? Ini sudah tidak wajar.”

“Sudah kubilang, kemanapun dia pergi dia akan selamanya menjadi hujanku. Ingat kata-kataku Cho kyuhyun” Chae Rin melangkah meninggalkan Kyuhyun sementara Kyuhyun hanya dapat memandangi punggung Chae Rin yang semakin lama semakin menjauh.

Kyuhyun masih menatap jalanan yang kosong. Dia masih membiarkan tubuhnya diguyur hujan. Dia menghela napas panjang dan merentangkan kedua tangannya, menengadah membiarkan wajahnya dibelai hujan.

“Maaf.”

***

“Ji Hyun-ah” panggil Kyuhyun dan dengan segera dihamipinya.

“Ada apa sunbae? Tergesa sekali tampaknya.”

“Kau tahu kemana Chae Rin?”

“Mungkin di sungai Han.”

“Tempat dia dan Ki Bum dulu sering berdua.” gumam Kyu pelan.

“Bagaimana kau tahu?”

“Ah.. Tidak.. ya sudah, terima kasih. Aku kesana dulu.” Kyuhyun mulai berbalik.

“Sunbae..” panggil Ji Hyun.

“Ya?”

“Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Kenapa kau tiba-tiba mendekati Chae Rin?”

“Bukan apa-apa.” Kyuhyun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dan meninggalkan Ji Hyun dalam bingung.

Kyuhyun berjalan mencari sosok Chae Rin yang sama sekali tidak terlihat. Dia menyusuri aliran sungai Han. Dan setelah berjalan jauh didapatinya Chae Rin sedang melamun. Didekatinya perlahan. Kyuhyun menutup kedua mata Chae Rin dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan yang lainnya menyentuh bahu, lengan, hingga jemari Chae Rin. Diangkatnya dan dikecupnya perlahan.

“Kau kembali.. Kau datang untukku bukan?”

“Aku datang untukmu.” mendengar suara Kyuhyun, Chae Rin meronta kemudian berbalik menghadap Kyuhyun.

Plak.

Satu tamparan keras mengenai wajah Kyuhyun. Kyu hanya dapat memegangi pipinya yang memerah dan menatap wajah Chae Rin dalam.

“Kau mempermainkanku, hah? Apa yang kau inginkan sebenarnya?”

“Aku sama sekali tidak berniat mempermainkanmu.”

“Tapi apa yang kau lakukan barusan sungguh keterlaluan. Kau pikir kau siapa?”

“Aku tahu aku bukan dia. Aku bukan Kim Kibum tapi..”

“Cukup! Aku tidak mau mendengar semua alasan konyolmu.” Chae Rin meniggalkan Kyuhyun.

***

Kenapa dia bersikap seperti Ki Bum? Kenapa dia memperlakukanku seperti Kibum? Tadi, baru saja dia melakukan apa yang sering Kibum lakukan padaku jika sedang banyak pikiran. Di tempat yang sama. Di kondisi yang sama. Lama-lama dia seperti menjadi bayangan Kibum. Tidak. Seperti apapun dia berusaha hujanku hanya satu Kim Ki Bum.

Aku melangkah dengan sebal ke rumah. Seperti biasa rumah sepi. Ji hyun sudah pulang belum ya? Ku tengok sebentar kamarnya.

“Chae Rin-ah kenapa?” tanyanya yang sedang berkutat dengan laptop putihnya.

“Tidak. Kukira kau belum pulang” ujarku sambil tersenyum “Aku masuk dulu ya..” aku bergegas ke kamar sebelum di mulai bertanya.

Aku melemparkan tubuhku ke ranjang dan menutup kedua mataku. Aku masih binggung, benarkah dia telah pergi? Benarkah dia tega maninggalkanku sendirian?

“Arrrrrghhhhhhhhhhh..” aku berteriak dengan sangat kencang. Semua berkecamuk hebat di kepalaku.

“Kau kenapa Chae Rin?” Ji Hyun tiba-tiba datang dan menghampiriku dia memelukku.

“Sekarang aku sudak tidak bisa lagi menunjukan pada semua orang bahwa aku bahagia. Bahwa aku senang. Sekarang semua orang tau aku lemah dan rapuh. Kau tahu kenapa Ji Hyun? Karena aku telah kehilangan hujanku. Aku telah kehilangan hartaku yang paling berharga.”

“Chae Rin dengar. Dulu sebelum kau bertemu dengannyapun kau sudah lemah dan rapuh. Hanya aku yang tahu itu iya kan? Tapi kau bisa bertahan.”

“Tapi sekarang aku tidak bisa..” aku makin histeris.

“Kau bukan tidak bisa. Kau hanya tidak mau.”

“Aku tidak mampu, Ji Hyun tolong jangan paksa aku.” Ji Hyun terdiam. Wajahnya tampak cemas melihatku begini. Entahlah aku tak perduli.

***

Aku tiba disekolah terlalu pagi hari ini. Bosan sekali, belum ada siapa-siapa. Dari kursiku yang langsung menghadap ke lapangan utama ku lihat pria menyebalkan itu sedang berjalan perlahan. Aku mengamatinya dengan seksama.

Dia pria tampan, gayanya juga lumayan. Tapi dia sangat berbeda dengan Ki Bum. Kibum selalu memasukkan bajunya dengan rapi menggunakan tas gendong yang disingkapkan pada sebelah bahu, jaketnya selalu tertempel di tubuhnya yang atletis dia juga jarang mendengarkan lagu. Kadang-kadang saja headset menempel di telinganya. Sedangkan dia? Bajunya dimasukkan hanya depannya saja yang belakang dibiarkan keluar tak beraturan, memakai tas selempang dan jaketnya dia singkapkan di tasnya. Tak lupa headphone bertengger di lehernya. Meskipun tidak diperhatikan Kyuhuyun dan KiBum itu berbeda. Sangat berbeda. Tapi entah apa yang merasuki Kyuhyun sehingga dia selalu mencoba menjadi Ki Bum. Dan itu mnyebalkan.

Kulihat dia sudah masuk ke gedung sekolah. Aku lalu menatap jam dinding yang ada dikelas. Masih pukul 06.30 masih setengah jam lagi masuk. Aku naik keatap sekolah. Sepi. Tentu saja.

“Kim Kibum.. Apa kau mendengarku? Aku merindukanmu..” teriakku dengan lantang.

Tidak ada jawaban. Hanya angin yang meniup lembut rambutku. Sebutir air mata melintas di pipiku.

“Bodoh aku merindukanmu.. Aku mencintaimu.. Kenapa kau tega membiarkan aku sendirian begini?”

Dan tanpa kukehendaki hujan turun menyamarkan tangisku. Aku menangis sejadi-jadinya disitu. dalam beberapa menit saja aku sudah benar-benar basah. Tapi aku tidak perduli. Aku tak peduli hari ini ada pelajaran yang harus aku ikuti. Aku tak peduli aku sakit. Aku tidak peduli apapun! Ditengah kegalauanku ada yang memelukku dari belakang. Kedua tangannya melingkar di bahuku. Dia mengecup ubun-ubunku.

“Aku mencintaimu.. jangan pernah pergi lagi.. aku takut sendirian” aku bergumam. Pelukannya sama, dekapannya sama. Ini hujanku.

Dia mengusap kedua mataku, menyuruhku memejam. Aku menurut. Dia memutar tubuhku dan mencium leherku beberapa kali. Kecupannya sama. Dia hujanku. Bibirnya naik ke pipiku. Masih sama. Dan bibirnya menyentuh bibirku. Tangannya menyentuh tengkukku. Kurasakan deru napasnya, manis bibirnya. Dan seketika kudorong dia jauh dari tubuhku. Tenaganya terlalu kuat membuatku tak mempu keluar dari lingkar tangannya. Tapi aku meronta. Dia menggigit bibirku hingga berdarah dan dia melepaskanku.

Aku menatapnya dalam diam. Dia juga melihatku tanpa kata.

Plak. Aku menampar pipi kanannya. Tapi saat tanganku masih tertempel di wajahnya dia menyenuh punggung tanganku dengan  tangan kanannya. Menggenggamnya dan mengecupnya. Dia menarikku dalam pelukannya. Aku meronta keras dia makin mendekapku.

“Aku tahu aku dan dia tak sama. Tapi kumohon belajarlah mencintaiku. Kepergiannya bisa dibilang telah lama. Tolong jangan siksa dirimu seperti ini terus. Aku juga sakit melihatmu begini. Tolong, mengertilah.. mengertilah bahwa aku mencintaimu.” aku terdiam mendengar pernyatannya.

“Kalau begitu kau egois.”

“Kau pikir dia senang melihatmu begini? Tidak, dia juga pasti akan sedih.. bukankah kau tak ingin melihatnya bersedih?”

“Kau.. jangan pernah sok tahu tentangnya.. kau itu bukan siapa-siapa.. kau tidak tahu apapun mengenaiku atau dia.” ujarku geram, aku menarik kerah bajunya –meskipun dia lebih tinggi dariku.

“Kau bahkan tidak mengenal dirimu sendiri Chae Rin.”

“Kau…” ucapanku terhenti kepalaku sakit sekali dan tiba-tba semua tersa gelap.

***

Mataku terbuka. Kepalaku masih terasa sakit. Emm, dimana aku? Aku mngingat-ingat apa yang terjadi barusan. Ah tadi ‘kan aku ada di atap sekolah bersama Kyuhyun sunbae. Kenapa aku ada disini sekarang. Dan dimana aku?

Aku celingukan, berusaha mengidentifikasi. Ini kamar yang cukup rapi dan lembut dengan didominasi warna putih sembuat kamar ini tampak tenang. Sebuah tempat tidur besar dengan sprai berwarna senada yang aku tempati ini pun tampak manis diposisinya. Disudut ruagan ada sebuah meja belajar hitam. Aku berdiri dan mendekati meja itu. Ada sebuah foto berpigura. Foto kyuhyun. Jadi ini kamarnya. Kulihat sebuah notebook putih dalam keadaan tertutup. Disebelahnya terdapat amplop yang cukup tebal. Entah perasaan apa yang menyuruhku untuk membukanya –walaupun memang tidak sopan. Ada beberapa lembar kertas yang disatukan oleh sebuah klip silver. Kusisihkan amplopnya dan segera ku baca.

“Hai, siapapun kau yang menerima surat ini.

Boleh aku minta tolong? Jika boleh lanjutkan membaca jika tidak tolong masukkan kembali surat ini ke dalam amplop dan taruh di tempat kau menemukannya.

Terima kasih”

Aku lanjut ke kertas kedua

“Terima kasih kau telah mau menolongku.

Sebelumnya aku ingin memberitahumu bahwa waktuku sudah dekat dan aku ingin kau menjaga seseorang untukku. Apa kau bersedia? Jika kau bersedia lanjutkan membaca jika tidak masukkan kembali surat ini ke dalam amplop dan taruh di tempat kau menemukannya.

Terima kasih”

Aku semakin penasaran dengan kertas-kertas ini. Segera ku buka kertas ketiga

“Terima kasih kau bersedia menjaganya untukku.

Sebelumnya aku akan bercerita sejenak boleh?

Aku memiliki seorang gadis yang sangat kucintai. Kami telah menjalin hubungan yang menyenangkan. Namun, waktuku kini telah dekat dan aku tak lagi bisa menjaganya. Menjadi hujannya.

Kau tahu kenapa hujan?

Karena dia sangat mencintai hujan. Bahkan terkadang dia terkesan lebih mencintai hujan daripada aku. Dulu sebelum bertemu denganku dia tak memiliki siapapun untuk bercerita, berkeluh kesah, menangis. Dia selalu mencitrakan diri pada semua orang bahwa dia adalah gadis ceria dan tak ada beban. Tapi itu palsu. Dia hanya tak ingin membuat orang disekitarnya cemas. Dan dia hanya menceritakan masalahnya pada hujan. Dibawah hujan dia menjadi dirinya sendiri. Di bawah hujan dia menangis. Karena itulah dia mencintai hujan.

Gadisku itu aneh bukan? Tapi karena itu aku mencintainya.

Kini, aku akan memperkenalkan dia padamu. Namanya Park Chae Rin. Dia sekarang bersekolah di Chungdamn High School kelas 2…”

Dibawahnya terdapat biografiku. Penjelasan siapa aku, apa yang kusuka, aku suka warna hitam, ice cream, sampai aku suka super juniorpun ada. Apa-apa yang aku tidak suka, aku tidak suka menunggu, aku tidak suka bau rokok hingga aku tidak suka anjing juga tertulis disitu. ada juga mengenaiku yang alergi debu dan tidak kuat kedinginan. Semua benar-benar mendetail sampai aku saja takjub dengan apa yang KiBum ketahui teentang diriku. Lalu ada paragraf baru,

“Bagaimana? Dia lucu sekali bukan? Apa kau masih mau menjaganya untukku?

Kusertakan fotonya disini.

Apa kau masih mau membantuku?

Jika kau bersedia lanjutkan membaca jika tidak masukkan kembali surat ini ke dalam amplop dan taruh di tempat kau menemukannya.

Terima kasih”

Beberapa butir air mataku telah jatuh. Aku benar-benar merindukan Ki Bum dan dari surat ini sungguh aku merasa Ki Bum sedang bersamaku. Sedang bercerita kepadaku.

Dengan tangan yang bergetar ku buka lembar terakhir.

“Terima kasih atas keteguhan hatimu. Kini aku tahu kau tulus ingin membantuku. Ku mohon jagalah hujanku. Jangan biarkan dia menangisi kepergianku. Buat dia tersenyum akan kehadiranmu.

Sekali lagi ku mohon dengan sangat. Tolong cintai dia setulus hatimu. Karena jika dia sudah mencintai seseorang dia akan menjaganya hingga waktu yang memisahkan.

Aku akan memberitahumu beberapa kebiasaannya. Agar kau lebih mudah mendapatkan hatinya. Karena dia tak akan berhenti mencintaiku. Kekeke.

Pertama jika hujan turun dia akan segera berlari menemui hujan. Menutup kedua matanya, merentangkan tangannya, dan membiarkan hujan mengguyurnya. Jika kau melihatnya seperti itu, biarkan saja, kalau kau juga suka hujan ikutlah bermain dengan hujan bersamanya. Jika tidak tunggu sampai dia menggosok lengannya. Itu tandanya dia udah kedinginan. Peluklah dia, singkapkan jaketmu agar dinginnya hilang.

Kedua jika kau lihat dia termenung entah menatap apa, itu tandanya dia sedang binggung. Peluklah dia dari belakang kecup ubun-ubunnya, tutup matanya dan ciumilah dia. Dia akan memelukmu setelahnya.

Ketiga jika kau melihatnya sedang tertawa lepas namun setelah itu dia diam dengan wajah sendu itu tandanya dia sedang sedih tapi dia tak mau mengatakannya padamu. Acak rambutnya dan dekap dia tanpa sepatah katapun, biaran dia menagis dan menceritakan sendiri masalahnya padamu. Setelah itu tenangkan dia..

Keempat…”

Ada banyak sekali kebiasaan yang KiBum sering lakukan padaku. Dan dia menuliskan semuanya disini. Kini aku tahu mengapa Kyuhyun bisa dengan samanya memperlakukanku.

“Begitulah.. aku telah menuliskan semua yang ku ketahui tentang gadisku. Kuharap kau bisa mendapatkan hatinya, mencintainya, dan menjaganya untukku.

Oh iya, jika dia telah menjadi milikmu, berikan secarik kertas yang terpisah untuknya. Biarkan dia mengetahui semuanya.

Mungkin berjuta-juta berimaksih tak akan cukup untuk ketulusanmu. Tapi sekali lagi terima kasih

Kim KiBum”

Derai tangisku mulai tak terkendali. Isakku mulai tak dapat ku tahan. Aku masih penasaran dengan surat yang ditujukan untukku. Aku mulai mengambil kertas itu. Tapi kudengar langkah kaki mendekat. Cepat-cepat ku bereskan surat surat Ki Bum dan aku berbaring di ranjangnya, menutup mataku seolah aku belum bangun.

Aku tak dapat melihat siapa yang datang. Tapi aku yakin dia adalah kyuhyun. Kurasakan langkah ittu makin medekat. Ia –yang kupikir adalah kyuhyun duduk disebelahku. Kurasakan napasnya di pipi kananku. Jantungku berdebar kencang sekali. Lalu jemarinya mulai menelusuri wajahku, dari dagu, ke pipi naik ke keningku, ke hidungku ke kelopak mataku. Kurasa dia menyadari aku habis menangis, dia menyeka sisa-sisa airmataku. Dan dengan perlahan kubuka mataku. Dia agak kaget tetapi langsung tersenyum ke arahku.

“Maaf kita jadi bolos hari ini..” ujarnya.

“Tidak apa-apa, salahku juga.”

“Oh ya, bajumu.. kakakku yang menggantikan, itu juga miliknya.” dia sedikit canggung.

“Terima Kasih.” dia terseyum dan menggaruk lehernya.

“Kau, sudah tidak galak lagi padaku?”

“Tergantung.”

“Maksudnya?”

“Kalau kau masih mengimitasi Ki Bum mungkin aku akan marah lagi padamu.” dia tampak binggung.

“Chae Rin.. apa kau bercaya cinta pada pandangan pertama?”

“Ya aku pernah mengalaminya. Kenapa?”

“Itu yang terjadi padaku saat pertama kali aku melihatmu.”

“Kapan kau pertama kali melihatku?”

“Dua tahun yang lalu.. sebulan setelah kau masuk ke Chungdam, saat kau sedang bermain dengan hujan.”

Apa? Jadi dia sudah melihatku sejak itu? Bahkan saat aku belum bertemu dengan KiBum

“Kalau begitu.. jadilah dirimu sendiri. Tunjukan bahwa yang mencintaiku itu Cho Kyuhyun bukan Kim Ki Bum.”

***

“Pagi.. Naik” Kyuhyun sudah tiba di depan rumahku pagi ini.

“Menjemputku ke sekolah?”

“Yup, dengan caraku.”

Dia menyerahkan helm dan menyuruhku naik ke motor besarnya. Yah ki bum memang selalu menjemputku sengan mobil.

“Peluk aku..” perintahnya.

“Apa?”

“Peluk aku.”

“Tidak mau.. ayo sana jalan.”

“Yasudah, hati-hati jatuh ya..” ia membawaku kebut-kebutan di jalan, serasa setiap jalan ini miliknya. Dan dalam beberapa menit saja

kami sudah sampai.

“Kau ini..” ujarku, dia malah memamerkan senyum terbaiknya.

“Sekali-sekali, refreshing..” dia merapikan poniku yang berantakan. Wajahnya lembut sekali memancarkan ketulusan.

“Kyuhyun sunbae..”

“Apa?” aku lalu mencium pipinya dan berlari meninggalkannya sendirian. Sempat ku lihat dia memegang pipinya tidak percaya.

***

Bel pulang sekolah berbunya bersamaan dengan turunnya hujan. Aku hanya menatap hujan sambil tersenyum. Aku lalu turun untuk pulang. Ku lihat orang-orang berteduh menunggu hujan berhenti, atau sibuk mengeluarkan payung. Tanpa mempedulikan mereka aku berjalan dibawah hujan dengan sangat lambat. Baru sampai gerbang sekolah saja aku sudah kuyup. Aku tetap berjalan keluar dari sekolah.

Sesampainya di depan rumah sudah ada yang menungguku.

“Menyenangkan bermain hujan?”

“Selalu. Ada apa kau kemari?” dia turun dari motornya dan mendekatiku. Hujan masih menemani kami.

“Aku hanya ingin minta izin.”

“Izin apa?”

“Izinkan aku mencintaimu..” bisiknya ditelingaku.

“Aku..” dia memelukku sebelum aku menyelesaikan perkataanku.

“Rasakan.. pelukanku berbeda ini aku, Cho Kyuhyun.” dia mencium leherku “Rasakan kecupanku berbeda ini aku, Cho Kyuhyun.” dia mencium bibirku dengan kasar “Rasakan ciumanku berbeda ini aku Cho yuhyun. Bukan Kim KiBum.” aku menangis. Aku membalas pelukannya.

“Maaf…”

“Kenapa menangis? Apa ku menyakitimu?”

“Tidak.. maafkan aku aku yang bodoh karena buta akan ketulusanmu.. maaf.”

“Tak perlu minta maaf.”

“Tapi aku sudah jahat sekali padamu..”

“Tidak apa-apa sudah jangan menangis.”

“Sunbae. Maukah kau mengajariku?”

“Mangajari apa?”

“Cara mencinta dengan caramu.”

“Tentu saja…” dia memelukku lebih erat “Aku mencintaimu.” Ujarnya aku hanya dapat tersenyum tanpa menjawab pernyataannya. Dia tersenyum dan berbisik di telingaku. “Tidak perlu dijawab, karena kau masih dalam tahap belajar.” dia mengecup bibirku singkat kemudian memelukku lagi.

“Ah aku punya sesuatu untukmu.” ujarnya dan dia mengeluarkan secarik kertas. Surat Ki Bum untukku. Aku mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tas yang memang anti air.

“Akan ku baca nanti. Bukankah aku kini sedang belajar?”

“Hatchi..” dia bersin, sepertinya dia jarang bertemu hujan.

“Hahaha, ayo masuk sunbae, kau pasti kedinginan.”

“Panggil aku oppa.”

“Cepat masuk kyuhyun oppa.”

“Kau cepat belajar.” dia merangkulku masuk kedalam rumah.

***

Park Chae Rin gadis hujanku…

Sudah bertemu hujanmu?

Dia kukirimkan khusus untuk menjagamu. Semoga kau menyukainya. Karena kurasa dia sangat tulus mencintaimu. Maaf jika aku membuatnya menjadi sepertiku. Kau pasti sangat terganggu akan hal itu. Tapi aku yakin itu meluluhkanmu. Ya, akulah yanhg mengajarinya menjagamu, mengerti akanmu. Kalau dia mmang melakukan persis apa yang aku lakukan itu berarti dia rela menjadi aku demi permintaanku untukmu. Dan dengan itu pula kita tahu bahwa cintanya bukan main-main.

Maaf aku tidak bisa menjagamu, tidak bisa menemanimu hingga kita menua. Itu bukan aku yang menginginkannya. Tai pasti kita akan bertemu lagi di surga. Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu.

Apa kau masih mencintai hujan? Aku yakin masih. Demi hujan, maukah kau berjanji padaku?

Jangan pernah berpikir untuk melupakan aku karena aku mencintaimu, aku mencintaimu sekali lagi aku mencintaimu. Dan setiap hujan turun, saat kau sedang senikmati setiap tetesannya, berjanjilah kau akan selalu mengenangku. Menganggap bahwa aku ada bersamamu di tengah hujan. Maukah kau berjanji demi hujan yang paling kau cintai? Terima kasih jika iya.

Kini biarkan dia menjadi hujanmu. Menggantikan posisiku untuk mendengar semua masalahmu dan membangkitkan senyummu. meski begitu hatimu selamanya milikku.

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Terlalu banyak kata cinta yang ingin ku ungkapkan padamu. Dan kertas ini tak mampu menampungnya. Aku yakin kau tahu bahwa cintaku sebanyak tetesan hujan yang kau nikmati.

Hujanmu,

Kim Kibum

-END

[ FF ] SPECIAL FOR YOU OPPA J

12 February 2011 at 2:29 PM | Posted in FF ( FanFiction ), SHINee | Leave a comment
Tags: , ,

Author : MinKyung.

Cast : Key ( SHINee ), YOU, SHINee member.

Other Cast : Krystal, Key’s Parents, Key’s Grandma.

Genre : Friendship, Romance.

Hay chingu !! ini ff ke tiga yang aku buat,, tpi ini ff pertama yang aku post special buat key oppa J

Sorry kalau jelek,, ff ini dibuat buru-buru si,, hhe J

Satu lagi pesan aku “ PLEASE COMMENT,, DON’T BE SILENT READER ”

Okeyy,, chingu mungkin author ceramahnya terlalu banyak jadi langsung aja di baca…

J “ HAPPY READING “ J

YOU POV

Aku berjalan ke halte bus untuk pergi ke sekolah,, tak tau ada malaikat apa yang merasuki tubuhku sehingga aku bisa bangun pagi hari ini. Jelas – jelas tadi malam aku baru tidur jam 12 malam gara – gara tugas yang numpuk tapi pagi harinya aku bangun jam 5 pagi.

Ketika sedang mendengarkan lagu di ipodku,, sebuah motor berhenti di hadapanku. Aku melihat orang itu, dia menggunakan seragam yang sama denganku, tapi siapa dia ??

__-ah ayolah naik,, busnya masih lama. Kata cowok itu. Aku mengenal suara itu dan mencoba megingat siapa cowok itu. Key oppa !! teriakku ketika mengingat suara itu adalah suara milik Key oppa.

Sssstttt,, jangan keras-keras ! bagaimana jika orang-orang mendengarnya dan menyerbu ku untuk meminta tanda tangan ??

Ohhh,, mianhae oppa aku lupa kalau kau adalah seorang penyanyi, jawabku dengan rasa bersalah. Aku naik ke motor dan kami melaju pergi.

***

Aku mengenal Key oppa karena kami adalah tetangga sekaligus teman sejak kecil, tapi sejak key oppa menjadi penyanyi, Key oppa pindah dan kami berpisah.

Dan ketika aku lulus SMP ayahku menyuruhku untuk SMA di Seoul, aku menuruti kemauan ayahku. Dan ternyata aku satu sekolah sama Key oppa dan member SHINee lainnya. Aku mengira Key oppa tak mengenalku lagi, tapi justru Key oppa yang menghampiriku dan ia memelukku saking senangnya. Key oppa juga mengajakku pergi makan coklat, karena coklat makanan kesukaan kami sejak kecil J

***

Sampai sekarang aku sering main ke dorm SHINee,, mereka semuanya baik.Aku lebih dekat dengan Taemin Oppa mungkin karena Taemin oppa paling muda dari semua member SHINee..

***

Akhirnya sampai di sekolah, aku turun dari motor. Gomawo, kataku dengan tersenyum.

Ne,, jawab Key oppa sambil mengacak-acak rambutku.

Jantungku berdegup kencang, mukaku merah. Ya, karena aku menyukai Key oppa, Aku cepat-cepat berjalan ke kelas, takut Key oppa melihat mukaku yang merah.

Key POV

Sampai di sekolah juga. Gomawo, kata __ dengan tersenyum.

Ne,, jawabku sambil mengacak-acak rambut __

Tanganku bergerak dengan sendirinya dan mengacak rambut __ . Aku malu, tapi aku berusaha menyembunyikan rasa malu itu.

__ cepat-cepat berjalan ke kelas, kenapa dengan __?? Tanyaku dlam hati. Ah,, sudahlah. Kataku lalu berjalan ke kelas.

YOU POV

Seperti biasa semua pelajaran di sekolah hanya masuk ditelinga kananku dan keluar dari telinga kiriku, kecuali BAHASA INGGRIS,, pelajaran kesukaanku… Tapi jangan anggap remeh aku dulu, meskipun aku tak pernah mendengarkan penmjelasan guru,, aku selalu mendapatkan rengkin 2/3 . Hebatkan ??

Jam istirahat aku hanya di kelas, tiba-tiba Taemin oppa dtang menghampiriku. __-ah !! seru taemin oppa. Hay oppa !! jawabku dengan tersenyum. Aku bercerita dengan Taemin opa tentang sekolah, dan semuanya. __-ah ,, dua hari lagi ulang tahun Key hyung,, apa kau tak punya ide untuk membuat kejutan buat Key Hyung?? Tanya Taemin oppa..

Ohhh,, biarkan aku pikir dulu kejutan apa yang bagus,, jawabku dengan tersenyum..

Oh, ya sudah. Kalau begitu aku ke kelas dulu. Jangan lupa buat kejutan yang romantis ..

Kata Taemin oppa sambil tersenyum..

Maksud oppa ?? tanyaku dengan heran..

Ah,, sudahlah…. bye-bye kata Taemin oppa dengan tersenyum….

Aku penasaran kejutan yang romantis untuk apa ??

Taemin POV

Aku bercerita dengan __ tentang sekolah, dan semuanya. __-ah ,, dua hari lagi ulang tahun Key hyung,, apa kau tak punya ide untuk membuat kejutan buat Key Hyung?? Tanyaku..

Ohhh,, biarkan aku pikir dulu kejutan apa yang bagus,, jawab __ dengan tersenyum..

Oh, ya sudah. Kalau begitu aku ke kelas dulu. Jangan lupa buat kejutan yang romantis ..

Kataku sambil tersenyum..

Maksud oppa ?? tanya __ dengan heran..

Ah,, sudahlah…. bye-bye kataku dengan tersenyum….

Pasti __ penasaran dengan maksudku membuat kejutan yang romantis..

Maksudnya karna Key oppa menyukai __. Jadi lebih baik __ membuat kejutan yang romantis agar Key oppa semakin cinta sama dia.. Hahaha,, ide gilaku….

YOU POV

Aku masih memikirkan kata Taemin oppa..

Heyy !!! mikirin apa sih ??

Krystal !! kau mengejutkan ku saja,, kataku sambil mengelus dadaku..

Miaannnnnn,, jawab Krystal dengan tersenyum…

Dari mana kau ?? tanyaku dengan penasaran…

Habis makan di kantin sama jonghyun oppa,, jawab krystal dengan bahagia..

Oh,, ternyata kamu lagi seneng-senengnya karna itu ??

Ia hanya tersenyum dan berjalan ke tempat duduknya….

Hmmmmm,, dasar kalau lagi jatuh cinta pasti gitu deh..

Aku kembali memikirkan kata Taemin oppa..

AAARRRGGGHHH,,sudahlah tidak usah dipikirkan…

Intinya aku akan mebuat kejutan yang membuat Key oppa bahagia,, kataku dengan tersenyum….

***

Bel pulang sekolah berbunyi….

Aku berjalan ke halte,, tapi aku melihat Taemin oppa menggunakan topi dan masker,kasian skali Taemin oppa harus sperti itu agar orang tidak tau..

Hey, TERORIS !! kataku bercanda…

Taemin terkejut dan menjitak kepalaku… Auuuuwww,, sakittt… rintihku.

Aku pun menjitak kepala Taemin oppa dan berlari lagi…

Aku dan Taemin oppa naik bus dan pulang..

***

23 September 2010

Key POV

Aku terbangun dan SIALLL………

Aku kesiangan,, aku baru ingat wekerku diambil Taemin kemarin….

Aku berlari seperti orang gila dan bersiap secepat mungkin….

Aku berlari ke motorku dan pergi ke sekolah..

Aku melihat __,, tapi dia dengan siapa itu ?? oohh, ternyata dia dengan Minho.. Apa-apaan itu kenapa mereka mesra sekali ?? AARRGGGHHHH,, kenapa aku jadi marah ?? Apa aku cemburu ?? Ah, lupakan itu..

YOU POV

Aku kesiangan lagi…..

Aku bersiap ke sekolah secepatnya dan ketika aku berlari aku terkejut Minho oppa di depan rumahku menggunakan topi dan masker…

Ada apa oppa ?? tanyaku dengan heran… Tumben sekali kau datang ke sini ??

Taemin menyuruhku untuk ke sekolah denganmu,, katanya kita harus bergandengan tangan dan semesra mungkin agar membuat key cemburu..

MWO ?? tanyaku saking terkejutnya… Buat apa Key oppa cemburu ?? Ia sama sekali tak ada hubungan apa-apa denganku….

Yyaa,, Minho oppa menjitakku… Kau tak taukah ?? Selama ini Key itu menyukaimu,, Tapi dia berusaha menyembunyikannya…

Sudahlah kita sudah terlambat, kaja !! Minho oppa menarikku…

Aku masih memikirkan perkataan Minho oppa,, tak salah dengarkah aku ??

Key oppa juga menyukaiku?? Rasanya aku ingin pingsan….

Ketika aku dan minho oppa sedang berjalan, Aku meihat Key oppa di jalan..

Minho oppa langsung menggandeng tanganku dengan mesra.. Aku sempat gugup…

Tenanglah cuma acting,, kata Minho oppa sambil mengacak rambutku.

Aku tersenyum pada Minho oppa….

Key POV

Kejadian tadi pagi masih ada di pikiranku…

Apakah minho dan __ pacaran ?? Jika iya ,, berarti aku terlambat mengungkapkan perasaanku ?? Aaaaargghhh ,, menyebalkan !!!

Aku membuka handphoneku dan aku baru sadar kalau hari ini ulang tahunku…

Apakah tak ada yang mengucapkan selamat padaku??

Onew oppa dan Jonghyun hyung menatapku dengan dingin tadi pagi,, mungkin mereka marah karena aku tak membuat sarapan, Tapi kenapa mereka melupakan ulang tahunku ?

Key !!! dilarang menggunakan handphone di kelas… Kau keluar !! kata park sosaengnim dengan marah….

Aku berjalan tanpa arah kepalaku masih pusing dengan kejadian-kejadian hari ini…

Aku berjalan dan melihat __ . Ia hanya tersenyum padaku lalu berjalan…

Apa-apaan ini ?? bahkan __ tak mengingat ulang tahunku…

***

Aku berjalan ke motorku untuk pulang,, dan sialnyaban motorku kempes !!!

Apakah hari ini hari sialku ?? SIALLLL,, kataku dengan kesal…

Terpaksa aku membiarkan motorku dan berjalan kaki,, aku melihat __ dan Minho didepanku…Lagi-lagi mereka mesra sekali…

Aku cemburu !!!

Jalanan masih basah gara-gara hujan lebat tadi…

Aku berjalan dengan menunduk, tak ingin melihat pemandangan di depanku…

Tiba-tiba sebuah motor dengan kelajuan tinggi melintas dan air dijalan mengenai seragamku,, SIALLLLLLL….. kataku dalam hati…

Sesampainya di dorm, aku melihat Onew dan Jonghyun hyung sedang makan ice cream, sedangkan minho dan taemin sedang bramin PS..

Aku masuk ke kamar mandi dan mandi,, Setelah itu aku keluar berjalan-jalan. Hari ini hari yang menyebalkan..

Aku berjalan-jalan hingga larut malam…

Sekarang Pukul 10 malam lebiihi baik aku pulang..

YOU POV

Sebenarnya ini semua usulku untuk membuat kejutan buat Key oppa….

Semua kejadian na’as yang menimpanya adalah usulku,, tapi soal aku dan Minho oppa berpura-pura pacaran bukan usulku tapi usul Taemin oppa…

Selama Key oppa pergi aku,SHINee oppa (minus Key oppa),Krystal telah menyiapkan semuanya termasuk membuat kejutan untuknya J

Kami semua bekerja dengan sangat keras..

Yupp,, semuanya beres….

Sedikit lagi Key oppa pulang….

Key POV

Aku pulang,, kataku dengan datar sambil menyalakan lampu…

Aku begitu terkejut melihat samua ini…

SAENGIL CHUKKAEEEE KIM KEY BUM !!!! semuanya berteriak disana juga ada orangtuakudan nenekku….

Gomawo Chingu !!! kataku dan memeluk mereka semua…..

Ini kejutan terindah buatku…. kataku dengan tersenyum…..

Aku melihat __ tersenyum kearahku,, aku membalas senyumannya dengan senyuman…

Oh ya satu lagi,, kata Minho….

Minho berjalan ke arahku dan berbisik sesuatu…

Gomawo, kataku sambil tersenyum kepada Minho…

___ ke taman belakang yuk !! kataku sambil menarik tangannya ..

***

__-ah ,, taukah kau apa yang aku rasakan selama ini ??

Ketika melihatmu bermesraan dengan Minho aku cemburu….

Aku berpikir kalau aku menyukaimu dan spertinya itu benar…

__-ah,, SARANGHAE !! teriakku….

Ne,, SARANGHAE OPPA !! Teriak __ …

Aku terkejut mendengar ucapan __…

Aku menyayangimu,, dan berjanji akan selalu menjagamu…. kataku dan menciumnya..

YOU POV

___ ke taman belakang yuk !! kata key oppa sambil menarik tanganku..

***

__-ah ,, taukah kau apa yang aku rasakan selama ini ??

Ketika melihatmu bermesraan dengan Minho aku cemburu….

Aku berpikir kalau aku menyukaimu dan sepertinya itu benar…

__-ah,, SARANGHAE !! teriak Key oppa….

Ne,, SARANGHAE OPPA !! Teriak ku juga …

Key oppa terkejut mendengar ucapan ku….

Aku menyayangimu,, dan berjanji akan selalu menjagamu…. kata Key oppa dan menciumku…

Oppa…. panggilku ….

Hmmmm ?? tanay Key oppa.

Aku menyerahkan sebuah kotak kepada Key oppa..

Apa ini ?? tanya Key oppa …

Buka saja,, jawabku sambil tersenyum…

Key oppa membukanya dan isinya adalah coklat dengan warna pink,, dan sebuah sapu tangan bertuliskan 23092010 ( tepat ulang tahun Key oppa )

Oppa tau mengapa,, aku memberikan cokelat itu ??

Karena makaann kesukaan oppa dan aku waktu kecil adalah coklat dan warna kesukaan oppa pink. Jadi aku membuat cokelat yang berwarna pink.

Dan saputangan itu berwarna biru, karena biru adalah warna kesukaanku dan aku menulis tanggal hari ini agar ketika oppa melihat saputangan itu oppa akan ingat aku,, hhe 😀 jawabku dengan tersenyum

SPECIAL FOR YOU OPPA !!

Lalu aku mencium pipi Key oppa ……..

Cie,, cie,, cie……

Ternyata di belakang SHINee oppa dan Krystal sedang berdiri…..

Akhir yang bahagia J

 

~ THE END ~

( FF ) Kalau Cinta Sudah Direkayasa by Rendria NyuNyu

11 February 2011 at 12:59 PM | Posted in FF ( FanFiction ), SHINee, Super Junior | Leave a comment
Tags: ,

PART 1

Cast :
Park Yoora
Kim Key Bum SHINee
Jessica Jung SNSD

_KonKuk University_

Yoora POV
“Ne amma, aku akan datang. Tunggu sebentar” kataku menjawab amma diseberang sana. “Ne amma…berhentilah memaksa…aku akan datang lebih cepat. Amma yang sabar sedikit…Aku ?? Aku bersama Key di kantin kampus. Oh, ne ne, aku akan pulang. Anni…tidak ada jadwal, mungkin nanti sore. Ah ne…da…” sambil menutup ponselku, aku berpamitan pada Key dan langsung meninggalkannya di kantin. “Key, aku pulang dulu ya, amma sudah marah-marah, da…” kataku sambil bercanda dengan Key.
“Ne ne, aku tau ammamu dan aku tau kamu Yoora. Kita sudah berteman dari sekolah dasar” katanya sambil tertawa keras. “Terserah kau saja…”jawabku singkat sambil berlalu dari kantin.

_Rumah Yoora_

Yoora POV
“Nae Hom…” kataku membuka percakapan dan amma langsung menyambutku dengan sedikit marah.
“Kau baru datang sekarang, dari mana saja ??”
“Aku tadi menunggu bus. Busnya lama sekali, jadi aku telat pulang. Aku mau ambil minum dulu didapur”. Aku berjalan menuju dapur dan amma mengikuti dari belakan. Ketika aku akan minum
“Amma ingin kamu menikah dengan anak teman amma”

CROOT…
“Uhuk…uhuk…mwo ?? Am…amma…” jawabku kaget sampai air yang aku tegak hampir mengucur kemana-mana.
“Ne, amma akan menjodohkanmu dengan seorang namja anak teman amma”
“Tapi kenapa bukan Jessi unnie saja yang amma jodohkan ??”
“Unniemu sebentar lagi akan ujian, amma takut mengganggunya”
“Aku juga akan ujian, kenapa amma memaksaku untuk melakukan perjodohan ??”
“Yang jelas menikah”
“Ne ne menikah, tapi kenapa aku ??”
“Karena kau setelah ujian tidak akan mencari kerja, sedangkan unniemu akan mencari kerja”
“Ha…amma…amma jahat sekali dengan aku??”
“Amma tidak jahat padamu, amma hanya ingin mendapatkan cucu darimu karena amma sudah semakin tua. Pokoknya besok malam kamu harus tampil cantik secantik mungkin”
“Apa unnie sudah tau hal ini ??”
“Sudah, jadi unniemu akan membantu mendandanimu besok malam”
Tanpa undangan, secara mendadak Jessi unnie datang dan berceletuk membuat aku kaget “Aku sudah tahu hal itu, jadi tenang saja Yoora, aku akan mendukungmu” katanya mendadak
“Unnie ?? Unnie sejak kapan ada disini ??”
“Sejak tadi dongsaengku sayang, besok malam kamu harus bertemu dengan calon suamimu, unnie juga ingin bertemu”
“Unnie…aku jadi ingin menangis…”
“Sudahlah…sekarang sudah sore, kau tidak ada jadwal masuk kuliah ??”
“Ne…aku akan berangkat sekarang. Kalau begitu, aku berangkat sekarang, da…” kataku sambil beranjak pergi dari rumah.

_KonKuk University_

“Hua Key…aku akan menikah” kataku ketika bertemu dengan Key di tempat biasa.
“Mwo ?? Menikah ?? Kau mau menikah dengan siapa ?? Pacar saja kau tidak punya ?? Gimana mau menikah ??”
“Duh…kata-katamu pedas sekali ?? Aku akan menikah dengan namja anak teman ammaku, dan besok malam aku akan bertemu dengannya, bagaimana caranya agar bisa kabur dari perjodohan itu”
“Terima nasib saja kenapa ??”
“Anni…aku tidak mau menikah dengan namja yang tidak aku kenal”
“Ya sudah, temui dia dulu baru kamu kenalan, kamu bakal suka, mau nikah, punya anak, sudahkan ??”
“Anni anni anni…aku tidak mau, sekali tidak mau ya tidak mau”
“Ya sudah…eh sudah masuk, aku duluan ya” Key meninggalkanku begitu saja di kantin. Aku hanya bisa berharap sendiri agar besok namja itu tidak datang ke rumah.

_Keesokan Harinya_

“Yoora…cepat bangun, hari ini kau harus siap-siap” amma membangunkanku dengan suara yang kencang.
“Hoam…ne aku bangun” sambil menguap aku menjawab kata-kata amma
“Hari ini kau tidak usah masuk kuliah, amma akan membawamu ke salon. Sekarang bersiap-siaplah”
“Ne ne terserah amma”

_Malam Harinya_

“Kau harus memasang muka yang manis saeng” kata Jessi unnie sambil berbisik-bisik.
“Aku tahu itu unnie, tenang saja…” kata pada unnie sampai sebuah mobil hitam berhenti didepan rumah. Dan ketika seorang namja turun dari mobil…

Bersambung. . .

 

PART  2

Cast :
Park Yoora
Kim Key Bum SHINee
Jessica Jung SNSD
Kim Heechul Super Junior

“Nah Yoora, ini Heechul, calon suamimu” kata amma sambil memperkenalkan oppa padaku
“Oppa ?? Kau…kau ada disini ??” tanyaku kaget
“Loh loh, kalian sudah kenal ?? Wah…sepertinya akan semakin mudah menjodohkan kalian ??”
“Ne bibi, kami sudah kenal, aku satu jurusan dengan Jessi” kata Heechul oppa sedikit gagap
“Jessi…kenapa kau tidak bilang pada amma ??”
“Mianhaeyo amma, mollayo kalau yang akan dijodohkan dengan Yoora adalah oppa” kata Jessi unnie sedikit gelisah
“Tidak apa-apa, yang penting kalian berdua sudah saling kenal dan lebih gampang untuk menjodohkan kalian. Kalau begitu, ayo kita makan malam bersama, sudah amma siapkan makanan. Ayo Heechul, Yoora, Jessi, cepat pergi ke meja makan” kata amma begitu senang. Ketika di meja makan tidak ada yang berbicara kecuali kalau amma yang memancing untuk bicara. Kami semua hanya diam membisu sampai Heechul oppa pulang.

_Taman Belakang_

“Unnie, unnie tidak marah pada amma ??” tanyaku membuka pembicaraan
“Marah ?? Mwo ??” tanyanya balik padaku
“Karena Heechul oppa akan dijodohkan denganku” tanyaku ragu-ragu
“Aku tahu itu dan amma tidak tahu kalau Heechul oppa adalah chagiya unnie” katanya hampir menangis
“Unnie…unnie jangan menangis…aku tahu, unnie sangat mencintai Heechul oppa kan ?? Aku akan cari cara agar aku dan Heechul oppa tidak menikah, tenang saja” kataku menghibur Jessi unnie
“Tapi bagaimana caranya ??” tanyanya dengan suara samar-samar
“Entahlah…tapi aku akan menenmukan caranya besok” kataku meyakinkan
“Tidak ada waktu lagi, bulan depan kau sudah akan menikah dengan Heechul oppa, dan…kau tidak bisa mengelak dari penikahan itu”
“pasti bisa unnie, aku yakin itu, bersabarlah sedikit…ok. Sekarang ayo kita tidur, aku sudah lelah dengan make up ini”

_Keesokan Harinya_

“Unnie, boleh aku masuk ??” tanyaku dari luar kamar Jessi unnie
“Boleh sayang, masuk saja” katanya dari dalam dan aku pun masuk.
“Unnie, aku semalam tidak bisa tidur” kataku memulai pembicaraan
“Mwo ??”
“Aku memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa menghindar dari pernikahan itu”
“Dan…??” tanya unnie ragu padaku
“Aku akan mencari seorang namja yang mau berpura-pura menjadi suamiku”
“Mwo ?? Kamu dapat ide seperti ini dari mana ??”
“Aku ingat sebuah film yang masalahnya seperti kita, tapi ada perbedaannya sedikit sih, dan aku mengambil ide ini dari adegan yang ter…” belum sempat aku menyelsaikan kata-kataku, unnie sudah balik bertanya padaku
“Lalu, nanti siapa yang mau jadi suami pura-puramu ??”
“Entahlah ?? Unnie punya ide ??”
“Key…” kata unnie mendadak padaku dan kelihatannya unnie melamun
“Siapa unnie ?? Key ?? Unnie yakin ??”
“Yap, Key kan sudah berteman denganmu sejak sekolah dasar, jadi kau jadi punya alasan untuk menikah dengannya”
“Ide unnie boleh juga, aku akan menelpon Key” sambil mengambil ponselku dari saku, aku langsung mencari nomer Key dan memintanya bertemu di Café Daum.

_Cafe Daum_

“Hey Yoora…” sapa Key dari meja didepan café itu.
“Key…aku mau bicara empat mata denganmu. Langsung aja, aku mau kamu jadi suami pura-pura aku” aku langsung menyampaikan rencanaku pada Key
“Hey…santai saja, kenapa kau mendadak berkata seperti itu ???”
“Kau pasti tahu Heechul kan ?? Chagiya nae unnie itu loh…”
“Ne, aku tahu, dia yang membantuku mengerjakan tugas dadakan Mr.Kang, memangnya kenapa ??”
“Ternyata dia yang akan dijodohkan denganku”
“Mwo ?? Benarkah ??”
“Ne…dan aku tidak mau menyakiti hati Jessi unnie” kataku resah
“Em…kalau begitu, aku akan membantumu, dengan cara menjadi suami pura-puramu” kata Key jelas
“Benarkah ?? Kau yakin ??”
“Aku yakin dengan kata-kataku tadi”
“Kalau begitu, kita harus pergi ke percetakan membuat buku nikah palsu dan foto penikahan palsu”
“Itu butuh waktu lama lo…kau yakin bisa selesai sekarang ??”
“Tidak ada kata lama, sekarang juga semuanya harus jadi”
“Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi” kata Key, dan kami pergi ke tempat percetakan dan tukang foto. Sampai malam menjelang, aku mampir dulu ke apartement Key untuk mempersiapkan semuanya karena aku butuh melakukannya sekarang agar semua berjalan dengan lancar.
Ketika sampai di rumah…

Bersambung. . .

 

PART  3

Cast :
Park Yoora
Kim Key Bum SHINee
Jessica Jung SNSD
Kim Heechul Super Junior

“Kau siap Key ??” tanyaku pada Key. “Kalau kau siap, tunggu disini sebentar. Aku akan masuk kesana sebentar untuk meyakinkan amma”
“Demi chingu lamaku, aku berharap tidak akan tergagap bila bertemu bibi” jawabnya singkat. Ketika aku masuk, amma sudah menyambutku dengan gembira. Tapi kegembiraan itu terhenti ketika aku berkata pada amma bahwa aku telah menikah dengan Key.
“Amma, sepertinya amma tidak perlu susah-susah menjodohkanku dengan Heechul oppa, karena aku sudah…sudah…” kataku menirukan film yang tonton.
“Sudah apa Yoora ?? Kau seperti…gugup ??” tanya amma curiga
“Ne amma, karena aku…sudah…menikah diam-diam”
“MWO ??? Katakan itu sekali lagi Yoora, amma tidak bisa mencerna perkataanmu” kata amma membentak dan sepertinya amma percaya padaku
“Ne amma, aku sudah menikah dengan…dengan…Key” kataku sambil mengalihkan pandangan dan ketika itu Key masuk dan mengagetkan amma.
“Ne bibi, aku dan Yoora sudah menikah diam-diam, karena aku takut bibi tidak akan menerimaku sebagai menantu, jadi kami menikah di gereja dekat kampus, dan aku bawa buku serta cincin pernikahan kami, dan ini juga ada foto-fotonya” kata Key panjang lebar sambil menunjukkan foto yang dibawanya kepada amma.
“Omona…Yoora, kenapa kau tidak bilang kalau kau su…sudah menikah dengan Key ??” tanya amma dengan kesal
“Karena aku…aku tahu, pasti amma tidak akan membiyarkanku menikah dengan namja yang bukan pilihan amma. Aku dan Key juga memendam perasaan yang sama sejak lama, dan aku takut berpisah dengan Key” jawabku panjang
“Amma kecewa dengan kalian, amma juga sedih karena tidak bisa hadir di acara pernikahan anak amma. Dan sepertinya kau tidak jadi menikah dengan Heechul. Key, sekarang kau jangan panggil amma dengan kata bibi, panggil saja dengan kata amma dan tinggallah disini” kata amma sedih
“Mwo ?? Tinggal disini ?? Apakah tidak merepotkan amma ??” tanya Key pada amma
“Sudahlah sayang…ikuti saja kata amma” kataku manja pada Key
“Ne sayang, akhirnya ammamu tahu kalau kita sudah menikah dan kita tidak perlu berpisah lagi” balas Key dengan gayanya yang seperti kucing betina
“Baiklah kalau begitu, sebaiknya kita makan malam bersama di meja makan. Oh ya Key, karena kau sudah menjadi suami Yoora, kau harus bisa menjaga Yoora dengan baik, jangan kau buat dia terluka” kalimat amma itu menjadi penutup sebelum kita makan malam bersama. Setelah makan malam bersama aku dan Key pergi keluar karena amma menyuruhku membeli bahan-bahan memasak kimchi untuk menyambut Key sebagai bagian dari keluarga amma.
“Key, aktingmu tadi bagus sekali, aku salut padamu, kau cocok sebagai actor” pujiku pada Key
“Hahahaha anni…aku kan hanya membantumu agar bisa terbebas dari pernikahan itu” canda Key
“Aish…kau ini. Oh ya, nanti kalau kita tidur bagaimana ??” tanyaku padanya
“Tenang…aku akan tidur dibawah, kau tidur diatas. Beres kan ??”
“batul juga, ide yang bagus. Tapi kalau amma tiba-tiba masuk kekamar ??”
“Pikiranmu jauh amat ?? Ya tinggal kita kunci saja kamarmu, agar semakin meyakinkan”
“Ne ne ne, aku setuju, kalau begitu, rencana kita harus berjalan dengan lancar. Sekarang supir mobil ini sedikit cepat, agar kita bisa sampai dirumah”
“Ok, Let’s Go…”

_Di Rumah_

“Amma, nae hom” kataku cepat mengagetkan amma
“Kalian sudah datang ?? Baguslah kalau begitu. Kalian lelah ?? Kalau ya, cepat pergi tidur. Amma harap kalian bisa menikmati malam-malam kalian dirumah ini. Semoga” kata amma ragu-ragu
“Ne amma, aku dan Key pasti akan senang bila tinggal disini, ya kan sayang ??” tanyaku pada Key sambil menggandengnya dengan mesra
“Ne sayang, kita akan semakin dekat disini” jawab Key sambil menunjukkan kemesraan pura-pura itu pada amma
“Kalau begitu amma, aku dan Key mau tidur dulu, hoam…sudah mengantuk aku, Ayo Key” kataku pada Key dengan mesra
“Kalau begitu, cepat tidur, sepertinya darah muda kalian tidak bisa terelakkan” kata amma sambil tertawa
“Selamat malam amma” ucap Key terakhir kali pada amma. Kami berdua langsung masuk kamar dan menguncinya dari dalam.
“Aku kangen kamarmu” kata Key tiba-tiba
“Memangnya kau sudah pernah masuk kamarku ??” tanyaku heran
“Sudah dong…Jessi nuna yang megajakku masuk waktu sekolah menegah”
“Ah…aku tahu itu, unnie sudah menceritakannya padaku. Ya sudah, aku mau tidur, kau tidur disini ya”
“Hmmmm baiklah, aku juga sudah mulai mengantuk. Selamat malam” kata Key langsung menutup matanya
“Selamat malam juga suami pura-puraku” kataku berbisik.

_Keesokan Harinya_

“Hoam…selamat pagi” kataku sambil membuka mata
“Selamat pagi juga. Mimpimu indah ??” tanyanya padaku
“Indah, Indah…sekali” jawabku sambil tersenyum sendiri
“Kalau begitu aku mau mandi” kata Key bergegas pergi menuju kamar mandi
“Hey Key, setelah kau mandi ganti aku ya ??”
“Ne…”
Setelah selesai mandi, aku dan Key langsung pergi ke dapur menuju meja makan. Disana sudah ada Jessi unnie dan amma.
“Hay Key, apa kabar ??” tanya Jessi unnie pada Key
“Baik nuna, nuna sendiri ??”
“Aku juga sama sepertimu, baik-baik saja” jawab Jessi unnie dan setelah itu aku yang sedang minum susu tersedak karena kata-kata amma yang membuat semua orang termasuk aku kaget setengah mati. Amma berkata…

Bersambung. . .

 

PART 4

Cast :
Park Yoora
Kim Key Bum SHINee
Jessica Jung SNSD
Kim Heechul Super Junior

“Yoora, Key, amma ingin kalian cepat-cepat memiliki anak. Amma sudah tidak sabar memiliki cucu dari kalian” kata amma mendadak.
“Ehek ehek…” aku tersedak susu yang aku minum
“Minum dulu susu itu…baru kau kaget” kata Key sambil mengelus-elus punggungku.
“hah…amma, amma bicara apa tadi ??” tanyaku setelah meminum susu yang membuatku tersedak
“Ne, amma ingin kau dan Key cepat-cepat memiliki anak ?? Ada yang salah ??” tanya amma berlagak bingung
“Ah…anni amma, kalau masalah amma menginginkan cucu tergantung waktu saja” kata Key dengan tenang
“Maksudmu tergantung waktu Key ??” tanya amma heran
“Yoora dan aku masih kuliah, lulus masih lama, takutnya kalau Yoora hamil duluan, dia tidak mau kuliah lagi. Dan sebagai suami, aku tidak mau kalau aku pergi kuliah sendiri” kata Key dengan tenang
“Hmmm betul juga katamu Key. Baiklah, amma akan menunggu kalian lulus dan amma tidak sabar mendapatkan seorang cucu, berjanjilah kalian akan memberikan amma cucu” kata amma dengan gembira
“Ne amma, kami berjanji akan memberikan amma cucu” kataku sambil menyembunyikan kegugupanku.
“Kalau begitu, amma mau pergi sebentar, amma mau bertemu dengan Heechul” kata amma membuat kekagetan sekali lagi dan kali ini Jessi unnie yang kaget
“Amma bertemu dengan Heechul oppa untuk apa ??” tanya Jessi unnie
“Untuk membicarakan sesuatu hal. Kalau begitu, sampai jumpa saat makan siang” kata amma sambil berlenggang pergi
“Duh…apa yang akan amma bicarakan dengan Hyun oppa ??” Jessi unnie bertanya-tanya dengan cemas
“Tenang saja nuna, pasti mereka akan membicarakan pernikahanmu dengan Heechul oppa” kata Key menenangkan
“Em…mungkin saja itu terjadi” kataku pada unnie
“Semoga saja. Dan semoga saja pernikahan pura-pura kalian tidak diketahui amma” mendadak kalimat itu meluncur dari mulut Jessi unnie
“Nuna ?? Kau…kau tahu ??” tanya Key kaget
“Bahkan yang menyuruhku berpura-pura menikah denganmu adalah Nicole unnie, jadi dia juga ikut tahu tentang rahasia ini” kataku pada Key
“Oh begitu ?? Ya Sudah kalau begitu, aku mau lanjutkan makanku dulu” kata Key sambil melanjutkan makannya.
“Oh ya Key, kalau misalkan amma benar-benar menyuruhku cepat-cepat hamil bagaimana ???” tanyaku bingung sambil melanjutkan makan
“Kan ada tuh bantal-bantalan, pakai yang itu aja” jawab Key santai
“Tapi nanti kalau ketahuan gimana ??” tanya balik Jessi unnie
“Yah…mungkin itu sudah saatnya kita mengaku, atau begini saja, kalau misalkan Nicole nuna sudah menikah dengan Hyun hyong, maka sudah saatnya kita mengaku” kata Key
‘’Tapi…” aku sedikit ragu mengatakannya
“Tenang saja, ammamu tidak akan marah tentang hal ini” katanya

Key POV {Dalam Hati}

Kenapa aku katakan itu tadi ?? Aku masih nyaman dengan Yoora saat ini. Dasar babo babo babo. Ayolah Yoora…lihat aku disini yang mencintaimu, kenapa kau menganggap diriku hanya seorang teman ?? Lihatlah aku Yoora…disini…bukan sebagai teman atau suami pura-pura, tapi sebagai chagiya, bahkan sebagai suami sahmu aku pun mau. Saranghaeyo Yoora.

Yoora POV {Dalam Hati}

Key babo babo babo. Kenapa kau bilang seperti itu tadi…kau tahu, aku benar-benar mencintaimu sejak sekolah menengah, dan itu yang membuatku tidak memiliki chagiya sampai saat ini, karena aku cinta kamu. Dan aku berharap kau mau bersamaku bukan hanya sebagai suami pura-pura, tapi benar-benar suamiku, tidak ada kata pura-pura dibelakangnya. Aku harap kamu tahu itu.

_Di Suatu Tempat_

“Heechul” sapa amma Yoora dari jauh “Kau sudah menunggu lama ??”
“Ah bibi, aku baru saja sampai disini. Duduklah bi” kata Heechul dengan santai
“Kau sudah tahu, Yoora dan Key pura-pura menikah. Hmmm sepertinya Yoora ingin menghindar dari pernikah kalian berdua”
“Bibi tahu dari mana ??” tanya Heechul dengan nada senang
“Hey, sepertinya kau sangat senang ?? Apa kau juga ingin menghindari pernikahan itu ??” tanya amma Yoora ketus
“Sebetulnya bi, aku mau jujur tentang suatu hal” jawabnya ragu-ragu
“Suatu…hal ??”
“Ne, menyangkut Yoora dan Jessi. Sebetulnya aku sudah berpacaran dengan Jessi 3 tahun terakhir ini. Dan, tahun ini amma menyuruhku berjodoh dengan seseorang, padahal setelah selesai kuliah aku ingin melamar Jessi, dan beneran bi, mollayo kalau gadis yang akan dijodohkan denganku adalah Yoora, adik kandung Jessi”
“Sebetulnya bibi sudah tahu semua ini, ammamu yang bilang kalau kau sudah berpacaran dengan Jessi cukup lama. Yah…sebetulnya, bibi, Jessi dan ammamu berencana akan menguji kesetiaanmu pada Jessi, tapi kenapa sekarang yang bermasalah Yoora ?? Bibi jadi pusing sendiri ??”
“Benarkah ?? Berarti aku sudah ditipu oleh Jessi ?? Ah ne, bibi tahu dari mana kalau Yoora dan Key pura-pura menikah ??”

Bersambung. . .

 

PART 5

Cast :
Park Yoora
Kim Key Bum SHINee
Jessica Jung SNSD
Kim Heechul Super Junior

“Hahaha bibi tahu Key dan Yoora menikah pura-pura dari Jessi” kata ibu Yoora dengan santai
“Tapi kenapa Jessi menceritakan itu pada bibi ??” tanya Heechul sedikit bingung
“Yah…karena Jessi tahu kalau Key dan Yoora sama-sama saling mencintai, tapi baik Key maupun Yoora tidak mau memberitahu perasaan mereka masing-masing”
“Ow…ne ne ne, aku mengerti. Oh ya bibi, jadi…kapan aku bisa menikah dengan Jessi ??” kata Heechul sedikit menggoda
“Aish…kau ini, kalau itu, tanyakan saja pada Jessi, bulan depan juga boleh ??” kata ibu Yoora balik menggoda
“hahaha bibi ada-ada saja”
“Ya sudah, kalau begitu, bibi mau pulang dulu. Bibi ingin lihat acting Yoora dan Key lagi”
“baik bi, aku juga mau kuliah. Kalau begitu, annyeonghigaseyo”

Seperti dengan hari-hari yang lain, acting Yoora dan Key berjalan dengan lancar meski ibu Yoora tahu kalau mereka hanya pura-pura. Sampai suatu malam Heechul dan ibunya datang melamar Jessi.

“Nyonya Jung, jadi begini, saya datang bersama Heechul untuk melamar putri nyonya yang bernama Jessica Jung. Itupun kalau nyanyo tidak keberatan” kata amma Heechul
“Hahaha saya tidak keberatan. Bahkan saya sangat senang kalau Jessi cepat menikah, karena adiknya ternyata sudah menikah” kata amma Yoora dengan gembira
“Yah kalau begitu, sekarang lebih baik kita bicarakan kapan mereka menikah” kata amma Heechul
“Karena setahu saya minggu depan anak-anak kita sudah lulus kuliah, bagaimana sebagai hadiahnya adalah penikahan mereka ?? Kau setuju Jessi ??” kata amma Yoora
“Kalau aku ikut dengan kata Heechul oppa saja” kata Jessi malu-malu
“Aku setuju-setuju saja dengan ide itu” Jawab Hyun dengan lantang dan semua orang tertawa karena jawaban itu

_Hari Kelulusan Tiba_

Yoora POV

“Akhirnya unnie lulus juga, dan…” kataku ragu-ragu
“Dan kau harus mengaku pada amma kalua kau menikah pura-pura, dank au akan berpisah dengan Key ??” jawab Nicole unnie yakin
“Ne…itu yang aku takutkan dan…kata-kata unnie yang terakhir membuat aku takut setengah mati” jawabku murung
“Ayolah…lebih baik kau membantu unnie menyiapkan hari pernikahan unnie, dan…kau bisa sekaligus berpikir bagaimana caranya agar bisa terus bersama Key, kau bisakan ??” tanya Jessi unnie
“Baiklah, semoga aku bisa membantu” kataku sedikit lega

_Hari Pernikahan Jessica Jung dengan Kim Heechul_

Key POV

Akhirnya hari ini datang juga. Dan sebentar lagi aku akan kehilangan Yoora. Untuk selamanya. Yah, meskipun kita masih bisa bertemu di Café Daum, tapi rasanya akan berubah drastis. Dan seperti kenyataan, mungkinkah aku bisa mengungkapkan perasaanku pada Yoora ?? Entahlah…sepertinya aku harus siap-siap mengaku.

“Hey Key” terdengar suara dari belakang dan membuyarkan lamunanku
“Ah Ne Yoora, mwo ??”
“Sepertinya kita harus siap-siap mengaku pada amma”
“Tapi tunggu setelah pesta ini selesai, besok kita mengaku”
“Baiklah, aku setuju dengan idemu”
Pesta berjalan lancar. Aku sebagai pengiring Heechul dan Yoora sebagai pengiring Jessi nuna. Yah sampai pesta pada malam hari aku berakting sekali lagi sebagai suami pura-pura Yoora dan berlaku mesra didepan banyak orang dan mungkin inilah terakhir kalinya aku dengan Yoora, berlaku mesra didepan banyak orang. Tapi…entahlah, aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri.

_Keesokan Harinya_
Yoora POV

Pagi ini Key dan aku sudah bersiap-siap dengan pengakuan tentang pernikahan pura-pura yang aku lakukan dengan Key dan siap-siap mendapat semprot dari amma. Huft…semoga hari ini bukan hari terburukku.

“Amma, aku…aku dan Key mau mengaku sesuatu tentang pernikahanku dengan Key” kataku ragu-ragu
“Tentang pernikahan kalian yang pura-pura itu ??” jawab amma dengan santai
“Am…amma tahu dari mana ??” tanyaku pada amma
“Ne, bibi tahu dari mana ??” tanya Key pada amma
“Dari aku saeng-saengku sayang…” kata Jessi unnie mendadak dan membuat semua orang kaget setengah mati
“Nuna ?? Kenapa bilang-bilang ??” tanya Key dengan heran
“Key…Key…nuna tahu kau cinta sama Yoora kan ?? Dan kau Yoora, kau juga cinta dengan Key bukan ??” tanya Jessi unnie semangat
“Ne…aku…aku cinta Yoora, sejak ada dibangku sekolah menengah” kata Key malu-malu
“Nah…Key sudah mengaku, sekarang giliranmu Yoora saeng. Kami semua menunggu jawabanmu”
“Sebetulnya, aku memiliki perasaan yang sama seperti Key dan itu yang membuatku tidak mau membuyarkankan sandiwara ini” kataku sedikit sedih
“Baiklah…kalian boleh menikah, tapi dengan satu syarat” kata amma mendadak
“mwo amma ??” tanyaku pada amma
“Jangan sampai kalah dengan unniemu untuk medapatkan anak, karena amma ingin cepat-cepat punya banyak cucu”

Semua orang tertawa bahkan aku ikut tertawa dengan keras karena sebentar lagi aku dan Key…akan menyusul Jessi unnie dan Heechul oppa.

Bersambung. . .

 

PART 6

_Di Café Daum_
5 Bulan Kemudian. . .

“Yoora, aku mau bilang, saranghaeyo yeongwonhi” kata Key medadak di Café Daum
“Saranghaeyo Key” jawabku pelan pada Key. “7hari lagi adalah hari yang kita nanti bukan ??” tanyaku padanya
“Hmmm mm. Kau jangan pingsan ya”
“Hahaha tidak akan Key…”
“Baiklah…aku akan mengantarmu pulang, karena sekarang sudah terlalu malam, takutnya besok kita sama-sama telat bangun”
“Kita ?? Bukannya kau yang sering telat bangun ??” candaku
“Aish…kau ini. Ya sudah, ayo kita pulang”

_7 Hari kemudian_

Hari ini menyenangkan. Tamu datang dengan gembira dan merasakan apa aku dan Key rasakan.  Di pesta malam, tempat ini semakin ramai saja dengan tawa para tamu. Senang sekali rasanya sampai aku dan Key ada di kamar.

“Kau masih ingat kata-kata amma pada kita ??” tanya Key sambil tersenyum
“Mwo ?? Kata-kata yang mana ??” tanyaku sedikit kikuk
“Itu, yang gini Jangan sampai kalah dengan unniemu untuk medapatkan anak, karena amma ingin cepat-cepat punya banyak cucu” kata Key sambil menirukan gaya amma bicara
“Lalu ??” tanyaku pada Key sebelum dia menarikku keatas kasur dan akhirnya…

Kami mengalahkan Nicole unnie dan amma sangat menyayanginya.

 

~ THE END ~

2nd FF “FIRST to LAST LOVE (Part 2)”

5 December 2010 at 2:27 PM | Posted in E.L.F, FF ( FanFiction ), Super Junior | Leave a comment
Tags:

Annyong…^__^

FIRST to LAST LOVE (Part 2) udah kelar neh.. minggu yang sibukkk… fiiuuuhhh =,=

Huhuhu.. sepi skali ff Part 1nya… ga ada yg comment

Smoga Part 2nya ini banyak yang ngasih respon yahh… smoga J

Ya sudahlaaahhh.. ini dia FIRST to LAST LOVE (Part 2)…

Chekidot..!!

 

Title : FIRST to LAST LOVE (Part 2)

Cast : > You (Reader) as Cho EunBee

> Han Geng as HanKyung

> Kim KiBum as KiBum (Geng’s Dongshaeng)

> Kim Young Woon as KangIn Ahjjusi (Geng’s Appa)

> Park Jung su as Eunbee’s appa (Your Appa)

> Song Hye Kyo as Eunbee’s omma (Your Omma)

Genre: Romance

PG : >15

***************************************************************************************************************************

Eunbee POV

“Kreekk..!!” Samar-samar ku dengar bunyi pintu kamarku.. sepertinya ada seseorang yang baru saja menutup pintu itu. ahh.. ternyata ada yang mengikutiku.. ternyata ada yang melihatku menangis.. bagaimana ini???

Kuhapus air mataku.. aku berlari menuju pintu, mencoba mencari tahu, siapa yang sudah melihatku menangis.. tapi hasilnya nihil.. tak ada seorangpun di situ…..

End Eunbee POV


Author POV

Hari ini adalah hari terakhir keberadaan Cho Eun bee di rumah ini. Besok yeoja manis ini akan pulang ke London. Liburannya sebentar lagi usai.

Selesai makan malam, HanKyung mengajak Eunbee jalan-jalan di taman belakang rumahnya. Keluarga ini memiliki taman belakang yang sangat luas. Jelas saja, Appanya Hankyung suka berkebun. Inilah hobi yang dijalankannya ketika punya waktu luang.

Hankyung memimpin di depan. Tak menoleh sedikitpun ke arah Eun Bee, yang berjalan tepat di belakangnya. Namja itu berhenti tepat dibawah sebuah pohon berdaun rindang…

End Author POV

“Yaa.. Stupid,, kenapa kita tidak mengobrol di ruang keluarga saja? Disini dingin sekali..”. gerutuku kesal.

Aku benar-benar kedinginan, kulingkari syal menutupi semua sisi leherku, pelan-pelan aku itu menarik lengan baju hangatku sampai menutupi punggung tangan.

“Cepat jalan,, jangan banyak mengeluh. Badanmu sudah kurus, tapi masih saja malas.. Kalau seperti ini, kau akan tetap kupanggil Big. Araso??” katanya panjang lebar tanpa memandangku.

“Aiissshhh… Ne.. kau ini cerewet sekali”. Aku menghentakkan kakiku.

Hankyung tidak mempedulikan kalimatku. Dia terus berjalan dengan langkah lebar.

“Hankyung shi.. tunggu aku..!!” Seruku sambil berlari kecil menyusulnya.

Hankyung menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pohon berdaun rindang. Aku Cuma memandangnya ketika dia membalikkan badannya.

“Sudah sampai.. Naiklah ”. Kata namja itu.

Aku mengernyitkan dahiku.

“Yaaa Stupid..Kau memintaku untuk memanjat pohon ini? Kau benar-benar aneh”. Tanyaku bingung sambil menunjuk pohon itu.

“Apa kau buta?? Ini.. lewat sini..!”. Hankyung menunjuk tempat pijakan kaki pada batang pohon itu. Pijakannya terbuat dari potongan kayu yang dipaku pada batang pohonnya.

Dia membantuku menaiki pijakan itu. Aku naik perlahan hingga sampai di atas. Mataku benar-benar dimanjakan dengan pemandangan indah dari atas rumah pohon ini. Seisi taman bisa terlihat dari sini dan pemandangan langit bisa kunikmati dengan leluasa.

“Wow..!!!” Seruku..

Benar-benar kaget.. ternyata di halaman belakang rumah ini ada sebuah rumah pohon kecil. Rumah pohon yang sederhana. Sepertinya terawat dengan baik dan Terlihat jelas kayu yang digunakan merupakan jenis kayu yang kuat.

“It’s beautiful..!! Kenapa tidak pernah bercerita padaku?”. Protesku pada Hankyung.

“Karena kau tidak pernah bertanya..”. Jawabnya santai.

Aku memanyunkan bibirku.

“Tidak usah kaget seperti itu.. kajja,, duduklah..” katanya mempersilahkan aku duduk. Uniknya, disini terdapat 2 buah kursi mini terbuat dari belahan kayu pula. Akupun duduk di salah satu kursi itu. Dan namja itu duduk di samping kiriku.

Pohon ini sangat rindang, sinar bulan terlihat masuk diantara celah-celah daun. Indah sekali..^^

“Wahh.. bintang terlihat jelas sekali dari sini”. Gumamku dalam hati.

Kulihat Hankyung memandang serius ke langit. Tangannya dilipat didepan dadanya. Sepertinya dia juga kedinginan. Kulihat dia merapikan baju hangatnya itu.

Akhirnya, namja itu memecah kesunyian kami..

“Eunbee shi..!” Panggilnya sambil mengarahkan pandangannya padaku.

“Ye.. Waeyo?”. Jawabku sambil tersenyum.

“Besok.. jam berapa pesawatmu berangkat?” tanyanya.

“Jam 09.00 pagi. Wae?” Aku mengernyitkan dahiku.

“Oh.. ahni.. aku hanya bertanya” Namja itu terlihat menunduk.

“EunBee shi..!!” Panggilnya lagi.

“Hmm.. “ jawabku singkat.

“Eunbee,, apa kau ingat, dulu waktu kecil, kita sering duduk di atas atap rumah, dan melihat bintang bersama?”

Deeegggg…!!! O.o

“Ommo! Ingatannya kuat juga!!”. Gumamku dalam hati, kaget mendengar pertanyaannya.

Aku mengangguk pelan.

“Tentu saja aku ingat. Selalu aku ingat”. Tapi tak berani kuucapkan kalimat itu, cuma dalam hati saja.

“kau ingat malam itu, ketika aku jatuh? Bekas lukanya pun masih ada”. Katanya sambil menunjukkan bekas luka selebar 4 cm pada lengan kanannya itu.

“Yah.. aku ingat kejadian itu..!!”

*Flash back…

Malam itu, diam-diam kami keluar rumah dan duduk di atap rumahku. Karena kurang hati-hati, Hankyung terpeleset,dia terjatuh dan tangannya mengenai pagar rumahku. Sejak kejadian itu kami dilarang oleh appa dan omma untuk naik ke atas atap lagi, dan sudah pasti, kebiasaan kami itu pun tidak pernah kami lakukan lagi >.<

Tiba-tiba…

Aku teringat hari ulang tahunku itu. Di situlah asal usul gelang tersebut. Tanggal 25 Mei 1998, sebuah kado yang diberikan oleh Hankyung adalah sebuah Gelang biru sederhana dengan hiasan bintang. Dalam kadonya juga terdapat sepucuk surat, yang berbunyi :

Cho Eun Bee..Karena kita tak bisa lihat bintang dari atas genteng lagi, akhirnya aku membelikanmu gelang ini. Gelang ini ada bintangnya.. kau lihat,, indah bukan? Tiap kali kamu memakai gelang ini, anggap saja ada bintang di dekatmu. Sangeil Chukae, Big ^^ .

HanKyung :p

*End Flash back…

Hankyung mengagetkan ku ; “Yaa.. kenapa kau diam saja?”.

“Ah, aku terlalu lama membayangkan masa lalu”. Batinku.

Oh Ne,, aku masih ingat. Dan sejak saat itu kita dilarang naik ke atas atap lagi..”. Aku geli sendiri mengingat itu.

“Hm..aku masih ingat ketika kau menangis karena aku masuk RS selama 2 hari”. Dia tersenyum..

“Omo!! Kau,, kau masih mengingatnya?? Aiisshh..” Aigoo.. Hankyung berhasil membuat aku tersipu-sipu..

Kulihat namja itu tersenyum.. aiihh.. manis sekali.. ^^

Aku menunduk lesu.. Bukan itu yang ingin aku dengar… L

“Huahh..apa dia mengingat gelang pemberiannya itu?”. Seru ku dalam hati.

Suasana hening lagi.. aku sibuk dengan pikiran itu.. kecewa L

“Kau beruntung masih bisa melihat bintang dari tempat ini..”. Kataku dengan nada lesu.

“Hmm.. tentu saja,, aku biasa mengajak Kibum”. Jelas namja itu.

“Hanya Kibum?” Tanyaku kurang yakin.

“Ahni.. Kibum dan.. Kau..” Jawabannya ini membuat ku kaget. Ahh,, lagi-lagi aku gugup.

“Mwo?? Oohh..” Gugupnyaaa…wajahku memerah. Aku berusaha tidak terlihat malu-malu.

“Omo!! Jadi,, selama ini,, tidak ada orang lain yang dia ajak kesini? Termasuk yeoja yang kulihat malam itu?”.

“Ada apa ini?? Jantungku berdegup kencang”. Batinku lagi…

Suasana hening lagi…

“Eun bee shi.. apa kau percaya cinta sejati itu ada?”. Pertanyaan ini membuat aku sedikit kaku.

“Engg??!!” Respon ku kaget.

Aku menatap namja itu sesaat.

“Apa kau percaya?”. Tanyanya lagi.

“Ne..aku percaya…”. Kata ku pelan tanpa mengalihkan pandanganku padanya. “Setiap orang akan menemukan cinta sejatinya”.

Ahh.. Sedikit lega bisa berkata seperti itu =.=”

“Bagaimana denganmu?”. Aku balik bertanya pada namja itu.

“Hmm.. Aku sependapat dengan mu..” . Namja itu menunduk. Raut wajahnya berubah. Sepertinya dia sedang sedih.. ini sangat tidak cocok untuk orang seperti dia. Terlihat aneh jika bersedih…

Obrolan kami terhenti ketika Handphone milik Hankyung berdering.

“Ne appa” Hankyung menjawab teleponnya.

“Kangin ahjjusi??” Tanyaku pada Hankyung. Namja itu Cuma mengangguk.

“Ne appa,,dia bersamaku. Kami ada di taman belakang. sebentar lagi kami masuk”. Jelas Hankyung. Sepertinya Kangin ahjjusi menanyakan keberadaanku.

“Ini,, appa ingin bicara denganmu”. Katanya sambil menyerahkan Hpnya.

“Yeoboseyo, ahjjusi”. Sapaku sambil tersenyum.

“Eun bee ah.. cepatlah kau tidur. Jangan sampai telat bangun. Ok? Besok pesawatmu berangkat pagi sekali.” Suara ahjjusi dari seberang sana.

“Ne, ahjjusi. Sebentar lagi” Balasku dengan senyum kecilku.

“Hmm.. baiklah.. Ahjjusi mau beristirahat dulu..annyong jumuseyo”.

“Annyong jumuseyo, ahjjusi” .

Kangin ahjjusi mengakhiri teleponnya.. aku mengembalikan Hp itu kepada pemiliknya.

“Hankyung shi, sebaiknya kita turun, ini sudah hampir larut malam“. Kataku sambil berdiri. Dengan cepatnya Hankyung menarik tangan ku…

“Tunggu!!” Katanya sambil menatap ku.

Aku menoleh ke arah namja itu. Tatapannya sedikit berbeda dari sebelumnya..

“Gelang itu,, apa kau masih menyimpan gelang itu?” matanya menatap tajam padaku.

“Apa?? Dia bertanya tentang gelang itu??”.

Aku gugup, bingung mau jawab apa. Kutelan ludahku dengan cepatnya. Aku kelihatan gugup sekali. Bagaimana ini? Aku tak ingin dia tahu perasaanku. Akhirnya aku menjawab dengan asal..

“Ge..Gelang?? Gelang yang mana?”. Kataku dengan terbata-bata sambil mengaruk-garuk tengkukku.

“Tuhan,, Aku berbohong. Lebih tepatnya berpura-pura tidak menghargai pemberiannya”.

“Apa kau sudah lupa?? Apa gelang itu sudah kau buang??”. Tanyanya sekali lagi. Namja itu nampaknya tidak yakin dengan jawabanku.

Aku makin gugup..

“Ahh.. aku.. Be..benar-benar tidak ingat” Kataku terbata-bata.

Terlihat raut sedih di wajahnya. Dia meregangkan genggamannya, nampaknya dia ingin membiarkan aku pergi dari situ.

“Apa aku sudah membuat dia sedih? Tapi apa penting dia tahu aku masih menyimpan gelang itu atau tidak? Dia tak mungkin peduli tentang hal seperti itu”. Batinku.

“Hoooaammmhhh… ahhh,, aku ngantuk sekali.. Malam..”. Selesai berbicara aku langsung buru-buru menuruni pohon itu.. Kulakukan dengan hati-hati.

**********************************************************************************************************************

Pagi itu, sebelum berangkat ke bandara, aku berniat menitipkan sebuah bingkisan pada Kibum. Bingkisan itu untuk hyungnya. Kalian bisa menebaknya. Ya,, Isinya adalah gelang pemberian Hankyung!!

Aku berniat untuk mengembalikkannya. Kupikir, aku sudah tidak pantas lagi menyimpan gelang itu. Toh ada orang lain yang lebih pantas menyimpannya. Setelah memastikan Hankyung sudah berangkat ke kampusnya, aku pun menuju kamar Kibum.

“Tokk..Tokk..Tokk..!!” Ku ketuk pintu kamar kibum shaeng.

Yang punya kamar segera membuka pintu. Kibum terlihat rapi dengan pakaian seragamnya.

“Oo.. Noonha..!”. katanya sedikit kaget. Kibum menggaruk-garuk kepalanya.

“Annyong haseyo”. Sapaku.

“Annyong haseyo”. Kibum tersenyum sambil membungkuk. Beginilah responnya tiap kali aku menyapanya.. Anak yang baik =.=

“Punya waktu sebentar?”. tanyaku

“Oh Ne, noonha..”. jawabnya singkat.

Aku mengeluarkan sebuah kotak hijau dari dalam tasku.

“Kibum ah.. bisakah kau membantuku?”.Tanyaku.

“Tentu, Noonha..” jawabnya sambil tersenyum.

“Tolong kau berikan ini pada hyungmu. Kulihat pagi-pagi benar dia sudah pergi, jadi,, kupikir kutitipkan saja ini padamu”. Jelasku sambil memberikan kotak itu.

Kibum menerima kotak itu dari tanganku. Dengan senyum kecilnya, dia mengiyakan untuk memberikan kotak itu segera setelah hyungnya pulang.

“Kibum ah,,jeongmal gomawo”. Kuucapkan terima kasih padanya.

“Ne Noonha,, cheonmaneyo.. ini bukan apa-apa..” katanya kaku.

“Aku berangkat.. Sampai ketemu lagi, shaeng”. Aku berpamitan pada Kibum.

“Noonha… apa kau akan datang ke sini lagi?”. Baru kali ini aku mendengar Kibum benar-benar “berbicara”..

“Ne..pasti, shaeng.. Tapi noonha belum bisa berjanji”. Jawabku. Kibum tersenyum… Dia tak kalah manis jika dibandingkan dengan kakaknya. Kibum..Kibum.. Sungguh adik laki-laki yang manis, andai saja aku punya adik laki-laki seperti dia ^__^… sayang sekali,, aku anak tunggal dalam keluargaku..

**********************************************************************************************************************

@Kabin pesawat….

Saat ini aku sudah berada di dalam kabin pesawat yang akan membawaku pulang ke London..Tak lama kemudian pesawat ini pun take off dari lapangan terbang Bandara Incheon, Seoul.

Aku memandang ke arah jendela. Aku memikirkan banyak hal tentang Hankyung dan perasaan cintaku padanya. Hatiku sedikit lega, setidaknya aku sudah memberitahu perasaanku, walaupun secara tak langsung. Semoga saja,,dia tahu bagaimana penantianku selama ini. Dan aku juga lega karena pelan-pelan aku bisa menerima semua kenyataan. Yahh.. Hankyung tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Kenyataannya, dia mencintai yeoja lain..

**********************************************************************************************************************

@ London…

3 hari kemudian..

Semuanya berjalan seperti biasa, walaupun bayangan tentang sosok Hankyung masih ada dalam pikiranku. Tugas-tugas kuliah ini sedikit membantu aku untuk sedikit mengesampingkan patah hatiku terhadapnya..

Malam itu, aku baru saja pulang dari kampus…

Mataku sedikit kaget melihat banyaknya sepatu di depan pintu rumahku.. (Arsitektur rumahku dibuat seKorea mungkin untuk menyembuhkan kerinduan kami akan Korea, karena Kami sekeluarga jarang pulang ke Seoul).

“Sepertinya banyak tamu yang datang”. Kataku pelan sambil melepaskan sepatuku.

“Omma…Appa..aku pulang..!!” Sapaku pada seisi rumah. Beginilah kebiasaanku..^__^

“Braaakkkkk!!!!” . Seketika tas dan bukuku jatuh berserahkan di lantai…

“Omo!!! Apa ini mimpi??”. Di depanku sudah berdiri seorang namja yang ku kenal..

“Omo!! Kaauu.. Han…kyung shi..”. Terbata-bata menyebut namanya..

Namja itu tersenyum padaku.. Di sampingnya ada appa dan omma sedang menemaninya duduk di ruang tamu.

“Ohh.. anakku,, kau sudah pulang?” Sapa omma.

Ommaku Song Hye Kyo dan appaku Leeteuk,  tampak bahagia. Terlihat jelas sekali. Aku tertegun sebentar, lalu kupungut semua barang yang jatuh..

“Eun bee ah.. cepat kemari.. Lihat, siapa yang datang. Kajja!!”. Seru appa Leeteuk.

Omma langsung menuju ke arahku dan mengajak aku duduk di sampingnya. Kini aku dan Hankyung duduk berhadapan. Aku masih terdiam dan tertunduk. Sungguh tak berani menatap wajah namja itu. Rasa malu segera menghinggapi seluruh mukaku. Aku sangat kikuk dengan keadaan ini.

“Appa.. Omma.. aku ingin tidur.. hari ini, aku sangat capek”.

“Waeyo?? Aiggoo.. Eun Bee ah.. tapi,, disini ada Hankyung..Dia baru saja datang..” protes appa.

Hankyung hanya tersenyum.

“Appa.. mianhae..”. kataku pada appa Leeteuk.

“Hmm.. Hankyung shi, maafkan Eunbee.. nampaknya dia sangat capek”. Appa menjelaskan.

“Ne.. ahjjusi, gwaenchana..” Hankyung masih saja tersenyum. Ihh.. namja ini tidak tersinggung sama sekali.

“Hoohh.. Honey,, Gwaenchanayo? apa kau sakit?” Kata omma sambil memegang dahiku.

“Ani.. aniyoo, omma.. Gwaenchana.. aku cuma sedikit capek. Dan butuh istirahat”. Jelasku.

“ Baiklah,, apa kau sudah makan? Kami akan makan malam bersama..”. Tanya appa.

“Aku sudah makan,appa.. “. segera ku berdiri lalu pergi meninggalkan mereka.

Kunaiki anak tangga itu dengan lemasnya. Samar-samar kudengar percakapan mereka, tapi tidak jelas. Dalam pikiranku cuma ada pertanyaan ;

“Mengapa namja itu berada di sini?”

Sesampai di kamarku.. kurebahkan tubuhku pada kasur hangat yang ada di hadapanku.

“Aigoo.. namja itu benar-benar membuatku gila.. Kenapa di saat aku mau berusaha melupakan dia, tiba-tiba dia muncul lagi?? Aiisshhh ”. Gumamku sendiri.

*********************************************************************************************************************

3 Jam kemudian…

“Hmm.. segar sekali” Kataku sembari mengeringkan rambutku dengan hairdryer.

Aku menatap cermin yang ada didepanku. Kuajak bicara gambaran diriku yang ada di cermin itu.

“Dia itu aneh atau apa? Kenapa tiba-tiba nongol di rumahku? Haahh..Dasar Stupid…”. Kataku sambil menatap cermin itu.

“Kalau seperti ini, bagaimana aku bisa melupakan dia?” Lanjutku lagi.

Tiba-tiba.. kudengar ada yang mengetuk pintu kamarku.

“Nuguseyo?” tanyaku penasaran.

Tak ada jawaban dari luar sana. Dengan langkah pelan aku menuju pintu kamarku.. lalu membukanya.. Lagi-Lagi namja itu mengangetkanku.. Hankyung berdiri tepat didepanku.

Hankyung tersenyum padaku.. Aku ikutan tersenyum. Wajah ku memerah..

“Annyong..”. sapanya lembut. Tumben sekali dia bersikap manis seperti ini.

“ohh.. Annyong..”. kataku datar..

“Apa kau tak suka aku datang?” Tanyanya.

To the point sekali anak ini,, lagi-lagi aku terlihat kikuk..

“Ahh.. Aniyo..bukan begitu..Tapiii..untuk apa kau ke sini?? Bukankah ini bukan waktunya liburan??” Tanyaku heran.

“Hmm.. aku sudah meminta ijin. Lusa aku pulang…Yahhh…mungkin ini kedengaranya gila..Aku datang untuk mencarimu.” Katanya dengan mantap.

“Mwo??” kataku gugup..

“Aku serius..” Tegasnya lagi.

“Jjj..Jeongmal??” Masih tak percaya..

“Jadii.. kau kesini hanya untuk menca…”. Belum sempat ku selesaikan ucapan ku, Hankyung langsung menarik tubuhku mendekati tubuhnya.. Detik berikutnya aku baru sadar kami sedang berciuman.. Bibir kami bersentuhan. Bisa kurasakan betapa hangatnya bibir namja itu..

“Apa begini rasanya? Semua terasa damai,, damai sekali. Ini bukan mimpi, ini kenyataan. Aku dan Cinta pertama ku.. Kami berciuman..”

Pipiku merona sesaat setelah kami selesai berciuman.. Aku memandangnya bingung. Hankyung menatapku.. Tatapan seperti ini belum pernah kulihat sebelumnya. Tatapan hangat,, yahh.. bisa kurasakan itu!

“Mianhae… sudah membuatmu sakit hati”. Katanya pelan.

Aku masih melongo, memandangi namja itu. Hankyung yang sekarang sedang berbicara denganku berbeda sekali dengan Hankyung ketika pertama kali bertemu dengannya. Seperti mimpi saja rasanya.. Serasa dunia berbalik 180°…

“Eun bee shi.. aku mengerti sekarang.. kalau sebenarnya cinta sejatiku adalah kau”. Jelasnya.

“Hankyung shi..”. Aku masih terpana,terasa dalam mimpi saja bisa mendengar kalimatnya.

Kau pikir.. Cuma kau saja yang menungguku??” Tanyanya.

“Mwo?” aku dibuat bingung dengan pertanyaannya itu.

“Kau tahu.. aku juga menunggu cinta pertamaku..” Katanya dengan tersenyum.

“Cinta pertamamu??” Aku makin bingung.

“Yahh.. Cinta pertamaku.. Kauu..!!” katanya sambil mencubit pipiku dengan gemasnya.

“Aiisshhh.. sakittt..!” aku merintih kesakitan sambil memegang pipiku.

Aku seperti orang babo..belum 100% percaya dengan kalimat yang barusan aku dengar.

“Tapiii… yeoja itu..?? Apa dia bukan pacarmu?” rasa penasaranku muncul, ingin tahu apa hubungannya dengan yeoja itu.

“Nugu?? Seohyun?? Hahahaha.. aku tidak menyukainya..”. Jelasnya.

“Lalu kenapa kalian berciuman??”. Sergahku.

“Dia yang duluan menciumku.. Hampir saja..” sambungnya..

“Apa maksudmu?” Tanyaku lagi. Ahh.. penjelasannya membuatku bingung.

“Kau pikir aku mau memberikan ciuman pertamaku untuknya? Kami tidak sempat berciuman.. Maksudku,, bibir kami tidak bersentuhan..”. ceritanya panjang lebar.

Aku menyipitkan mataku..

“Jeongmal?? Benarkah?” tanyaku sekali lagi.

“Ahh.. aku ingat sekarang..!! Apa karena dia sampai kau berlari ke kamar  sambil menangis ?? Kekanak-kanakan sekali..!”. Dia menertawakanku.

“Mwo?? Jadi…waktu itu kau mengintipku menangis?? Aaaiiissshh… kau ini..”. Kataku sambil meninju lengannya.

“Hahahahaha…Salahmu sendiri.. kenapa tidak mengunci pintu..” Katanya meledekku.

“Kauu…!!” Kutinju lengannya berkali-kali. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.

“Yaaa.. Eun bee shi.. hentikan..!!” katanya membela diri.

Aku berhenti meninjunya saat dia berusaha meraih tanganku dan menyatukannya dengan tangan kirinya. Tangan yang satunya terlihat merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah gelang. Yah,, aku kenal betul dengan gelang ini!!!^__^

Gelang itu ia kembalikan pada ku.

“Ini..simpan baik-baik!! Kalau sampai hilang, tawat riwayatmu..! Arasoo??”.

“Ne.. arasoo..” kataku sambil tersenyum.

Hankyung memelukku dengan eratnya.. Kemudian.. dia berbisik lembut di telingaku..

“Saranghae”. Katanya lembut..

Aigoo… jantungku berdegup dengan kencangnya.. Ini pertama kalinya aku mendengar kalimat itu.. Kugenggam dengan erat gelang itu.. aku menikmati hangatnya pelukannya, dan dalam otakku.. kuulangi kalimat yang baru saja diucapkan oleh Stupidku..

“Saranghae.. Saranghae.. Saranghae..”

“Naddo saranghae”. Jawabku lembut.. Aku membalas pelukan Hankyung.. Ahhh… aku bahagia sekalii..^___^

“Oh Tuhan, terima kasih untuk hari ini. Ini awal dari semuanya. Ini awal dari cinta kami.. Kini,, Cinta sejati ku ada disini, di hadapanku. Dia yang aku tunggu selama 11 tahun ini baru saja menjawab semua perasaanku. Aku cinta dia, Tuhan.”.


Author POV

Namja dan yeoja itu saling berpelukan..saling mencurahkan perasaan.. Ini awal dari semuanya.. Kisah cinta yang indah,bukan??

End Author POV

 

 

The End

 

yeaii.. yeaii… jgn lupa koment na yahhh.. n gomawo udah mau baca^__^

 

By : Bibihgyu07 @Shawol-ELF Indonesia

2nd FF ” FIRST to LAST LOVE (Part 1) “

12 November 2010 at 3:19 PM | Posted in E.L.F, FF ( FanFiction ), Super Junior | Leave a comment
Tags:

Anneyong chingudeul pengunjung setia 🙂 !!!
Saiia kembali lagi dengan ff terbaru saiia neh ^__^
Oh ya..Para ELF pasti tauu dunkk.. apa sih yang spesial di tanggal 6 November 2010 kemaren??

Yipii..!! Betul banget!! ^^b

Ga nyangka ya,, udah masuk tahun ke 5… Sangeil Chukae uri oppadeul!!!!
(gpp ye walopun udah lewat hari na..hehehe)~~
Oppa2 kita makin tuaa tuh.. *Plaakkk! Ditimpuk pake bata sama ELFs* hehehe:)

ff “FIRST to LAST LOVE Part 1” ini merupakan ff kedua saiia.. ga panjang kok,, Cuma 2 part..hehehe..
Dalam ff ini, saiia sengaja nampilin Hankyung,Kangin & Kibum oppa,, alasan na?? >>> Karena saiia kangen sama mereka…:((

Okelah… sekian cuap-cuapnya.. mari baca ff saiia ini..hehe^^ *maksa*

Title : FIRST to LAST LOVE (Part 1)
Cast :> You (Reader) as Cho Eun Bee
> Han Geng as HanKyung / Hangeng
> Kim KiBum as Ki Bum (Geng’s Dongshaeng)
> Kim Young Woon as Kang In Ahjjusi (Geng’s Appa)
> Park Jung su as Eunbee’s appa (Your Appa)
> Song Hye Kyo as Eunbee’s omma (Your Omma)
Genre: Romance
PG : >15
Continue Reading 2nd FF ” FIRST to LAST LOVE (Part 1) “…

[FF/CHAPTERED/PG-16] Truth Chapter 1

6 November 2010 at 8:21 AM | Posted in SHINee | 26 Comments
Tags: , ,

Title : Truth

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Choi Minho and Cheryl Horvejkul

Other Casts : SHINee, Nichkhun Horvejkul, Victoria Song

Genre : Thriller, Romance, AU, Mystery, Fantasy

Length : 3 Shots

Part : 1 of 3

A/N : This fanfic made for battle challange, but I wanna share with all of you. So please leave a comment after you read this fan fiction. Thanks.

 

***

 

One

 

Hari ini –seperti hari-hari biasanya aku melewati taman bunga lavender yang tak jauh dari sekolah dan seperti biasanya pula aku melihat gadis itu tengah berdiri menundukkan kepalanya sambil mengatupkan kedua tangan di depan dadanya. Apa dia sedang berdoa? Entahlah aku tidak tahu.

 

Dengan sedikit ragu aku memarkirkan motor besarku tak jauh darinya kemudian berdiri di sebelahnya. Dia tak kunjung menyadari keberadaanku dia masih dalam posisi sama seperti tadi, yang berbeda hanyalah kini dari ujung matanya muncul butiran Kristal indah yang jatuh melewati pipi pualamnya. Kami terdiam cukup lama. Sampai pada akhirnya bibirnya menyunggingkan senyuman terindah yang pernah kulihat. Dia menurunkan tangannya dan membuka mata sambil jemarinya menyeka bekas air matanya. Dia menatap ke arahku.

 

“Kau? Sedang apa kau di sini?” tanyanya heran.

“Melihat keindahan ciptaan Tuhan,” ucapku sambil kembali menatap taman bunga lavender yang amat sangat indah.

“Mereka memang indah.” Ucapnya sendu.

“Maksudku, Kau,” ujarku sambil menggaruk kepala yang tak gatal.

“Jangan menggodaku begitu Choi Minho.”

“Tapi itu memang benar.” Dia tersenyum dan membungkuk.

“Aku duluan.” Ujarnya dan mulai berlalu menjauhiku.

“Cheryl..” dia berbalik dan aku segera menghampirinya “Boleh aku mengantarmu pulang?”

 

***

 

“Aku pulang.” Teriak Cheryl ketika membuka pintu dan langsung masuk.

“Kau tidak menyuruhku masuk?” tanyaku.

“Bukankah kau hanya ingin mengantarku pulang?”

“Iya sih, tapi ‘kan..”

“Kau bicara dengan siapa Cheryl?” ujar seorang wanita muda yang tiba-tiba ada di hadapan kami.

“Oh ini temanku. Umma, kenalkan, Choi Minho,” Aku membungkuk. “Dan Minho ini ibuku, Victoria.”

“Mannaseo bangapseumnida,” ujarku.

“Mannaseo bangapseumnida.” Balasnya. “Kau sudah makan? Aku baru saja selesai memasak, kalau tidak keberatan tinggallah dulu sebentar dan ikut makan bersama kami. Sudah lama aku tidak ditemani makan.”

“Apa tidak merepotkan?” tanyaku agak malu, padahal aku sangat lapar.

“Tentu saja tidak, ayo masuk.”

 

Ku lihat Cheryl telah mengganti seragamnya dengan celana pendek dan kaos. Ia tengah asik membaca sambil berselonjor kaki si sofa. Aku tak henti menatapnya.

 

“Sudah sana makan dulu jangan menatapku seperti itu terus.” Ujarnya tanpa melepas pandangan dari buku yang dia pegang.

“E.. em.. kau tidak ikut makan?” tanyaku gelagapan.

“Belum lapar. Nanti saja.”

“Dia memang begitu, biarkan saja dulu. Nanti kalau lapar dia akan ambil makan sendiri, ayo sini.” Ujar ibu Cheryl. Aku menurutinya dan berjalan menuju meja makan, dan tidak kulihat ada satu pun foto di sini. Yang kulihat hanya sebuah lukisan besar dengan Cheryl, Ibunya dan seorang pria tampan –yang kupikir adalah ayahnya terlukis di sana. Di bawah lukisan besar itu tertulis ‘Keluarga Horvejkul’

 

***

 

Sejujurnya aku memang menyukai Cheryl Horvejkul, namun dia selalu saja bersikap dingin padaku dan entah mengapa aku malah semakin penasaran pada sikapnya itu. Bel masuk pertama masih 40 menit lagi, aku datang terlalu pagi hari ini. Tapi di tengah penyesalanku wanita yang kuidamkan datang. Rambutnya terurai manis dengan poni ke depan,  seragamnya rapi dimasukkan, rok pendek di atas lututnya memamerkan kaki jenjang yang indah, kaus kaki putihnya tak sampai mata kaki, dan sepatu converse-nya rapi terikat. Aku tak sadar menatapnya dari atas hingga bawah seperti ini.

 

“Ada yang salah dengan penampilanku?” tanyanya membuyarkan pemikiranku.

“Tidak. Hanya saja kau terlihat cantik hari ini.” Dia mengeluarkan smirk-nya membuat jantungku berhenti berlonjak.

 

Dia masuk ke dalam kelas dan menaruh tasnya di atas meja miliknya. Kemudian melangkah menuju pintu.

 

“Mau ke mana?” ujarku.

“Taman. Bel masih lama.”

“Boleh aku ikut?”

“Dapatkah aku melarang seorang Choi Minho?” aku tersenyum dan mengikutinya berjalan meninggalkan kelas.

 

Sesampainya di taman dia langsung membaringkan tubuhnya di atas rerumputan hijau. Dia terlihat sangat nyaman seolah tempat itu adalah rumahnya. Dia menutup mata dan merentangkan kedua tangannya. Aku duduk di sebelahnya sambil menatapinya tiada henti. Dia menggumamkan sesuatu yang tak dapat ku dengar. Hanya seperti bisikan lembut berirama riang yang tak dapat ku terka.

 

“Kau bicara sesuatu?” tanyaku.

“Tidak.. aku hanya mengucapkan salam.”

“Pada?”

“Apa kau percaya pada makhluk selain manusia?”

“Emm..” aku berpikir agak lama. Aku memang tidak terlalu percaya, tapi sepertinya dia tidak sedang bercanda. Dia menatapku dengan tatapan bertanya. Dan aku masih tak punya jawaban. Kemudian dia menghela napas kecewa.

“Jika kau tidak percaya. Aku akan kedengaran bodoh jika menceritakannya padamu.”

“…” aku terdiam, agak menyesal membuatnya kecewa pagi-pagi begini.

“Ah sudahlah. Umma menanyakanmu terus. Kapan kau akan ke rumah lagi katanya.”

“Kapan pun kau mau Cheryl,” ujarku refleks.

“…” tampaknya dia tak mendengar pernyataanku. Dia sedang sibuk bermain dengan rerumputan. Tangan mungilnya menyentuh ujung rerumputan dengan lembut. Aku hanya dapat tersenyum heran. Aku mengacak rambutnya. Dia membuka matanya dan menatapku bingung. Aku masih mengelus kepalanya dan dia terlihat sangat nyaman akan itu.

“Kau seperti appa.”

“Apa?”

“Appa selalu memperlakukanku seperti ini. Aku merindukannya.” Ucapnya sendu.

“Memang appamu ke mana?”

“Dia ada di suatu tempat yang tak boleh aku datangi.”

“Tapi dia pulang dalam beberapa waktu bukan?”

“Ya, jika saja perbandingan waktunya sama. Maka aku dan umma tak akan serindu ini padanya.”

 

Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Tapi aku hanya bungkam. Aku tak ingin semua pertanyaanku malah membuatnya makin bersedih. Aku masih mengelus puncak kepalanya dan kuberanikan diri untuk mencium keningnya. Dia terlonjak kaget namun tetap diam.

 

***

 

Tadinya aku ingin mengantar Cheryl pulang. Tapi aku ada urusan dengan Jonghyun sunbae mengenai pertandingan basket yang akan diselenggarakan sebentar lagi. Yah mau bagaimana lagi aku tidak bisa menolak. Posisi kapten basket sudah ku pegang dan aku harus bertanggung jawab akan itu.

 

Sudah tiga puluh menit aku menunggu Jonghyun sunbae, tapi dia tak kunjung datang. ada apa ini? Tidak biasanya Jonghyun sunbae terlambat. Dia adalah  orang paling tepat waktu yang pernah aku kenal. Berkali-kali aku meneleponnya tapi sama sekali tidak diangkat. Pesanku pun sama sekali tak dihiraukannya. Sedikit banyak aku jadi cemas, jangan-jangan terjadi sesuatu padanya. Sekali lagi ku telepon ponselnya. Beberapa saat menunggu akhirnya panggilanku tersambung.

 

“Yoboseyo.. sunbae.. yoboseyo..”

“…” tidak ada jawaban hanya suara-suara aneh.

“Sunbae.. sunbae apa yang terjadi?” aku makin mengeraskan suaraku.

“Minho-ssi..” dia tahu aku meneleponnya.

“Sunbae kau di mana? Sunbae.. ada apa?” kecemasanku semakin tidak karuan. Perasaanku sangat tidak enak. Sesuatu pasti terjadi padanya. Tapi apa? Di mana? Kenapa?

“Kumohon pergilah..” pinta Jonghyun sunbae pada seseorang –entah siapa itu. Aku terdiam mendengarkan percakapan mereka –yang kedengarannya malah seperti monolog Jonghyun sunbae karena yang diajak bicara tak jua bersua. “Aku sama sekali tidak mengenalmu. Aku bahkan tak tahu apa salahku. Kenapa kau..” ucapan Jonghyun sunbae terhenti seketika setelah ada bunyi benturan benda tumpul. Dan hanya keheningan yang dapat aku dengar. Tunggu, suara kendaraan dan dentuman jam saat jarum panjang tepat ke angka 12.

 

Dia pasti di parkiran sekolah!

 

Aku berlari ke tempat yang ku tuju. Setibanya di sana aku melihat Jonghyun sunbae tengah terkapar tidak berdaya di tanah. Kepalanya berdarah, di lengannya ada beberapa sayatan yang mengeluarkan cairan merah itu pula. Pipinya lebam dan dadanya naik turun tak karuan.

 

“Sunbae.. apa yang terjadi sebenarnya?” tanyaku masih bingung.

“…” Dia tidak menjawab –masih mengatur napas. Aku membantunya berdiri, melingkarkan lengannya di leherku dan memapahnya ke ruang kesehatan.

 

Aku mengambil bola kapas dan membasahinya dengan revanol, lalu aku bersihkan luka yang ada di sekitar lengannya.

 

“Sunbae, mengapa bisa seperti ini?” tanyaku.

“Aku tidak mengerti. Tiba-tiba saja ada seseorang mencekik leherku. Jelas aku meronta. Tapi kemudian dia mengeluarkan pisau dan melukaiku.” Tanpa ku sadari bantal putih yang dipakai oleh Jonghyun sunbae sebagian berubah warna menjadi kemerahan.

“Omo! Sunbae kepalamu.” Dia memegang kepalanya dan ketika dilihat tangannya sudah berlumuran darah segar.

“Aish.. jinja..”

 

Kudengar suara pintu terbuka. Masuklah Cheryl beserta seorang pria yang sepertinya pernah kulihat. Benar dia adalah pria dalam lukisan itu –Tuan Horvejkul.

 

“Minho-ssi. Sunbae itu..” ucapan Cheryl terhenti, sepertinya dia tidak sanggup untuk berkata.

“Entah atas dasar apa penyerangan ini terjadi. Aku tidak tahu,” ujarku.

“Maaf bisakah kalian berdua keluar dulu sebentar?” tanya Tuan Horvejkul.

“Apa yang akan kau..” Cheryl menggenggam tanganku dan menarikku pergi. Tentu saja kau tak dapat menolak.

 

Di luar ruangan hanya kegelisahan yang menyelimuti Cheryl. Kenapa gadis ini? Kenapa dia terlihat sangat cemas? Apakah dia mengenal Jonghyun sunbae? Atau kah dia memikirkan hal lain? Banyak sekali pertanyaan berkecamuk di otakku dan aku sungguh tak mengerti. Dan kuputuskan untuk mengabaikannya.

 

“Semua akan baik-baik saja.” Suaraku membuatnya mendongak dan tersadar dari pemikirannya yang tak dapat kubaca.

“Belum tentu. Mereka bisa saja melukai lebih banyak manusia. Aku benar-benar takut.”

“Siapa mereka?” aku menatap langsung ke arah matanya yang hitam.

“…” dia terdiam, kemudian menunduk. Sungguh aku tak mengerti. Aku lalu memeluknya dan membelai rambutnya.

“Tidak apa. Jangan katakan jika kau memang tidak ingin mengatakannya. Sudahlah.” Sepertinya Cheryl menangis. “Uljima.”

 

Tuan Horvejkul keluar dari dalam ruangan. Aku dengan cepat melepaskan pelukanku.

 

“Semua sudah diatasi. Dia tidak akan apa-apa tenang saja.” Tuan Horvejkul mengelus puncak kepala Cheryl.

“Appa, ini Choi Minho dan Minho ini ayahku Nichkhun.”

“Senang berkenalan denganmu, Nak.” Kami berjabat tangan. Genggamannya tegas tapi tangannya sangat hangat dan wangi lavender tercium kuat dari tubuhnya.

“Aku juga sangat senang berkenalan denganmu.”

“Minho, bisakah kau mengantar putriku pulang? Aku.. em.. masih ada urusan.” Ujarnya.

“Tentu.”

“Cheryl, jika ada sesuatu lagi langsung beri tahu aku. Titip salam untuk umma ya.” Tuan Horvejkul mencium kening Cheryl setelah berkata. Cheryl langsung memeluknya.

“Tak dapatkah kau tinggal lebih lama? Hanya untuk semenit saja bertemu umma dan menciumnya. Semenit saja.” Ujar Cheryl penuh harap.

“Kau sudah tahu jawabannya, Sayang. Maafkan kesalahan Appa yang telah mencintai umma. Dan maafkan appa yang telah membuatmu terjebak dalam ketidakpastian.”

“Jangan pernah bicara seolah mencita itu adalah kesalahan.”

“Appa harus pergi.” Tuan Horvejkul melepaskan pelukan dan berlalu tanpa sedikit pun menoleh.

 

Ku lihat Cheryl masih tertunduk sendu.

 

“Jangan bersedih masih ada aku,” ujarku dia hanya tersenyum untuk membalas pernyataanku “Aku antar Jonghyun sunbae pulang dulu baru kita ke rumahmu.” Cheryl mengangguk dan kami masuk ke dalam ruang kesehatan.

 

Jonghyun sunbae sudah terduduk di ranjang dengan bingung.

 

“Sedang apa aku di sini?” tanyanya.

“Kau tadi diserang seseorang, jadi aku bawa ke sini.”

“Diserang?” dia seperti berusaha mengingat.

“Kau lupa? Coba lihat saja tangan..” aku terdiam melihat seluruh bekas sayatan di tubuhnya menghilang.

“Tanganku kenapa?”

“Coba kau pegang kepalamu,” titahku. Dengan segera dia memegang kepalanya. Dan tidak ada apa-apa. Aku menatap Cheryl, dia hanya menggigit bibirnya pelan.

“Kenapa?” tanya Jonghyun sunbae lagi.

“Ah tidak Sunbae, tadinya ‘kan kita mau membicarakan masalah pertandingan basket bukan?” aku mengalihkan pembicaraan.

“Begitu ya? Dapatkah kita membicarakannya nanti? Sepertinya aku merasa sedikit pusing dan tidak enak badan.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Maaf ya Minho-gun.”

“Gwencana Sunbae. Istirahat saja yang baik. Perlu kuantar?” aku masih mengkhawatirkan keadaannya.

“Tidak perlu. Aku bawa motor, lagi pula kasihan kekasihmu itu.” Ujarnya sambil bangkit dari ranjang “Aku duluan ya.” Dia berjalan pergi.

 

***

 

Dia memintaku berhenti di taman bunga lavender, aku hanya menurutinya dan dia langsung menatap hampa hamparan keunguan yang menyejukkan ini.

 

“Cheryl..”

“Ya?”

“…”

“Ada apa?”

“Aku telah menyukaimu sejak lama. Saat pertama kita masuk Chungdamn. Itu hampir dua tahun yang lalu. Semakin lama aku semakin menyukaimu. Aku tak kuat melihatmu sendu. Aku suka meliat senyumanmu. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu aku melihatmu di sini di taman bunga lavender ini. Dan aku telah sadar bahwa ku bukan hanya menyukaimu tapi juga mencintaimu.” Dia menatapku. “Maukah kau menjadi kekasihku?”

“Kau tahu, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Tapi.. aku bukanlah seperti yang kau kira. Kita berbeda. Aku tak ingin menyesal nantinya.”

“Bukankah tadi kau sendiri yang bilang pada ayahmu kalau tak ada kesalahan dalam cinta? Jika cinta kita tidak salah maka tak akan ada penyesalan.” Dia terdiam dan menangis. Dengan segera aku memeluknya.

“Apa aku menyakitimu?” tanyaku.

“Tidak bukan itu.”

“Kalau begitu tak perlu menangis.” Dia masih saja terisak.

“kau tahu? Tadi appa bilang kau mencintaiku sama seperti appa mencintai umma.”

“Dan?”

“Dan rasa cintaku padamu akan seperti umma yang tak akan pernah mengenal batas.”

“Artinya kau mau..”

“Ya. Aku milikmu sekarang.” Aku memeluknya dan mengecup puncak kepalanya.

“Gomawoyo. Saranghae.”

 

***

 

“Appa, ketika kau ditanya ‘apakah kau percaya atau tidak pada makhluk selain manusia’ apa yang akan kau jawab?”

“Ke.. kenapa kau bertanya seperti itu Minho?”

“Karena calon menantumu menanyakannya padaku.” Jawabku santai.

“Calon menantu? Kau ini masih SMA sudah memikirkan hal seperti itu.”

“Tak apalah, Appa. Bagaimana? Apa yang akan kau jawab?”

“Aku percaya.”

“Kenapa?”

“Sebelum ku jawab mengapa, kalau kau sendiri apa jawabanmu?”

“Aku masih belum bisa percaya karena aku belum melihat mereka.”

“Tapi mau tidak mau kita harus percaya. Karena kau ada sekarang in..”

 

Ucapan appa terhenti oleh suara telepon.

 

Dan aku tetap tidak tahu alasan appa.

 

***

 

Aku ada urusan dengan Jin Ki sunbae dulu tadi sehingga aku tak dapat mengantar Cheryl pulang. Tapi setelah ini pun aku akan segera bergegas ke rumahnya. Aku berjalan dengan santai ke parkiran sekolah. Tapi sedari tadi aku merasa ada orang yang mengikutiku terus. Ketika aku menoleh tak ada siapa pun. Mungkin hanya perasaanku saja. Tapi semakin aku berusaha menenangkan diri aku semakin gelisah. Memang tak ada hentakkan kaki yang mengikuti tapi aku merasa diawasi dan berada dekat dengan seseorang. Sekali lagi aku menoleh dan masih tidak ada siapa-siapa.

 

Lalu tiba-tiba ada yang menyingkat kakiku membuatku hilang keseimbangan dan jatuh keningku menyentuh tanah sehingga berdarah, aku berbalik dan seorang pria misterius tengah mengacungkan belati di hadapanku.

 

“Kau mau apa?” dia hanya menyeringai tak berarti lalu mencekikku. Tangannya hangat sama seperti tangan Tuan Horvejkul tapi aku tahu itu bukan dia. Aku mulai sulit bernapas kemudian dengan segenap tenaga aku berusaha mendorongnya menjauh dariku. Entah dia terlalu kuat akua tenagaku yang tak mampu menanganinya dia makin terus membuatku sesak. Dia menusukkan belatinya di dekat selangkaku dan menggoresnya dengan cepat hingga kemejaku robek dan darah mencuat dari sana.

“Aaaaaaah..” teriakku ketika luka itu ternganga. “Siapa kau? Apa yang.. kau.. inginkan dariku?” tanyaku terbata.

“Dia beberapa kali menusukkan belati itu ke perutku. Hingga kemejaku penuh dengan bercak merah. Bahkan tanah pun ikut terbanjiri oleh darahku. Aku sama sekali tak dapat melawan. Melawan pun percuma ketika kupukul dia seperti tak merasakan apa-apa.

 

Dengan keadaan setengah sadar aku masih dapat melihat sosok orang yang paling aku cintai.

 

“Cheryl.. ku..kumohon.. per..gi.. pergi dari.. sini..”

 

 

 

*To Be Continue*

 

 

[FF/1S/PG-16] Irrational

3 November 2010 at 9:03 PM | Posted in Super Junior | 3 Comments
Tags: , ,

Irrational

Title : Irrational

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Cho Kyuhyun and Park Chae Rin

Other Casts : Park Jung Soo and other

Genre : Romance

Length : 1 Shots

 

***

 

Sudah ke sekian kalinya aku melihat kematian. Hingga mungkin aku tak akan mengeluarkan setetes air mata pun saat menyaksikannya lagi. Ini kematian ibuku –kanker darah, kematian yang  manis bukan? Entahlah.. pada dasarnya aku tak mengerti mengapa manusia hidup dan mengapa manusia mati. Aku tak tahu dan tak mau tahu tentang permainan Tuhan. Yang jelas kini aku tak dapat mendefinisikan apa yang kurasakan, campuran antara pilu dan ragu menghasilkan bebatan hebat di dadaku.

Sekali lagi aku tak menangis. Tapi di sudut itu, seorang pria yang tak ku kenal tengah tertunduk sendu. Pandangannya tertuju pada lantai rumah sakit. Aku menatapnya, menyelisik –mencoba menggali memori dalam ingatanku, pria itu pernah ku lihat sebelumnya. Di kondisi yang tak asing dengan sekarang ini. Beberapa kali, rasanya wajah itu, kesenduan itu.. dia mengalihkan wajahnya ke arahku yang masih menatapnya. Dia sama sekali tidak tersenyum. Penyesalan itu.. aku pernah melihatnya sebelum ini. Ah ya.. akhirnya aku ingat. Aku pernah melihatnya di kematian-kematian sebelumnya.
Continue Reading [FF/1S/PG-16] Irrational…

FF – Sentence Delayed

1 November 2010 at 8:42 PM | Posted in FF ( FanFiction ), Super Junior | 11 Comments
Tags:

Anneyong haseyo pembaca setia…^__^

Ehmm.. Ehmm.. saiia Author baru di sini.. hehehe *plakk!! huft..malah promosi diri*

hehehe 🙂

Judul na Sentence Delayed..

Ini terinspirasi dari cerita nyata  pengalaman seorang teman waktu SMA .. #abaikan..hehehe

*huahh..banyak ngomong neh author*

Okayy.. kita mulai jjah ya.. ^__^

Oh ya.. jangan lupa di koment yahh..  :))

Read more

[Key Birthday’s Project] FF-3

23 September 2010 at 4:33 PM | Posted in Shawol, SHINee | 1 Comment
Tags: ,

SHINee KEYvolution

Cast :

OUR SHINee ALMIGHTY KEYvolution = KIM KIBUM

“akhirnya selesai juga kibum oppa!!!! Sekarang tinggal menunggu ada lebih banyak bintang di sini” aku menarik nafas dalam dan memandangi hasil karya Tuhan yang tercoreng moreng dengan hasil karyaku, bukit bintang –ini nama yang aku dan kibum oppa berikan untuk tempat ini- ini sudah berubah menjadi lebih warna warni.

Aku berbaring memandang langit, seperti setahun yang lalu, di tempat ini aku dan kibum oppa merayakan hari ulang tahunnya.

Aku adalah adik , er… bukan , aku hanya anak angkat dari keluarga kim ki bum oppa, untungnya memang dari awal margaku juga kim, jadi tidak ada masalah dengan nama dan marga kami, tidak ada yang tau kalau kami ini sebenarnya bukan kakak beradik kandung. Pertama kali aku di bawa ke keluarga kim aku menangis terus, aku ketakutan setengah mati, tapi kibum oppa lah yang selalu menghiburku, setiap aku bersedih dia selalu membawaku ke sini, setiap aku marah dia juga membawaku ke sini, ketika aku bahagia dia juga membawaku ke sini, bukit bintang di belakang rumah kami… sebenarnya ini hanya tanah yang sedikit lebih tinggi saja, tapi dari sini aku bisa melihat bintang dengan lebih indah, apalagi karena ada kibum oppa ^^

Flash back

20 sept 09, 10.45 PM

“keybum oppa~” aku menarik narik tangan namja yang hanya terdiam bungkam di dekatku ini

“keybum oppa, lihat bintang itu???wah, besar sekali ya” aku menunjuk salah satu bintang di atas kami yang sinarnya sangat terang..

“ah.. aku mau memberi nama bintang itu.. “ aku diam sejenak memikirkan siapa nama bintang itu

“SHINee” hanya nama itu yang terlintas di otakku

“SHINy?? Hem bagus juga.. lihat!! Bintang itu punyaku ya!!! The star is mine!!! Nah yang kecil di sampingnya itu kamu”

“omo????? Ani!!!!!! Itu bintangku oppa~ aku yang menemukannya!!!! Seenaknya saja kau mengambilnya, bahkan aku yang menamainya oppa!!!!!” aku  marah pada oppaku ini

“ya!!! Anggap saja itu kado ulang tahunku” jawabnya jambil merebahkan dirinya

Omo?? Ulang tahun?? Astaga ini sudah tanggal 20, kurang 3 hari lagi dia ulang tahun, dan aku LUPA!!! Babo…………………

“kalau kau memilih bintang itu, baiklah, tapi jangan menyesal ya!! Padahal aku masih punya kado istimewa untukmu… tapi sepertinya tidak usah saja!!!” aku berbohong, padahal aku hanya tidak ingin bintangku di ambil olehnya dan aku belum punya kado apapun untuknya, aku benar-benar lupa

“aku tidak perlu kado lainnya, aku hanya ingin bintang itu”

Aku menatap wajah oppa ku , matanya menerawang jauh , menatap bintang ku –er… sekarang dia mengklaim bintang itu sebagai miliknya!!! Wajahnya pucat, apa dia sakit????

“oppa.. sebaiknya kita pulang, oppa terlihat sedikit pucat, aku takut oppa sakit” aku berdiri dan memohon padanya untuk pulang, aku tidak mau oppa ku ini sakit!!!

“tunggu sebentar lagi, aku ingin sebentar lagi berada di sini”

Aku melihat raut kesedihan di wajahnya, aku hanya bisa terdiam, ada apa dengannya????

“oppa… apa ada masalah ???” aku memberanikan diri untuk bertanya pada oppa ku ini

“ani.. emm , sebaiknya sekarang kita masuk, udara semakin dingin , aku takut kau sakit!!!” oppa membantuku bangun dan kami berjalan menuju rumah kami, dan dia masih saja diam, seperti menahan sesuatu, tapi aku tak tau apa itu, dia hanya diam,padahal biasanya dia sangat cerewet tak terkendali

Ada apa dengannya???

-=-=-=-=-

21 sept 09

Hari ini oppa di bawa ke rumah sakit subuh-subuh, aku tidak di biarkan ikut , aku menangis sejadi jadinya.. oppa maafkan aku , kau jadi sakit karena aku sering mengajakmu pergi dan selalu memakai jaketmu…

Aku menangis sepanjang hari hingga ada kabar bahwa oppa baik-baik saja, dan besok sudah bisa pulang, dia hanya akan di rawat jalan!!

-=-==-=-=-

22 sept 09

Aku menunggui oppa ku sepanjang hari, aku tak mau meninggalkannya barang sedetik pun, dia tergolek lemah tak berdaya, aku mencoba untuk bertanya pada umma dan appa, sebenarnya apa penyakit yang di idap oppa?? Apa itu  berbahaya untuknya???

Tapi TAK ADA SEPATAH KATA PUN YANG KELUAR UNTUK MENGKONFIRMASIKAN SEMUA INI

Yang bisa ku lakukan hanya berusaha tertawa jika keybum oppa membuka matanya

22 sept 09 , 11.15 PM KST

“oppa, kau mau kemana?? Ini sudah hampir jam 12 malam, oppa mau kemana??” aku mengucek ucek mataku yang masih sedikit terpejam, oppaku terbangun dan hendak keluar

Mau kemana dia??

“oppa~ kenapa tidak menjawab ku” aku merengek padanya, aku paling tidak suka kalau aku Tanya tapi tidak di jawab! =,=’

“ayo, aku mau melihat bintang kita, sebentar lagi aku ulang tahun, apa kau lupa????”

Plak, aku menepuk dahiku, mati aku!! Aku benar-benar lupa, yang ada di otakku sekarang hanya kesehatan keybum oppa!! Tidak ada yang lain , babo!!!!! =.=

“ne~ , aku tau, tapi oppa, kau masih bellum sehat betul, kita rayakan di ruang tamu saja ya, aku akan membangunkan umma dan appa” aku segera berlari ke kamar umma dan appa, membangunkan mereka, yang ternyata malah sudah bangun dan sedang menyiapkan kue di ruang makan =,=’

“sekarang ikut denganku atau aku akan benar-benar marah padamu dan tak akan pernah mengajakmu pergi lagi dan juga bicara lagi” SUKSES!! Ancaman keybum oppa sukses membuatku menuruti apa kemauannya

Kami melangkah menuju tempat yang kami sebut –bukit bintang- itu, kami –aku dan keybum oppa- duduk di tempat kami seperti biasa, hanya saja sekarang aku tidak di peluk olehnya tapi aku yang memeluknya,badannya lemas dan pucat, tapi dia sukses membuatku juga mengabaikan kesehatannya, aku takut dia memusuhiku!!

“aku ingin rebahan saja” keybum oppa melepas pelukanku dan merebah, aku ikut merebah di sampingnya

“jam berapa sekarang??”

Aku melihat kea rah jam, jam 11.45

“jam 11.45 oppa.. sebentar lagi”

“huft.. sebentar lagi ya???” aku menoleh ke arahnya, matanya menerawang jauh, kea rah bintang

“lihat oppa!!! SHINee juga ikut merayakan ulang tahun mu!!” aku menunjuk bintang yang paling terang di antara semua bintang

“hem..” aku sedikit mendengarkan menahan tawa

“mulai sekarang namanya jadi SHINee KEYVOLUTION” dengan sukses aku menoleh padanya

“omo???kenapa namanya dig anti??” aku sedikit merengut, sekarang bintang itu benar-benar di klaim atas namanya , baca deh KEY-volution , huft!!!

“kau bilang kau yang menemukannya dan k au yang memberi nama?? Sekarang supaya aku juga bisa memilikinya maka aku juga memberi nama pada bintang itu, SHINee kau yang memberi nama, dan KEYvolution itu namaku, jadi selain kau , bintang itu juga milikku..”

Aku menatap oppa ku sekali lagi

“oppa~” suaraku parau , aku hampir menangis

“ne~, bisa kau memelukku???” aku merapatkan tubuhku ke arahnya dan memeluknya erat

“sekarang jam berapa??”

“jam 11.55” aku menggigit bibirku, menahan tangis

“sebentar lagi, ingat lah kau jangan pernah menangis ya~ kau harus janji padaku kau tak akan menangis meski aku tak ada di sebelahmu, kau tau, jika aku ada di tempat yang jauh nanti, ‘lihatlah SHINee KEYvolution’ karena aku juga akan melihatnya sepertimu” aku merasa pelukannya semakin erat, aku mulai sesak

“ne oppa.. oppa aku tak akan menangis” aku menahan tangisku, sekuatku

“bagus… SARANGHAE JAGI~” aku tertegun dengan apa yang di katakannya barusan ‘saranghae jagi~’ , dan aku merasa pelukannya semakin melemah

Aku bangkit, aku tatap wajah keybum oppa, matanya terpejam

Sukses!! Air mata langsung mengalir dengan derasnya tanpa bisa aku bendung lagi!!!

“oppa!!!!!!!!!! Bangun oppa!!!! Oppa jangan tutup matamu seperti ini!! Oppa.. nado saranghae… oppa!!!” aku mengguncang guncang tubuh nya yang sekarang tergolek lemah

Baru aku sadari kata-kata ‘saranghae jagi~’ darinya terucap tepat pukul 11.53 dan aku membalasnya tepat pukul 00.00

End of flash back

“oppa… SHINee KEYvolution kenapa hari ini tidak muncul ya?? Padahal aku ingin mengucapkan saengil chukka padamu, kau ingat ‘jika aku ada di tempat yang jauh nanti,’lihatlah SHINee KEYvolution’ ????? tapi ketika aku ingin mengatakan sesuatu yang penting malah dia tidak ada” =,=’

Aku melihat jam di tanganku , 11.52

“sebentar lagi” aku bangkit berdiri dan merenggankan otot-ototku, sudah lama rupanya aku di sini menunggu SHINee KEYvolution yang tak kunjung datang T_T

“saranghae jagi~” seseorang memelukku dari belakang, suara ini sepertinya aku sangat mengenalnya

Aku membalikkan badanku

“nado saranghae oppa!!!” aku menghambur ke pelukan namja yang setahun ini meninggalkanku, menangis?? Tentu saja!!! Rasa kangenku kalau di uangkan bisa untuk beli ribuan alpart dengan plat nomor bertuliskan  SHINee!!!

“aku sudah bilang jangan menangis kan jagi~” keybum  oppa melepaskan pelukannya

“ya, aku sangat merindukanmu oppa” aku menghapus air mata yang menggenang di pelupuk mataku

“yang penting sekarang aku sudah di sini kan?? Jagi` lihat apa kau tak malu pada SHINee KEYvolution???”

“dia tidak ada oppa!” aku menatap oppa ku ini!!

“lihatlah” dia membalik badanku sehingga aku membelakanginya dan menunjukkan tangan ke atas, dan benar saja ada bintang itu di sana

“jagi~” aku bisa dengar suara lembutnya di dekat telingaku

“mana tanganmu” aku hanya membalikkan tubuhku dan menatapnya penuh Tanya

“mana tanganmu??” dia menarik tanganku dan memasangkan sesuatu di jadi manisku

“oppa~” aku sudah hampir menangis lagi

“kalau kau menangis, aku akan melepasnya lagi!!!!”

‘ya~~ oppa!! Aku menangis bahagia” jreng.. air mata sukses mengalir dari mataku, aku langsung menggenggam tanganku, supaya benda itu tidak bisa di ambilnya kembali

“ne~ araseo jagi, kau boleh menangis sekarang sepuasmu, tapi jika sudah menjadi nyonya kim keybum ,jangan harap aku bisa menangis lagi” aku menghambur ke pelukan keybum oppa

“oppa, aku punya hadiah untukmu, seperti janjiku aku akan memberikan hadiah yang spesial untukmu” aku melepaskan pelukannya

“tidak, aku tidak butuh hadiah apapun lagi, aku sudah mendapatkan apa yang aku mau”

“jadi kau benar-benar TIDAK mau ini??” aku dengan cepat mencium bibirnya –hanya seperti kilat-

“saengil chukka jagi~”

“ahahahaha, kalau ini, aku baru mau, kau memang yang membuatku cepat dewasa jagi~”

Dan kami pun berpagutan –sensor-

FIN

Ehem, apa ada yang merasa janggal kenapa orang yang sudah terbujur malam itu bisa melamarku di hari ulang tahunnya malam ini???

Jadi hari itu , dia bukan mati melaikan pingsan karena kedinginan dan menahan sakitnya

Keybum oppa sakit ginjal, aku baru tau seminggu setelah dia bangun dari komanya

Selama setahun dia berada di luar negri untuk menjalankan transpalasi ginjal , kenapa lama sekali?? Karena setelah sembuh dia juga kuliah di sana, appa memang ingin dia kuliah di sana, mumpung begini, jadi sekalian saja dia berada di sana, hebat kan appa ku?? Kekekeke

Dan kenapa kami bisa bersama??

Selain karena kami memang bukan saudara kandung, ternyata orang tuaku yang marganya juga kim itu adalah sahabat orang tua keybum oppa, sebelum orang tuaku meninggal karena kecelakaan mereka menitipkan aku pada keluarga kim, dank au tau?? aku sebenarnya memang di jodohkan dengan kim keybum.

Jadi…

Kado untuk kim key bum tahun depan sepertinya bayi mungil

Hahahahaha

Saengil chukka key oppa

Saranghae………

Author : Agatha Tyaa

kota asal : jogjakarta

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: