[FF/1S/PG-16] Irrational


Irrational

Title : Irrational

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Cho Kyuhyun and Park Chae Rin

Other Casts : Park Jung Soo and other

Genre : Romance

Length : 1 Shots

 

***

 

Sudah ke sekian kalinya aku melihat kematian. Hingga mungkin aku tak akan mengeluarkan setetes air mata pun saat menyaksikannya lagi. Ini kematian ibuku –kanker darah, kematian yang  manis bukan? Entahlah.. pada dasarnya aku tak mengerti mengapa manusia hidup dan mengapa manusia mati. Aku tak tahu dan tak mau tahu tentang permainan Tuhan. Yang jelas kini aku tak dapat mendefinisikan apa yang kurasakan, campuran antara pilu dan ragu menghasilkan bebatan hebat di dadaku.

Sekali lagi aku tak menangis. Tapi di sudut itu, seorang pria yang tak ku kenal tengah tertunduk sendu. Pandangannya tertuju pada lantai rumah sakit. Aku menatapnya, menyelisik –mencoba menggali memori dalam ingatanku, pria itu pernah ku lihat sebelumnya. Di kondisi yang tak asing dengan sekarang ini. Beberapa kali, rasanya wajah itu, kesenduan itu.. dia mengalihkan wajahnya ke arahku yang masih menatapnya. Dia sama sekali tidak tersenyum. Penyesalan itu.. aku pernah melihatnya sebelum ini. Ah ya.. akhirnya aku ingat. Aku pernah melihatnya