Protected: [FF/2S/NC-21] Love Again end

18 March 2011 at 4:01 PM | Posted in FF ( FanFiction ), Super Junior | Enter your password to view comments.
Tags: , ,

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: [FF/2S/NC-21] Love Again

18 March 2011 at 3:53 PM | Posted in FF ( FanFiction ), Super Junior | Enter your password to view comments.
Tags: , ,

This content is password protected. To view it please enter your password below:

[FF/CHAPTERED/PG-16] Hope, Love, and Passion Chap 1

18 March 2011 at 3:47 PM | Posted in FF ( FanFiction ), Super Junior | Leave a comment
Tags: , ,

Title : Hope, Love and Passion

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Cho Kyuhyun, Hangeng, Lee Donghae,and  Oh Yang Guan Nan

Other Casts : SM artist and other

Genre : Romance

Length : ? shot

Part : 1 of ?

 

***

 

2008

 

Aku tiba di Seoul, hanya mengenal seorang kenalan saja dan tanpa tahu bagaimana cara bicara di sini, bisa sih broken Korean tapi. Oh My Goodness kenapa aku bisa senekat ini? Jawabannya Cuma satu: Super Junior. Entahlah, bisa saja aku dibilang tergila-gila, cinta mati, atau freak barangkali. Haha konyol memang, tapi itu satu-satunya alasan aku mengikuti SM Global Audition dari tempat asalku, China.

Aku melangkah di bandara Incheon yang ramai, mengaktifkan ponsel, menunggu beberapa saat lalu menelepon satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara.

“Halo..”

Gege!! Aku di Incheon sendiriaaaaan…” pekikku kencang. Dalam bahasa China tentu saja.

“APA?! Kau benar-benar ke Seoul? Kenapa nekat sekali sih? Kalau kau kenapa-napa bagaimana? Apa yang akan aku katakan pada orang tuamu, Bodoh!”

“Gege jangan lebay, aku ‘kan sudah bilang waktu itu di cyworld.

“Aku pikir kau main-main, mana percaya aku, seorang bocah manja ingusan macam kau benar-benar ke Seoul sendirian..”

“Oke Gege Hangeng yang paling tampan dan bijaksana, sekarang bocah manja dan ingusan ini sudah ada di Incheon sendirian tanpa kenal siapa pun sedang meminta bantuan padamu. Kau sedang sibuk tidak? Kalau iya tolong suruh orang untuk jemput aku, aku tidak tahu jalan..”
Continue Reading [FF/CHAPTERED/PG-16] Hope, Love, and Passion Chap 1…

[FF/1S/PG-16] Deja Vu Under The Rain

16 February 2011 at 6:34 PM | Posted in FF ( FanFiction ), Super Junior | 22 Comments
Tags: , , ,

Title : Deja Vu under The Rain
 

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Cho Kyuhyun and Park Chae Rin

Other Casts : Lee Sungmin, Cho Ahra, and other

Genre : Romance

Length : 1 Shots

A/N : will be better if you read Change of Rain *click the title* before read this story

***

“Waktu berlalu begitu cepat, tiga tahun terasa sangat singkat jika bersamanya,” ujar Kyuhyun oppa di hadapan makam Ki Bum. Dia memelukku dari belakang sementara aku terdiam mendengarkan percakapan satu arah ini. “Kau benar, Ki Bum, dia wanita yang aneh,” aku memukul lengannya, sempat kulihat dia tersenyum manis. “Tapi wanita aneh ini telah membuatku jatuh cinta. Terima kasih telah membiarkanku menjaganya. Terima kasih telah memberikan jalan padaku untuk bersamanya. Dan terima kasih telah rela melihatku mencintainya.”

Kata-kata Kyuhyun oppa membuat hatiku bergetar hebat, tanpa terasa air mataku menetes membasahi lengan Kyu oppa yang melingkar di pundakku.

“Kau menangis Chae Rin?” tanya kyu oppa.

“Apa jika kubilang tidak kau akan percaya?”

“Anak bodoh,” dia mempererat pelukannya “Uljimarayo.” Aku hanya mengangguk kecil, dia menaruh dagunya di bahu kananku. “Aku telah berjanji pada Ki Bum untuk tidak membuatmu menangis. Kalau kau begini, dia bisa membunuhku.” Candanya, dan aku tergelak lemah.

“Kau tak akan dibunuh olehnya. Karena aku menangis karena dia.”

Wae?

“Aku merindukannya.”

Kyuhyun oppa terdiam. Apa ucapanku membuatnya bersedih?

“Maaf.” ujarku lagi.

Gwenchanayo.” Dia masih saja memelukiku, dekapannya hangat. Ya, dekapannya berbeda, inilah dia Cho Kyuhyun.

***

Aku baru saja sampai di rumah Kyu oppa. Aku memintanya untuk membantuku menyelesaikan tugas dosen yang deadline-nya tiga hari lagi. Dengan langkah santai aku membuka pintu kamarnya dan kudapati dia sedang berkutat asyik dengan laptopnya, apalagi kalau bukan bermain game. Dia seperti tidak menyadari kehadiranku. Aku pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Aku datang oppa.” aku mengecup pipinya.

“…”

Oppa..” aku menyentuh pipinya dengan telunjukku, dan dia tetap fokus pada permainannya. “Ah aku pulang saja deh,” aku beranjak dan dia menahan tanganku.

“Ih baru juga begitu, sudah marah.”

“Habis.. kau seperti tidak menganggapku..” rengekku kecil, dia tersenyum dan mengacak rambutku pelan.

“Tunggu di sini aku ambil makanan kecil dan minuman untukmu, kau siapkan saja data-data yang akan kita pergunakan.” ujarnya. Aku hanya mengangguk kecil dan dia pun beranjak keluar.

Aku telah menyiapkan segalanya. Tapi dia tak kunjung datang. Aaaah lama sekali.

Aku berdiri dan duduk di ranjangnya yang bersprai putih. Aku membaringkan tubuhku dan menutup mata. Dulu aku pernah melakukan ini. Setelah hujan turun di atas sekolah beberapa tahun silam. Aku membuka mata dan menatapi langit-langit yang putih bersih. Pikiranku melayang pada kenangan hari itu. Aku beranjak dan berjalan pelan ke arah meja belajar hitam yang ada di sudut kamar ini. Ada notebook putih yang sedang tertutup dan beberapa tumpuk surat. Persis. Aku menutup mata menahan pilu dan kerinduan yang mulai menggebu.

“Hai, siapapun kau yang menerima surat ini.

Boleh aku minta tolong? Jika boleh lanjutkan membaca jika tidak tolong masukkan kembali surat ini ke dalam amplop dan taruh di tempat kau menemukannya.

Terima kasih”

Halaman pertama surat dari Ki Bum, bahkan aku hafal isinya, padahal hanya sekali aku membacanya. Aku mendengar suara langkah kaki. Itu pasti Kyuhyun oppa. Aku kembali ke ranjang dan membaringkan tubuh aku kembali memejam dan memori itu kembali menyeruak. Tanpa kusadari butiran air mata telah membasahi pipiku. Ada yang menyentuh pipiku. Aku membuka mata dan kudapati Kyuhyun oppa sedang menatapku cemas.

“Kenapa? Apa kau sakit? Kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

“…” aku hanya dapat menggeleng lemah tanpa bersua. Dia semakin kebingungan.

“Kenapa menangis? Apa aku salah? Apa aku menyakitimu?”

“…” lagi-lagi aku hanya menggeleng dan mulai terisak lebih kencang. Dia semakin bingung.

“Chae Rin-ah ada apa denganmu? Jangan membuatku takut begini…” dia memelukku yang masih berbaring. Aku membalas pelukannya.

Mianhae..” ujarku pada akhirnya.

***

Aku baru saja keluar dari kelas filsafat dasar, aku merapikan buku-bukuku dan mendekapnya. Di depan pintu sudah ada Kyuhyun oppa yang menungguku dengan senyum terbaiknya.

“Bagaimana harimu?” tanyanya ketika mendapati aku tak jauh darinya.

“Lumayan, aku selalu suka kelas filsafat dasar. Kau?”

“Ada sedikit masalah, tadi aku ketahuan tidur di kelas kalkulus.” dia tersenyum malu.

“Makanya kalau main game jangan sampai malam jagiya…” aku mencubit pipinya.

“Hehehe, seperti tidak tahu saja..” dia mengambil buku yang kupegang dan mengamit tangan kananku. “Pulang atau makan siang dulu?” tanyanya.

“Emm.. ke toko buku dulu, baru kita makan. Ada yang harus ku beli dulu.”

“Baiklah, ayo.”

Kami berjalan menuju parkiran motor. Dari jauh sudah terlihat bahwa hujan sedang turun. aku tergelak kecil. Kyuhyun oppa menatapku bingung.

Wae? kau tidak suka hujan turun?”

“Ah, anni.. hanya saja..”

“Ada apa? Lebih baik kemarikan semua bawaanmu, dan bermainlah bersama hujan.” Kyuhyun sudah mengambil tas dari tanganku.

“A.. aku sedang tidak ingin bermain hujan.” aku menarik lagi tasku yang sempat berada di tangannya dengan cepat.

“Ada yang salah denganmu? Apa kau sakit?” dia menempelkan punggung tangannya di dahiku.

Gwenchana..”ujarku lemas.

“Kau ini kenapa hah? tumben sekali.” ujarnya lembut. aku langsung memeluknya. “Apa ada masalah?” tanyanya lagi. aku menggeleng lemah. dia mengelus punggungku. “Katakan jika memang iya. aku ada untuk berbagi senang maupun dukamu. Arra?” aku mengangguk perlahan. tanpa sadar air mataku membasahi kemeja hitamnya.

Bodoh, betapa bodohnya aku masih saja terlalu mencintai Ki Bum. Padahal sudah ada orang bodoh ini yang begitu mencintaiku.

Mianhae.

“Untuk apa meminta maaf?”

Molla.” aku melepaskan pelukan. dan menyeka air mataku.

“Kau menangis? Jangan membuatku bingung Chae Rin.” dia mulai ikut menyeka bekas tangisanku.

Oppa, dapatkah kita pergi menggunakan taksi saja? Aku takut kehujanan.”

“Kepalamu terbentur atau apa?”

“Ku mohon..”

“Tapi Chae Rin..”

Aku memegang bahunya dan berjinjit, mendekatkan wajahku ke wajahnya kemudian menutup mata. bibir kami bertemu, dia mulai memegangi leherku dan menikmati ciuman kami.

Maafkan aku oppa, hanya dengan cara ini aku bisa membungkam semua pertanyaanmu. Kau bukan Ki Bum yang akan terus memaksaku bercerita.

***

“Aku pulang..” ucapku pelan saat memasuki rumah. Aku melewati kamar Ji Hyun yang terbuka.

“Chae Rin-ah.. bukankah di luar hujan?”

“Iya.” jawabku lemah, aku sudah tahu apa yang akan dia tanyakan selanjutnya.

“Tumben sekali kau tidak basah kuyup? Kau sakit?”

Anni. Hanya sedang tidak ingin.” aku lalu melengos pergi.

Ya! Chae Rin-ah..” Ji hyun mengikutiku ke kamar. “Apa benar kau tidak apa-apa?” aku duduk di ranjang sambil menaruh beberapa buku yang kubeli dari toko buku tadi. Ji Hyun ikut duduk.

Gwenchana.

“Cepat katakan. Aku satu-satunya orang yang tidak bisa kau bohongi setelah Ki Bum.” ujarnya bangga, aku menghela napas mendengar namanya disebut. “Apa Kyuhyun sunbae berbuat sesuatu yang salah?”

“Akulah yang salah padanya.” Ji Hyun mendengarkanku dengan seksama. “Aku.. merindukan Ki Bum.. setiap melihat hujan aku selalu terbayang wajahnya, senyumnya, dekapannya, ciumannya, semua hal tentangnya. Aku, aku tahu aku bodoh, Ki Bum tak akan bisa kembali. dan aku tahu aku jahat, karena aku sudah memiliki Kyuhyun, tapi..” aku mulai membenamkan wajahku ke kedua telapak tanganku.

“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu, tapi.. coba kau pikir di mana kurangnya Kyuhyun sunbae. Dulu dia rela menjadi Ki Bum untuk mendapatkanmu. Kau pikir itu tidak menyakitkan? kini dia selalu ada untukmu, kapan pun saat kau membutuhkannya. Aku hanya dapat mengatakan itu. Silahkan kau camkan baik-baik.” Ji Hyun memegang pundakku dan berlalu. Sempat kudengar ponselnya bedering “Yobseyo sunbae..” ujarnya dan aku tak dapat mendengar apa-apa lagi.

Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan?

***

Hari ini minggu, aku melihat jam dinding di kamarku yang menunjukkan pukul 9. Aigoo apa aku tidur terlalu larut semalam? Sepertinya tidak. kenapa aku bangun sesiang ini.

Aku mengambil ponselku di atas meja. Aneh, tidak ada telepon atau bahkan pesan. biasanya Kyuhyun oppa akan meneleponku jika dia sudah bangun. apa dia belum bangun? aku berniat untuk meneleponnya, tapi kuurungkan karena aku sedang benar-benar tak ingin bicara. maafkan aku oppa.

Hari ini benar-benar hampa. aku mandi, membereskan kamar, lalu mengerjakan tugasku hingga pukul 2 siang. aku kembali mengecek ponselku. masih tidak ada panggilan juga pesan. segera kutekan speed dial nomor 2 –yah nomor 1 punya ayah.

“Nomor yang anda tuju..” mesin penjawab? tumben sekali ponsel Kyuhyun oppa mati –atau mungkin dimatikan. biasanya aku tak pernah kesulitan menghubunginya. malah dia yang sering mengomel karena kebiasaanku yang malas men-carg handphone.

Aku memutuskan menelepon ke rumahnya.

Yobseyo..” ujar orang di seberang sana.

Yobseyo, bisa aku bicara dengan Kyuhyun?” tanyaku pelan.

“Tuan muda sedang tidak ada di rumah, Nona.”

“Dia pergi ke mana?”

“Entahlah, sudah tiga hari dia tidak pulang.”

“Apa? belum pulang? dia sama sekali tidak memberi kabar ke rumah?”

“Tidak, Nona.”

Ah ye. kamsahamnida.”

Aku menutup telepon. ke mana dia, kenapa dia tidak pulang, dia di mana, pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan mengenainya. Aigoo aku sangat cemas.

Aku mencari nomor di ponselku, setelah dapat segera ku tekan tombol call.

Yobseyo..” ujarku saat teleponnya terangkat.

Yobseyo, Chae Rin. ada apa?”

“Ah Ra unnie, apa kau tahu di mana Kyuhyun oppa?”

“Eh? dia tidak bersamamu?”

Anni unnie.. aku cemas sekali padanya. bibi Hye bilang dia tidak pulang tiga hari ini. apa yang dia pikir sih?” aku mulai terisak.

“Chae Rin-ah gwenchana.. Uljima.. Kyuhyun pasti baik-baik saja.”

Unnie.. aku benar-benar khawatir.”

“Tenanglah, lebih baik kau cari ke tempat yang paling sering dia kunjungi. ah, coba ke apartemen Sungmin, siapa tahu dia menginap di sana.”

Ye, aku akan segera ke sana. Kamsa unnie.

Choenma, sudah jangan menangis, dia pasti tidak akan kenapa-kenapa. Maaf aku tak bisa ikut mencari si pabo bersamamu.  tapi aku akan terus berusaha meneleponnya, kalau dia sudah bisa dihubungi aku akan memberitahumu.”

Ye, gwenchana. masa iya unnie harus kembali ke Korea Cuma untuk mencarinya.”

“Ya sudah Chae Rin, aku sedang ada kerjaan ya. Bye.” telepon ditutup.

Aku yang hanya mengenakan celana pendek dan kaus tidak sama sekali terpikir untuk berganti baju. aku segera mengambil jaket dan dengan terburu memakai sandal. Aku hanya membawa ponsel dan uang. Kulangkahkan kaki keluar rumah dan berlari menuju halte.

Dua puluh menit untuk sampai ke rumah Sungmin oppa, dan dalam dua puluh menit itu pula aku diliputi harapan untuk menemukan Kyuhyun oppa. sampai di depan apartemennya aku langsung mengetuknya dengan tergesa.

“Sungmin oppa.. Sungmin oppa buka pintunya.”

“Ya sebentar.” teriaknya dri dalam. “Chae Rin ada apa?” tanyanya setelah membukakan pintu. aku langsung masuk ke dalam dan menyisir semua ruangan. “Kau cari apa Chae Rin?”

“Kyuhyun oppa.. dia tidak ada di sini?” tanyaku cepat.

“Kyuhyun? Anni. dia tidak ke sini.”

“Kapan.. Kapan terakhir kau meneleponnya?” aku mengguncang bahu Sungmin oppa.

“Dua hari yang lalu, dia bilang dia sedang bingung denganmu. Apa kalian sedang bertengkar.” aku melepaskan tanganku dari bahunya.

“Tidak, kami tidak bertengkar, tapi sepertinya dia kecewa padaku. aku duduk di sofa yang tak jauh dari tempatku berdiri.”

“Dia tidak mungkin kecewa padamu. Tenanglah..”

“Aku egois oppa.. aku bodoh..”

“Sudahlah Chae Rin..” Sungmin oppa tampaknya iba denganku.

“Aku, harus pergi, aku harus mencari Kyuhyun oppa. Kamsa, maaf membuat keributan.” aku lalu membungkuk dan berlalu.

Ke mana lagi aku harus mencarinya?

Aku telah mencari ke semua tempat yang mungkin dikunjunginya. Tempat dia latihan menyanyi, café yang biasa menjadi tempat nongkrongnya, toko buku, rumah sakit, aku bahkan sampai pergi ke kantor polisi. Aku juga mengunjungi semua rumah temannya yang aku tahu, dari mulai rumah Donghae oppa sampai rumah Seohyun –siapa tahu. tapi tetap saja hasilnya nihil. Semua usahaku tidak membuahkan hasil.

Aku berjalan gontai di pinggir sungai Han, sudah sangat bingung dan tak tahu lagi harus mencari ke mana. dan tiba-tiba saja kulihat tetesan-tetesan air mulai jatuh, aku tergelak lemah, dan segera beringsut ke tanah.

“Kyuhyun oppa.. kau di mana? maafkan aku.. aku tahu aku salah, tapi jangan menyiksaku seperti ini..” aku mulai bergumam sendiri seperti orang gila. “Oppa.. cepat kembali, aku mencintaimu.. sungguh.. aku mencintaimu..”

Kepalaku mulai pening, campuran antara kelelahan dan frustasi. ditambah air hujan yang membasahi tak kenal kompromi. Aku tahu tubuhku sudah tak kuat dan ingin rehat tapi aku bersikeras dan mulai beranjak. Saat aku mulai melangkah pandanganku kabur dan seseorang menangkapku sebelum aku tersungkur. Dan aku tak dapat mengingat apapun setelahnya.

***

Ketika pertama kali ku buka mata, yang kulihat hanyalah langit-langit kamar –yang bukan kamarku maupun kamar Kyuhyun oppa–. Ini kamar Ki Bum. aku sangat kaget mengapa tiba-tiba ada di sini. Ini benar-benar apartemen Ki Bum. aku duduk di ranjangnya. dan ketika kulihat di sekeliling ada foto-fotoku bersama Ki Bum tertempel di seluruh dinding kamar ini. bukan hanya satu-dua foto tapi beratus-ratus hingga seluruh dinding tertutup foto. aku menyusuri setiap senti dinding kamar ini, memoriku terbuka seolah aku kembali ke beberapa tahun silam –saat aku masih bersama Ki Bum.

Ini foto saat sebulan kami bersama, ini saat dia makan malam di rumah sedang bersama appa, itu saat kami kencan ke taman hiburan, semua foto yang pernah kami ambil tertempel di sini. banyak juga foto Ki Bum sendiri.

Aku mulai beringsut ke lantai, dan memeluki kedua lututku, aku terisak dalam kepiluan yang mendalam.

“Aku tak butuh ini.. aku hanya ingin Kyuhyun oppa kembali.. aku benar-benar takut kehilangannya..” Aku berteriak sejadi-jadinya mungkin tak akan ada yang mendengarku, aku tak peduli! “Kumohon oppa, Kyuhyun oppa kembalilah.. aku takut.. Kyuhyun oppa..”

Hening, tak ada jawaban sama sekali.

Dengan sisa tenaga yang kumiliki aku bangkit dan mencabuti semua foto yang tertempel di dinding itu.

“Aku tak butuh ini, aku tak butuh ini semua.. aku hanya mau Cho Kyuhyun, aku mau dia kembali.. cukup.. itu saja cukup.. aku bahkan tak butuh hujan.. aku hanya ingin Cho Kyuhyun.. cukup Cho Kyuhyun..” teriakku.

Dengan tiba-tiba ada yang memelukku. Aku tidak tahu apa aku sedang berkhayal atau apa, yang jelas tubuhnya hangat. Dia mengelus punggungku.

“Kyuhyun oppa..” ujarku parau.

“Terima kasih.”

“Kyuhyun oppa..”

“Aku di sini Chae Rin..”

“Kyuhyun oppa..” aku menangis sekeras-kerasnya, dia kembali, dia ada di sini, bersamaku, memelukku. “Jangan pergi lagi.. jangan biarkan aku sendirian..” aku memeluk tubuhnya erat seolah tak ingin melepaskannya. aku takut kehilangannya lagi, aku hanya ingin bersamanya, tidak dengan siapa pun, tidak juga Ki Bum.

“Aku janji.. maaf aku keterlaluan, aku hanya ingin memastikan cintamu..” aku malah makin terisak, pria ini.. aku tak bisa membaca jalan pikirnya. yang aku tahu hanya satu: dia mencintaiku.

“…” aku tak dapat bersua aku hanya ingin memeluknya.

Saranghae..” bisiknya pelan.

Na do..” balasku.

Aku melepaskan pelukannya, dia menatapiku dengan lembut sementara aku masih menangis karenanya. Dia menghapus air mataku dengan jemarinya. Aku mengambil tangannya yang ada di wajahku dan mulai menciuminya seperti yang pernah dia lakukan dulu.

“Chae Rin-ah..” ujarnya, aku menatapnya sendu.

“Aku mencintaimu oppa, hanya kau..” aku memegangi pipinya, mengelusnya pelan.

Aku mencium kedua kelopak matanya, hidungnya dan bibirnya. Kami berciuman lama seolah saling membutuhkan.

Kini di bawah hujan aku dan Kyuhyun oppa memiliki kenangan kami sendiri. Biarlah Ki Bum menjadi kenangan, hanya kenangan. Dan aku memiliki masa depanku sendiri bersama hujanku yang baru –Kyuhyun oppa.

-END

[FF/1S/PG-16] Change of Rain

16 February 2011 at 6:26 PM | Posted in FF ( FanFiction ), Super Junior | 6 Comments
Tags: , , , , ,

Title : Change of Rain 

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Cko Kyuhyun, Kim Ki Bum, Park Chae Rin

Other Casts : other cast

Genre : Romance

Length : 1 Shots

A/N : will be better if you read Under The Rain *click the title* before you read this fiction.

***

Hujan masih membasahi tubuh terpuruk itu. Seorang gadis memeluk kakinya ditengah jalan. Di bawah hujan. Membiarkan dirinya dihujam butiran-butiran kasar yang biasanya bersahabat. Terisak, hanya itu yang dapat dia kerjaan.

“Pergi, sedang apa kau disitu! jangan halangi hujan dariku.” ujar gadis itu dengan kasar. Seorang pria dengan payung hitam ditangannya berusaha melindungi si gadis agar tak terjamah hujan.

“…” pria itu diam tapi tak jua beranjak dari tempatnya. Dia tahu tak ada gunanya bicara apapun dengan si gadis kini.

“Kau bodoh atau apa? Ku bilang pergi!” si gadis makin berteriak. Pria tersebut menarik tangan si gadis menyuruhnya berdiri tanpa sepatah kata. Tentu saja gadis itu memberontak dan menepis lengan pria yang menatapnya sendu. Tapi pria itu kuat sehingga si gadis akhirnya bangun dan menatap langsung wajah pria tersebut.

“Apa? Apa yang kau mau?”

“Ikut pulang denganku.”

“Tidak. Apa pedulimu? Apa yang kau mengerti tentang aku?” Pria itu menarik tubuh si gadis kedalam dekapannya “Lepaskan aku Kyuhyun sunbae.. lepaskan..”

“Menangislah Chae Rin.”

“Hujanku telah pergi. Apa kau tahu rasanya?” gadis yang di panggil Chae Rin memukul dada Kyuhyun. Semakin lama semakin melambat “Hujanku telah meninggalkanku. Apa kau mengerti?”

“…”

“Kau tidak mengerti. Kau tidak tahu.. Kau tidak merasakannya. Hujanku..” Chae Rin kembali terisak. Kyuhyun memeluk Chae Rin makin erat.

“Aku memang tidak mengerti.. tapi..” Kyuhyun melepaskan payung yang dia pegang di tangan kanan lalu memeluk Chae Rin lagi “Aku bersedia menjadi hujanmu.”

“Kau tidak akan bisa menggantikannya” Chae Rin mendorong tubuh Kyuhyun yang sedari tadi mendekapnya “Hujanku hanya satu. Kim Ki Bum bukan kau!”

“Tapi dia telah pergi.” suara Kyu meninggi.

“Sejauh apapun dia meninggalkanku. Kemanapun dia pergi. Hujanku hanya Kim Ki Bum dan akan selamanya begitu.”

“Dia pergi dari dunia ini. Apa kau belum juga bisa menerima itu? Ini sudah hampir enam bulan dan kau masih begini? Ini sudah tidak wajar.”

“Sudah kubilang, kemanapun dia pergi dia akan selamanya menjadi hujanku. Ingat kata-kataku Cho kyuhyun” Chae Rin melangkah meninggalkan Kyuhyun sementara Kyuhyun hanya dapat memandangi punggung Chae Rin yang semakin lama semakin menjauh.

Kyuhyun masih menatap jalanan yang kosong. Dia masih membiarkan tubuhnya diguyur hujan. Dia menghela napas panjang dan merentangkan kedua tangannya, menengadah membiarkan wajahnya dibelai hujan.

“Maaf.”

***

“Ji Hyun-ah” panggil Kyuhyun dan dengan segera dihamipinya.

“Ada apa sunbae? Tergesa sekali tampaknya.”

“Kau tahu kemana Chae Rin?”

“Mungkin di sungai Han.”

“Tempat dia dan Ki Bum dulu sering berdua.” gumam Kyu pelan.

“Bagaimana kau tahu?”

“Ah.. Tidak.. ya sudah, terima kasih. Aku kesana dulu.” Kyuhyun mulai berbalik.

“Sunbae..” panggil Ji Hyun.

“Ya?”

“Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Kenapa kau tiba-tiba mendekati Chae Rin?”

“Bukan apa-apa.” Kyuhyun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dan meninggalkan Ji Hyun dalam bingung.

Kyuhyun berjalan mencari sosok Chae Rin yang sama sekali tidak terlihat. Dia menyusuri aliran sungai Han. Dan setelah berjalan jauh didapatinya Chae Rin sedang melamun. Didekatinya perlahan. Kyuhyun menutup kedua mata Chae Rin dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan yang lainnya menyentuh bahu, lengan, hingga jemari Chae Rin. Diangkatnya dan dikecupnya perlahan.

“Kau kembali.. Kau datang untukku bukan?”

“Aku datang untukmu.” mendengar suara Kyuhyun, Chae Rin meronta kemudian berbalik menghadap Kyuhyun.

Plak.

Satu tamparan keras mengenai wajah Kyuhyun. Kyu hanya dapat memegangi pipinya yang memerah dan menatap wajah Chae Rin dalam.

“Kau mempermainkanku, hah? Apa yang kau inginkan sebenarnya?”

“Aku sama sekali tidak berniat mempermainkanmu.”

“Tapi apa yang kau lakukan barusan sungguh keterlaluan. Kau pikir kau siapa?”

“Aku tahu aku bukan dia. Aku bukan Kim Kibum tapi..”

“Cukup! Aku tidak mau mendengar semua alasan konyolmu.” Chae Rin meniggalkan Kyuhyun.

***

Kenapa dia bersikap seperti Ki Bum? Kenapa dia memperlakukanku seperti Kibum? Tadi, baru saja dia melakukan apa yang sering Kibum lakukan padaku jika sedang banyak pikiran. Di tempat yang sama. Di kondisi yang sama. Lama-lama dia seperti menjadi bayangan Kibum. Tidak. Seperti apapun dia berusaha hujanku hanya satu Kim Ki Bum.

Aku melangkah dengan sebal ke rumah. Seperti biasa rumah sepi. Ji hyun sudah pulang belum ya? Ku tengok sebentar kamarnya.

“Chae Rin-ah kenapa?” tanyanya yang sedang berkutat dengan laptop putihnya.

“Tidak. Kukira kau belum pulang” ujarku sambil tersenyum “Aku masuk dulu ya..” aku bergegas ke kamar sebelum di mulai bertanya.

Aku melemparkan tubuhku ke ranjang dan menutup kedua mataku. Aku masih binggung, benarkah dia telah pergi? Benarkah dia tega maninggalkanku sendirian?

“Arrrrrghhhhhhhhhhh..” aku berteriak dengan sangat kencang. Semua berkecamuk hebat di kepalaku.

“Kau kenapa Chae Rin?” Ji Hyun tiba-tiba datang dan menghampiriku dia memelukku.

“Sekarang aku sudak tidak bisa lagi menunjukan pada semua orang bahwa aku bahagia. Bahwa aku senang. Sekarang semua orang tau aku lemah dan rapuh. Kau tahu kenapa Ji Hyun? Karena aku telah kehilangan hujanku. Aku telah kehilangan hartaku yang paling berharga.”

“Chae Rin dengar. Dulu sebelum kau bertemu dengannyapun kau sudah lemah dan rapuh. Hanya aku yang tahu itu iya kan? Tapi kau bisa bertahan.”

“Tapi sekarang aku tidak bisa..” aku makin histeris.

“Kau bukan tidak bisa. Kau hanya tidak mau.”

“Aku tidak mampu, Ji Hyun tolong jangan paksa aku.” Ji Hyun terdiam. Wajahnya tampak cemas melihatku begini. Entahlah aku tak perduli.

***

Aku tiba disekolah terlalu pagi hari ini. Bosan sekali, belum ada siapa-siapa. Dari kursiku yang langsung menghadap ke lapangan utama ku lihat pria menyebalkan itu sedang berjalan perlahan. Aku mengamatinya dengan seksama.

Dia pria tampan, gayanya juga lumayan. Tapi dia sangat berbeda dengan Ki Bum. Kibum selalu memasukkan bajunya dengan rapi menggunakan tas gendong yang disingkapkan pada sebelah bahu, jaketnya selalu tertempel di tubuhnya yang atletis dia juga jarang mendengarkan lagu. Kadang-kadang saja headset menempel di telinganya. Sedangkan dia? Bajunya dimasukkan hanya depannya saja yang belakang dibiarkan keluar tak beraturan, memakai tas selempang dan jaketnya dia singkapkan di tasnya. Tak lupa headphone bertengger di lehernya. Meskipun tidak diperhatikan Kyuhuyun dan KiBum itu berbeda. Sangat berbeda. Tapi entah apa yang merasuki Kyuhyun sehingga dia selalu mencoba menjadi Ki Bum. Dan itu mnyebalkan.

Kulihat dia sudah masuk ke gedung sekolah. Aku lalu menatap jam dinding yang ada dikelas. Masih pukul 06.30 masih setengah jam lagi masuk. Aku naik keatap sekolah. Sepi. Tentu saja.

“Kim Kibum.. Apa kau mendengarku? Aku merindukanmu..” teriakku dengan lantang.

Tidak ada jawaban. Hanya angin yang meniup lembut rambutku. Sebutir air mata melintas di pipiku.

“Bodoh aku merindukanmu.. Aku mencintaimu.. Kenapa kau tega membiarkan aku sendirian begini?”

Dan tanpa kukehendaki hujan turun menyamarkan tangisku. Aku menangis sejadi-jadinya disitu. dalam beberapa menit saja aku sudah benar-benar basah. Tapi aku tidak perduli. Aku tak peduli hari ini ada pelajaran yang harus aku ikuti. Aku tak peduli aku sakit. Aku tidak peduli apapun! Ditengah kegalauanku ada yang memelukku dari belakang. Kedua tangannya melingkar di bahuku. Dia mengecup ubun-ubunku.

“Aku mencintaimu.. jangan pernah pergi lagi.. aku takut sendirian” aku bergumam. Pelukannya sama, dekapannya sama. Ini hujanku.

Dia mengusap kedua mataku, menyuruhku memejam. Aku menurut. Dia memutar tubuhku dan mencium leherku beberapa kali. Kecupannya sama. Dia hujanku. Bibirnya naik ke pipiku. Masih sama. Dan bibirnya menyentuh bibirku. Tangannya menyentuh tengkukku. Kurasakan deru napasnya, manis bibirnya. Dan seketika kudorong dia jauh dari tubuhku. Tenaganya terlalu kuat membuatku tak mempu keluar dari lingkar tangannya. Tapi aku meronta. Dia menggigit bibirku hingga berdarah dan dia melepaskanku.

Aku menatapnya dalam diam. Dia juga melihatku tanpa kata.

Plak. Aku menampar pipi kanannya. Tapi saat tanganku masih tertempel di wajahnya dia menyenuh punggung tanganku dengan  tangan kanannya. Menggenggamnya dan mengecupnya. Dia menarikku dalam pelukannya. Aku meronta keras dia makin mendekapku.

“Aku tahu aku dan dia tak sama. Tapi kumohon belajarlah mencintaiku. Kepergiannya bisa dibilang telah lama. Tolong jangan siksa dirimu seperti ini terus. Aku juga sakit melihatmu begini. Tolong, mengertilah.. mengertilah bahwa aku mencintaimu.” aku terdiam mendengar pernyatannya.

“Kalau begitu kau egois.”

“Kau pikir dia senang melihatmu begini? Tidak, dia juga pasti akan sedih.. bukankah kau tak ingin melihatnya bersedih?”

“Kau.. jangan pernah sok tahu tentangnya.. kau itu bukan siapa-siapa.. kau tidak tahu apapun mengenaiku atau dia.” ujarku geram, aku menarik kerah bajunya –meskipun dia lebih tinggi dariku.

“Kau bahkan tidak mengenal dirimu sendiri Chae Rin.”

“Kau…” ucapanku terhenti kepalaku sakit sekali dan tiba-tba semua tersa gelap.

***

Mataku terbuka. Kepalaku masih terasa sakit. Emm, dimana aku? Aku mngingat-ingat apa yang terjadi barusan. Ah tadi ‘kan aku ada di atap sekolah bersama Kyuhyun sunbae. Kenapa aku ada disini sekarang. Dan dimana aku?

Aku celingukan, berusaha mengidentifikasi. Ini kamar yang cukup rapi dan lembut dengan didominasi warna putih sembuat kamar ini tampak tenang. Sebuah tempat tidur besar dengan sprai berwarna senada yang aku tempati ini pun tampak manis diposisinya. Disudut ruagan ada sebuah meja belajar hitam. Aku berdiri dan mendekati meja itu. Ada sebuah foto berpigura. Foto kyuhyun. Jadi ini kamarnya. Kulihat sebuah notebook putih dalam keadaan tertutup. Disebelahnya terdapat amplop yang cukup tebal. Entah perasaan apa yang menyuruhku untuk membukanya –walaupun memang tidak sopan. Ada beberapa lembar kertas yang disatukan oleh sebuah klip silver. Kusisihkan amplopnya dan segera ku baca.

“Hai, siapapun kau yang menerima surat ini.

Boleh aku minta tolong? Jika boleh lanjutkan membaca jika tidak tolong masukkan kembali surat ini ke dalam amplop dan taruh di tempat kau menemukannya.

Terima kasih”

Aku lanjut ke kertas kedua

“Terima kasih kau telah mau menolongku.

Sebelumnya aku ingin memberitahumu bahwa waktuku sudah dekat dan aku ingin kau menjaga seseorang untukku. Apa kau bersedia? Jika kau bersedia lanjutkan membaca jika tidak masukkan kembali surat ini ke dalam amplop dan taruh di tempat kau menemukannya.

Terima kasih”

Aku semakin penasaran dengan kertas-kertas ini. Segera ku buka kertas ketiga

“Terima kasih kau bersedia menjaganya untukku.

Sebelumnya aku akan bercerita sejenak boleh?

Aku memiliki seorang gadis yang sangat kucintai. Kami telah menjalin hubungan yang menyenangkan. Namun, waktuku kini telah dekat dan aku tak lagi bisa menjaganya. Menjadi hujannya.

Kau tahu kenapa hujan?

Karena dia sangat mencintai hujan. Bahkan terkadang dia terkesan lebih mencintai hujan daripada aku. Dulu sebelum bertemu denganku dia tak memiliki siapapun untuk bercerita, berkeluh kesah, menangis. Dia selalu mencitrakan diri pada semua orang bahwa dia adalah gadis ceria dan tak ada beban. Tapi itu palsu. Dia hanya tak ingin membuat orang disekitarnya cemas. Dan dia hanya menceritakan masalahnya pada hujan. Dibawah hujan dia menjadi dirinya sendiri. Di bawah hujan dia menangis. Karena itulah dia mencintai hujan.

Gadisku itu aneh bukan? Tapi karena itu aku mencintainya.

Kini, aku akan memperkenalkan dia padamu. Namanya Park Chae Rin. Dia sekarang bersekolah di Chungdamn High School kelas 2…”

Dibawahnya terdapat biografiku. Penjelasan siapa aku, apa yang kusuka, aku suka warna hitam, ice cream, sampai aku suka super juniorpun ada. Apa-apa yang aku tidak suka, aku tidak suka menunggu, aku tidak suka bau rokok hingga aku tidak suka anjing juga tertulis disitu. ada juga mengenaiku yang alergi debu dan tidak kuat kedinginan. Semua benar-benar mendetail sampai aku saja takjub dengan apa yang KiBum ketahui teentang diriku. Lalu ada paragraf baru,

“Bagaimana? Dia lucu sekali bukan? Apa kau masih mau menjaganya untukku?

Kusertakan fotonya disini.

Apa kau masih mau membantuku?

Jika kau bersedia lanjutkan membaca jika tidak masukkan kembali surat ini ke dalam amplop dan taruh di tempat kau menemukannya.

Terima kasih”

Beberapa butir air mataku telah jatuh. Aku benar-benar merindukan Ki Bum dan dari surat ini sungguh aku merasa Ki Bum sedang bersamaku. Sedang bercerita kepadaku.

Dengan tangan yang bergetar ku buka lembar terakhir.

“Terima kasih atas keteguhan hatimu. Kini aku tahu kau tulus ingin membantuku. Ku mohon jagalah hujanku. Jangan biarkan dia menangisi kepergianku. Buat dia tersenyum akan kehadiranmu.

Sekali lagi ku mohon dengan sangat. Tolong cintai dia setulus hatimu. Karena jika dia sudah mencintai seseorang dia akan menjaganya hingga waktu yang memisahkan.

Aku akan memberitahumu beberapa kebiasaannya. Agar kau lebih mudah mendapatkan hatinya. Karena dia tak akan berhenti mencintaiku. Kekeke.

Pertama jika hujan turun dia akan segera berlari menemui hujan. Menutup kedua matanya, merentangkan tangannya, dan membiarkan hujan mengguyurnya. Jika kau melihatnya seperti itu, biarkan saja, kalau kau juga suka hujan ikutlah bermain dengan hujan bersamanya. Jika tidak tunggu sampai dia menggosok lengannya. Itu tandanya dia udah kedinginan. Peluklah dia, singkapkan jaketmu agar dinginnya hilang.

Kedua jika kau lihat dia termenung entah menatap apa, itu tandanya dia sedang binggung. Peluklah dia dari belakang kecup ubun-ubunnya, tutup matanya dan ciumilah dia. Dia akan memelukmu setelahnya.

Ketiga jika kau melihatnya sedang tertawa lepas namun setelah itu dia diam dengan wajah sendu itu tandanya dia sedang sedih tapi dia tak mau mengatakannya padamu. Acak rambutnya dan dekap dia tanpa sepatah katapun, biaran dia menagis dan menceritakan sendiri masalahnya padamu. Setelah itu tenangkan dia..

Keempat…”

Ada banyak sekali kebiasaan yang KiBum sering lakukan padaku. Dan dia menuliskan semuanya disini. Kini aku tahu mengapa Kyuhyun bisa dengan samanya memperlakukanku.

“Begitulah.. aku telah menuliskan semua yang ku ketahui tentang gadisku. Kuharap kau bisa mendapatkan hatinya, mencintainya, dan menjaganya untukku.

Oh iya, jika dia telah menjadi milikmu, berikan secarik kertas yang terpisah untuknya. Biarkan dia mengetahui semuanya.

Mungkin berjuta-juta berimaksih tak akan cukup untuk ketulusanmu. Tapi sekali lagi terima kasih

Kim KiBum”

Derai tangisku mulai tak terkendali. Isakku mulai tak dapat ku tahan. Aku masih penasaran dengan surat yang ditujukan untukku. Aku mulai mengambil kertas itu. Tapi kudengar langkah kaki mendekat. Cepat-cepat ku bereskan surat surat Ki Bum dan aku berbaring di ranjangnya, menutup mataku seolah aku belum bangun.

Aku tak dapat melihat siapa yang datang. Tapi aku yakin dia adalah kyuhyun. Kurasakan langkah ittu makin medekat. Ia –yang kupikir adalah kyuhyun duduk disebelahku. Kurasakan napasnya di pipi kananku. Jantungku berdebar kencang sekali. Lalu jemarinya mulai menelusuri wajahku, dari dagu, ke pipi naik ke keningku, ke hidungku ke kelopak mataku. Kurasa dia menyadari aku habis menangis, dia menyeka sisa-sisa airmataku. Dan dengan perlahan kubuka mataku. Dia agak kaget tetapi langsung tersenyum ke arahku.

“Maaf kita jadi bolos hari ini..” ujarnya.

“Tidak apa-apa, salahku juga.”

“Oh ya, bajumu.. kakakku yang menggantikan, itu juga miliknya.” dia sedikit canggung.

“Terima Kasih.” dia terseyum dan menggaruk lehernya.

“Kau, sudah tidak galak lagi padaku?”

“Tergantung.”

“Maksudnya?”

“Kalau kau masih mengimitasi Ki Bum mungkin aku akan marah lagi padamu.” dia tampak binggung.

“Chae Rin.. apa kau bercaya cinta pada pandangan pertama?”

“Ya aku pernah mengalaminya. Kenapa?”

“Itu yang terjadi padaku saat pertama kali aku melihatmu.”

“Kapan kau pertama kali melihatku?”

“Dua tahun yang lalu.. sebulan setelah kau masuk ke Chungdam, saat kau sedang bermain dengan hujan.”

Apa? Jadi dia sudah melihatku sejak itu? Bahkan saat aku belum bertemu dengan KiBum

“Kalau begitu.. jadilah dirimu sendiri. Tunjukan bahwa yang mencintaiku itu Cho Kyuhyun bukan Kim Ki Bum.”

***

“Pagi.. Naik” Kyuhyun sudah tiba di depan rumahku pagi ini.

“Menjemputku ke sekolah?”

“Yup, dengan caraku.”

Dia menyerahkan helm dan menyuruhku naik ke motor besarnya. Yah ki bum memang selalu menjemputku sengan mobil.

“Peluk aku..” perintahnya.

“Apa?”

“Peluk aku.”

“Tidak mau.. ayo sana jalan.”

“Yasudah, hati-hati jatuh ya..” ia membawaku kebut-kebutan di jalan, serasa setiap jalan ini miliknya. Dan dalam beberapa menit saja

kami sudah sampai.

“Kau ini..” ujarku, dia malah memamerkan senyum terbaiknya.

“Sekali-sekali, refreshing..” dia merapikan poniku yang berantakan. Wajahnya lembut sekali memancarkan ketulusan.

“Kyuhyun sunbae..”

“Apa?” aku lalu mencium pipinya dan berlari meninggalkannya sendirian. Sempat ku lihat dia memegang pipinya tidak percaya.

***

Bel pulang sekolah berbunya bersamaan dengan turunnya hujan. Aku hanya menatap hujan sambil tersenyum. Aku lalu turun untuk pulang. Ku lihat orang-orang berteduh menunggu hujan berhenti, atau sibuk mengeluarkan payung. Tanpa mempedulikan mereka aku berjalan dibawah hujan dengan sangat lambat. Baru sampai gerbang sekolah saja aku sudah kuyup. Aku tetap berjalan keluar dari sekolah.

Sesampainya di depan rumah sudah ada yang menungguku.

“Menyenangkan bermain hujan?”

“Selalu. Ada apa kau kemari?” dia turun dari motornya dan mendekatiku. Hujan masih menemani kami.

“Aku hanya ingin minta izin.”

“Izin apa?”

“Izinkan aku mencintaimu..” bisiknya ditelingaku.

“Aku..” dia memelukku sebelum aku menyelesaikan perkataanku.

“Rasakan.. pelukanku berbeda ini aku, Cho Kyuhyun.” dia mencium leherku “Rasakan kecupanku berbeda ini aku, Cho Kyuhyun.” dia mencium bibirku dengan kasar “Rasakan ciumanku berbeda ini aku Cho yuhyun. Bukan Kim KiBum.” aku menangis. Aku membalas pelukannya.

“Maaf…”

“Kenapa menangis? Apa ku menyakitimu?”

“Tidak.. maafkan aku aku yang bodoh karena buta akan ketulusanmu.. maaf.”

“Tak perlu minta maaf.”

“Tapi aku sudah jahat sekali padamu..”

“Tidak apa-apa sudah jangan menangis.”

“Sunbae. Maukah kau mengajariku?”

“Mangajari apa?”

“Cara mencinta dengan caramu.”

“Tentu saja…” dia memelukku lebih erat “Aku mencintaimu.” Ujarnya aku hanya dapat tersenyum tanpa menjawab pernyataannya. Dia tersenyum dan berbisik di telingaku. “Tidak perlu dijawab, karena kau masih dalam tahap belajar.” dia mengecup bibirku singkat kemudian memelukku lagi.

“Ah aku punya sesuatu untukmu.” ujarnya dan dia mengeluarkan secarik kertas. Surat Ki Bum untukku. Aku mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tas yang memang anti air.

“Akan ku baca nanti. Bukankah aku kini sedang belajar?”

“Hatchi..” dia bersin, sepertinya dia jarang bertemu hujan.

“Hahaha, ayo masuk sunbae, kau pasti kedinginan.”

“Panggil aku oppa.”

“Cepat masuk kyuhyun oppa.”

“Kau cepat belajar.” dia merangkulku masuk kedalam rumah.

***

Park Chae Rin gadis hujanku…

Sudah bertemu hujanmu?

Dia kukirimkan khusus untuk menjagamu. Semoga kau menyukainya. Karena kurasa dia sangat tulus mencintaimu. Maaf jika aku membuatnya menjadi sepertiku. Kau pasti sangat terganggu akan hal itu. Tapi aku yakin itu meluluhkanmu. Ya, akulah yanhg mengajarinya menjagamu, mengerti akanmu. Kalau dia mmang melakukan persis apa yang aku lakukan itu berarti dia rela menjadi aku demi permintaanku untukmu. Dan dengan itu pula kita tahu bahwa cintanya bukan main-main.

Maaf aku tidak bisa menjagamu, tidak bisa menemanimu hingga kita menua. Itu bukan aku yang menginginkannya. Tai pasti kita akan bertemu lagi di surga. Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu.

Apa kau masih mencintai hujan? Aku yakin masih. Demi hujan, maukah kau berjanji padaku?

Jangan pernah berpikir untuk melupakan aku karena aku mencintaimu, aku mencintaimu sekali lagi aku mencintaimu. Dan setiap hujan turun, saat kau sedang senikmati setiap tetesannya, berjanjilah kau akan selalu mengenangku. Menganggap bahwa aku ada bersamamu di tengah hujan. Maukah kau berjanji demi hujan yang paling kau cintai? Terima kasih jika iya.

Kini biarkan dia menjadi hujanmu. Menggantikan posisiku untuk mendengar semua masalahmu dan membangkitkan senyummu. meski begitu hatimu selamanya milikku.

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Terlalu banyak kata cinta yang ingin ku ungkapkan padamu. Dan kertas ini tak mampu menampungnya. Aku yakin kau tahu bahwa cintaku sebanyak tetesan hujan yang kau nikmati.

Hujanmu,

Kim Kibum

-END

[FF/CHAPTERED/PG-16] Truth Chapter 1

6 November 2010 at 8:21 AM | Posted in SHINee | 26 Comments
Tags: , ,

Title : Truth

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Choi Minho and Cheryl Horvejkul

Other Casts : SHINee, Nichkhun Horvejkul, Victoria Song

Genre : Thriller, Romance, AU, Mystery, Fantasy

Length : 3 Shots

Part : 1 of 3

A/N : This fanfic made for battle challange, but I wanna share with all of you. So please leave a comment after you read this fan fiction. Thanks.

 

***

 

One

 

Hari ini –seperti hari-hari biasanya aku melewati taman bunga lavender yang tak jauh dari sekolah dan seperti biasanya pula aku melihat gadis itu tengah berdiri menundukkan kepalanya sambil mengatupkan kedua tangan di depan dadanya. Apa dia sedang berdoa? Entahlah aku tidak tahu.

 

Dengan sedikit ragu aku memarkirkan motor besarku tak jauh darinya kemudian berdiri di sebelahnya. Dia tak kunjung menyadari keberadaanku dia masih dalam posisi sama seperti tadi, yang berbeda hanyalah kini dari ujung matanya muncul butiran Kristal indah yang jatuh melewati pipi pualamnya. Kami terdiam cukup lama. Sampai pada akhirnya bibirnya menyunggingkan senyuman terindah yang pernah kulihat. Dia menurunkan tangannya dan membuka mata sambil jemarinya menyeka bekas air matanya. Dia menatap ke arahku.

 

“Kau? Sedang apa kau di sini?” tanyanya heran.

“Melihat keindahan ciptaan Tuhan,” ucapku sambil kembali menatap taman bunga lavender yang amat sangat indah.

“Mereka memang indah.” Ucapnya sendu.

“Maksudku, Kau,” ujarku sambil menggaruk kepala yang tak gatal.

“Jangan menggodaku begitu Choi Minho.”

“Tapi itu memang benar.” Dia tersenyum dan membungkuk.

“Aku duluan.” Ujarnya dan mulai berlalu menjauhiku.

“Cheryl..” dia berbalik dan aku segera menghampirinya “Boleh aku mengantarmu pulang?”

 

***

 

“Aku pulang.” Teriak Cheryl ketika membuka pintu dan langsung masuk.

“Kau tidak menyuruhku masuk?” tanyaku.

“Bukankah kau hanya ingin mengantarku pulang?”

“Iya sih, tapi ‘kan..”

“Kau bicara dengan siapa Cheryl?” ujar seorang wanita muda yang tiba-tiba ada di hadapan kami.

“Oh ini temanku. Umma, kenalkan, Choi Minho,” Aku membungkuk. “Dan Minho ini ibuku, Victoria.”

“Mannaseo bangapseumnida,” ujarku.

“Mannaseo bangapseumnida.” Balasnya. “Kau sudah makan? Aku baru saja selesai memasak, kalau tidak keberatan tinggallah dulu sebentar dan ikut makan bersama kami. Sudah lama aku tidak ditemani makan.”

“Apa tidak merepotkan?” tanyaku agak malu, padahal aku sangat lapar.

“Tentu saja tidak, ayo masuk.”

 

Ku lihat Cheryl telah mengganti seragamnya dengan celana pendek dan kaos. Ia tengah asik membaca sambil berselonjor kaki si sofa. Aku tak henti menatapnya.

 

“Sudah sana makan dulu jangan menatapku seperti itu terus.” Ujarnya tanpa melepas pandangan dari buku yang dia pegang.

“E.. em.. kau tidak ikut makan?” tanyaku gelagapan.

“Belum lapar. Nanti saja.”

“Dia memang begitu, biarkan saja dulu. Nanti kalau lapar dia akan ambil makan sendiri, ayo sini.” Ujar ibu Cheryl. Aku menurutinya dan berjalan menuju meja makan, dan tidak kulihat ada satu pun foto di sini. Yang kulihat hanya sebuah lukisan besar dengan Cheryl, Ibunya dan seorang pria tampan –yang kupikir adalah ayahnya terlukis di sana. Di bawah lukisan besar itu tertulis ‘Keluarga Horvejkul’

 

***

 

Sejujurnya aku memang menyukai Cheryl Horvejkul, namun dia selalu saja bersikap dingin padaku dan entah mengapa aku malah semakin penasaran pada sikapnya itu. Bel masuk pertama masih 40 menit lagi, aku datang terlalu pagi hari ini. Tapi di tengah penyesalanku wanita yang kuidamkan datang. Rambutnya terurai manis dengan poni ke depan,  seragamnya rapi dimasukkan, rok pendek di atas lututnya memamerkan kaki jenjang yang indah, kaus kaki putihnya tak sampai mata kaki, dan sepatu converse-nya rapi terikat. Aku tak sadar menatapnya dari atas hingga bawah seperti ini.

 

“Ada yang salah dengan penampilanku?” tanyanya membuyarkan pemikiranku.

“Tidak. Hanya saja kau terlihat cantik hari ini.” Dia mengeluarkan smirk-nya membuat jantungku berhenti berlonjak.

 

Dia masuk ke dalam kelas dan menaruh tasnya di atas meja miliknya. Kemudian melangkah menuju pintu.

 

“Mau ke mana?” ujarku.

“Taman. Bel masih lama.”

“Boleh aku ikut?”

“Dapatkah aku melarang seorang Choi Minho?” aku tersenyum dan mengikutinya berjalan meninggalkan kelas.

 

Sesampainya di taman dia langsung membaringkan tubuhnya di atas rerumputan hijau. Dia terlihat sangat nyaman seolah tempat itu adalah rumahnya. Dia menutup mata dan merentangkan kedua tangannya. Aku duduk di sebelahnya sambil menatapinya tiada henti. Dia menggumamkan sesuatu yang tak dapat ku dengar. Hanya seperti bisikan lembut berirama riang yang tak dapat ku terka.

 

“Kau bicara sesuatu?” tanyaku.

“Tidak.. aku hanya mengucapkan salam.”

“Pada?”

“Apa kau percaya pada makhluk selain manusia?”

“Emm..” aku berpikir agak lama. Aku memang tidak terlalu percaya, tapi sepertinya dia tidak sedang bercanda. Dia menatapku dengan tatapan bertanya. Dan aku masih tak punya jawaban. Kemudian dia menghela napas kecewa.

“Jika kau tidak percaya. Aku akan kedengaran bodoh jika menceritakannya padamu.”

“…” aku terdiam, agak menyesal membuatnya kecewa pagi-pagi begini.

“Ah sudahlah. Umma menanyakanmu terus. Kapan kau akan ke rumah lagi katanya.”

“Kapan pun kau mau Cheryl,” ujarku refleks.

“…” tampaknya dia tak mendengar pernyataanku. Dia sedang sibuk bermain dengan rerumputan. Tangan mungilnya menyentuh ujung rerumputan dengan lembut. Aku hanya dapat tersenyum heran. Aku mengacak rambutnya. Dia membuka matanya dan menatapku bingung. Aku masih mengelus kepalanya dan dia terlihat sangat nyaman akan itu.

“Kau seperti appa.”

“Apa?”

“Appa selalu memperlakukanku seperti ini. Aku merindukannya.” Ucapnya sendu.

“Memang appamu ke mana?”

“Dia ada di suatu tempat yang tak boleh aku datangi.”

“Tapi dia pulang dalam beberapa waktu bukan?”

“Ya, jika saja perbandingan waktunya sama. Maka aku dan umma tak akan serindu ini padanya.”

 

Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Tapi aku hanya bungkam. Aku tak ingin semua pertanyaanku malah membuatnya makin bersedih. Aku masih mengelus puncak kepalanya dan kuberanikan diri untuk mencium keningnya. Dia terlonjak kaget namun tetap diam.

 

***

 

Tadinya aku ingin mengantar Cheryl pulang. Tapi aku ada urusan dengan Jonghyun sunbae mengenai pertandingan basket yang akan diselenggarakan sebentar lagi. Yah mau bagaimana lagi aku tidak bisa menolak. Posisi kapten basket sudah ku pegang dan aku harus bertanggung jawab akan itu.

 

Sudah tiga puluh menit aku menunggu Jonghyun sunbae, tapi dia tak kunjung datang. ada apa ini? Tidak biasanya Jonghyun sunbae terlambat. Dia adalah  orang paling tepat waktu yang pernah aku kenal. Berkali-kali aku meneleponnya tapi sama sekali tidak diangkat. Pesanku pun sama sekali tak dihiraukannya. Sedikit banyak aku jadi cemas, jangan-jangan terjadi sesuatu padanya. Sekali lagi ku telepon ponselnya. Beberapa saat menunggu akhirnya panggilanku tersambung.

 

“Yoboseyo.. sunbae.. yoboseyo..”

“…” tidak ada jawaban hanya suara-suara aneh.

“Sunbae.. sunbae apa yang terjadi?” aku makin mengeraskan suaraku.

“Minho-ssi..” dia tahu aku meneleponnya.

“Sunbae kau di mana? Sunbae.. ada apa?” kecemasanku semakin tidak karuan. Perasaanku sangat tidak enak. Sesuatu pasti terjadi padanya. Tapi apa? Di mana? Kenapa?

“Kumohon pergilah..” pinta Jonghyun sunbae pada seseorang –entah siapa itu. Aku terdiam mendengarkan percakapan mereka –yang kedengarannya malah seperti monolog Jonghyun sunbae karena yang diajak bicara tak jua bersua. “Aku sama sekali tidak mengenalmu. Aku bahkan tak tahu apa salahku. Kenapa kau..” ucapan Jonghyun sunbae terhenti seketika setelah ada bunyi benturan benda tumpul. Dan hanya keheningan yang dapat aku dengar. Tunggu, suara kendaraan dan dentuman jam saat jarum panjang tepat ke angka 12.

 

Dia pasti di parkiran sekolah!

 

Aku berlari ke tempat yang ku tuju. Setibanya di sana aku melihat Jonghyun sunbae tengah terkapar tidak berdaya di tanah. Kepalanya berdarah, di lengannya ada beberapa sayatan yang mengeluarkan cairan merah itu pula. Pipinya lebam dan dadanya naik turun tak karuan.

 

“Sunbae.. apa yang terjadi sebenarnya?” tanyaku masih bingung.

“…” Dia tidak menjawab –masih mengatur napas. Aku membantunya berdiri, melingkarkan lengannya di leherku dan memapahnya ke ruang kesehatan.

 

Aku mengambil bola kapas dan membasahinya dengan revanol, lalu aku bersihkan luka yang ada di sekitar lengannya.

 

“Sunbae, mengapa bisa seperti ini?” tanyaku.

“Aku tidak mengerti. Tiba-tiba saja ada seseorang mencekik leherku. Jelas aku meronta. Tapi kemudian dia mengeluarkan pisau dan melukaiku.” Tanpa ku sadari bantal putih yang dipakai oleh Jonghyun sunbae sebagian berubah warna menjadi kemerahan.

“Omo! Sunbae kepalamu.” Dia memegang kepalanya dan ketika dilihat tangannya sudah berlumuran darah segar.

“Aish.. jinja..”

 

Kudengar suara pintu terbuka. Masuklah Cheryl beserta seorang pria yang sepertinya pernah kulihat. Benar dia adalah pria dalam lukisan itu –Tuan Horvejkul.

 

“Minho-ssi. Sunbae itu..” ucapan Cheryl terhenti, sepertinya dia tidak sanggup untuk berkata.

“Entah atas dasar apa penyerangan ini terjadi. Aku tidak tahu,” ujarku.

“Maaf bisakah kalian berdua keluar dulu sebentar?” tanya Tuan Horvejkul.

“Apa yang akan kau..” Cheryl menggenggam tanganku dan menarikku pergi. Tentu saja kau tak dapat menolak.

 

Di luar ruangan hanya kegelisahan yang menyelimuti Cheryl. Kenapa gadis ini? Kenapa dia terlihat sangat cemas? Apakah dia mengenal Jonghyun sunbae? Atau kah dia memikirkan hal lain? Banyak sekali pertanyaan berkecamuk di otakku dan aku sungguh tak mengerti. Dan kuputuskan untuk mengabaikannya.

 

“Semua akan baik-baik saja.” Suaraku membuatnya mendongak dan tersadar dari pemikirannya yang tak dapat kubaca.

“Belum tentu. Mereka bisa saja melukai lebih banyak manusia. Aku benar-benar takut.”

“Siapa mereka?” aku menatap langsung ke arah matanya yang hitam.

“…” dia terdiam, kemudian menunduk. Sungguh aku tak mengerti. Aku lalu memeluknya dan membelai rambutnya.

“Tidak apa. Jangan katakan jika kau memang tidak ingin mengatakannya. Sudahlah.” Sepertinya Cheryl menangis. “Uljima.”

 

Tuan Horvejkul keluar dari dalam ruangan. Aku dengan cepat melepaskan pelukanku.

 

“Semua sudah diatasi. Dia tidak akan apa-apa tenang saja.” Tuan Horvejkul mengelus puncak kepala Cheryl.

“Appa, ini Choi Minho dan Minho ini ayahku Nichkhun.”

“Senang berkenalan denganmu, Nak.” Kami berjabat tangan. Genggamannya tegas tapi tangannya sangat hangat dan wangi lavender tercium kuat dari tubuhnya.

“Aku juga sangat senang berkenalan denganmu.”

“Minho, bisakah kau mengantar putriku pulang? Aku.. em.. masih ada urusan.” Ujarnya.

“Tentu.”

“Cheryl, jika ada sesuatu lagi langsung beri tahu aku. Titip salam untuk umma ya.” Tuan Horvejkul mencium kening Cheryl setelah berkata. Cheryl langsung memeluknya.

“Tak dapatkah kau tinggal lebih lama? Hanya untuk semenit saja bertemu umma dan menciumnya. Semenit saja.” Ujar Cheryl penuh harap.

“Kau sudah tahu jawabannya, Sayang. Maafkan kesalahan Appa yang telah mencintai umma. Dan maafkan appa yang telah membuatmu terjebak dalam ketidakpastian.”

“Jangan pernah bicara seolah mencita itu adalah kesalahan.”

“Appa harus pergi.” Tuan Horvejkul melepaskan pelukan dan berlalu tanpa sedikit pun menoleh.

 

Ku lihat Cheryl masih tertunduk sendu.

 

“Jangan bersedih masih ada aku,” ujarku dia hanya tersenyum untuk membalas pernyataanku “Aku antar Jonghyun sunbae pulang dulu baru kita ke rumahmu.” Cheryl mengangguk dan kami masuk ke dalam ruang kesehatan.

 

Jonghyun sunbae sudah terduduk di ranjang dengan bingung.

 

“Sedang apa aku di sini?” tanyanya.

“Kau tadi diserang seseorang, jadi aku bawa ke sini.”

“Diserang?” dia seperti berusaha mengingat.

“Kau lupa? Coba lihat saja tangan..” aku terdiam melihat seluruh bekas sayatan di tubuhnya menghilang.

“Tanganku kenapa?”

“Coba kau pegang kepalamu,” titahku. Dengan segera dia memegang kepalanya. Dan tidak ada apa-apa. Aku menatap Cheryl, dia hanya menggigit bibirnya pelan.

“Kenapa?” tanya Jonghyun sunbae lagi.

“Ah tidak Sunbae, tadinya ‘kan kita mau membicarakan masalah pertandingan basket bukan?” aku mengalihkan pembicaraan.

“Begitu ya? Dapatkah kita membicarakannya nanti? Sepertinya aku merasa sedikit pusing dan tidak enak badan.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Maaf ya Minho-gun.”

“Gwencana Sunbae. Istirahat saja yang baik. Perlu kuantar?” aku masih mengkhawatirkan keadaannya.

“Tidak perlu. Aku bawa motor, lagi pula kasihan kekasihmu itu.” Ujarnya sambil bangkit dari ranjang “Aku duluan ya.” Dia berjalan pergi.

 

***

 

Dia memintaku berhenti di taman bunga lavender, aku hanya menurutinya dan dia langsung menatap hampa hamparan keunguan yang menyejukkan ini.

 

“Cheryl..”

“Ya?”

“…”

“Ada apa?”

“Aku telah menyukaimu sejak lama. Saat pertama kita masuk Chungdamn. Itu hampir dua tahun yang lalu. Semakin lama aku semakin menyukaimu. Aku tak kuat melihatmu sendu. Aku suka meliat senyumanmu. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu aku melihatmu di sini di taman bunga lavender ini. Dan aku telah sadar bahwa ku bukan hanya menyukaimu tapi juga mencintaimu.” Dia menatapku. “Maukah kau menjadi kekasihku?”

“Kau tahu, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Tapi.. aku bukanlah seperti yang kau kira. Kita berbeda. Aku tak ingin menyesal nantinya.”

“Bukankah tadi kau sendiri yang bilang pada ayahmu kalau tak ada kesalahan dalam cinta? Jika cinta kita tidak salah maka tak akan ada penyesalan.” Dia terdiam dan menangis. Dengan segera aku memeluknya.

“Apa aku menyakitimu?” tanyaku.

“Tidak bukan itu.”

“Kalau begitu tak perlu menangis.” Dia masih saja terisak.

“kau tahu? Tadi appa bilang kau mencintaiku sama seperti appa mencintai umma.”

“Dan?”

“Dan rasa cintaku padamu akan seperti umma yang tak akan pernah mengenal batas.”

“Artinya kau mau..”

“Ya. Aku milikmu sekarang.” Aku memeluknya dan mengecup puncak kepalanya.

“Gomawoyo. Saranghae.”

 

***

 

“Appa, ketika kau ditanya ‘apakah kau percaya atau tidak pada makhluk selain manusia’ apa yang akan kau jawab?”

“Ke.. kenapa kau bertanya seperti itu Minho?”

“Karena calon menantumu menanyakannya padaku.” Jawabku santai.

“Calon menantu? Kau ini masih SMA sudah memikirkan hal seperti itu.”

“Tak apalah, Appa. Bagaimana? Apa yang akan kau jawab?”

“Aku percaya.”

“Kenapa?”

“Sebelum ku jawab mengapa, kalau kau sendiri apa jawabanmu?”

“Aku masih belum bisa percaya karena aku belum melihat mereka.”

“Tapi mau tidak mau kita harus percaya. Karena kau ada sekarang in..”

 

Ucapan appa terhenti oleh suara telepon.

 

Dan aku tetap tidak tahu alasan appa.

 

***

 

Aku ada urusan dengan Jin Ki sunbae dulu tadi sehingga aku tak dapat mengantar Cheryl pulang. Tapi setelah ini pun aku akan segera bergegas ke rumahnya. Aku berjalan dengan santai ke parkiran sekolah. Tapi sedari tadi aku merasa ada orang yang mengikutiku terus. Ketika aku menoleh tak ada siapa pun. Mungkin hanya perasaanku saja. Tapi semakin aku berusaha menenangkan diri aku semakin gelisah. Memang tak ada hentakkan kaki yang mengikuti tapi aku merasa diawasi dan berada dekat dengan seseorang. Sekali lagi aku menoleh dan masih tidak ada siapa-siapa.

 

Lalu tiba-tiba ada yang menyingkat kakiku membuatku hilang keseimbangan dan jatuh keningku menyentuh tanah sehingga berdarah, aku berbalik dan seorang pria misterius tengah mengacungkan belati di hadapanku.

 

“Kau mau apa?” dia hanya menyeringai tak berarti lalu mencekikku. Tangannya hangat sama seperti tangan Tuan Horvejkul tapi aku tahu itu bukan dia. Aku mulai sulit bernapas kemudian dengan segenap tenaga aku berusaha mendorongnya menjauh dariku. Entah dia terlalu kuat akua tenagaku yang tak mampu menanganinya dia makin terus membuatku sesak. Dia menusukkan belatinya di dekat selangkaku dan menggoresnya dengan cepat hingga kemejaku robek dan darah mencuat dari sana.

“Aaaaaaah..” teriakku ketika luka itu ternganga. “Siapa kau? Apa yang.. kau.. inginkan dariku?” tanyaku terbata.

“Dia beberapa kali menusukkan belati itu ke perutku. Hingga kemejaku penuh dengan bercak merah. Bahkan tanah pun ikut terbanjiri oleh darahku. Aku sama sekali tak dapat melawan. Melawan pun percuma ketika kupukul dia seperti tak merasakan apa-apa.

 

Dengan keadaan setengah sadar aku masih dapat melihat sosok orang yang paling aku cintai.

 

“Cheryl.. ku..kumohon.. per..gi.. pergi dari.. sini..”

 

 

 

*To Be Continue*

 

 

[FF/1S/PG-16] Irrational

3 November 2010 at 9:03 PM | Posted in Super Junior | 3 Comments
Tags: , ,

Irrational

Title : Irrational

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Cho Kyuhyun and Park Chae Rin

Other Casts : Park Jung Soo and other

Genre : Romance

Length : 1 Shots

 

***

 

Sudah ke sekian kalinya aku melihat kematian. Hingga mungkin aku tak akan mengeluarkan setetes air mata pun saat menyaksikannya lagi. Ini kematian ibuku –kanker darah, kematian yang  manis bukan? Entahlah.. pada dasarnya aku tak mengerti mengapa manusia hidup dan mengapa manusia mati. Aku tak tahu dan tak mau tahu tentang permainan Tuhan. Yang jelas kini aku tak dapat mendefinisikan apa yang kurasakan, campuran antara pilu dan ragu menghasilkan bebatan hebat di dadaku.

Sekali lagi aku tak menangis. Tapi di sudut itu, seorang pria yang tak ku kenal tengah tertunduk sendu. Pandangannya tertuju pada lantai rumah sakit. Aku menatapnya, menyelisik –mencoba menggali memori dalam ingatanku, pria itu pernah ku lihat sebelumnya. Di kondisi yang tak asing dengan sekarang ini. Beberapa kali, rasanya wajah itu, kesenduan itu.. dia mengalihkan wajahnya ke arahku yang masih menatapnya. Dia sama sekali tidak tersenyum. Penyesalan itu.. aku pernah melihatnya sebelum ini. Ah ya.. akhirnya aku ingat. Aku pernah melihatnya di kematian-kematian sebelumnya.
Continue Reading [FF/1S/PG-16] Irrational…

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: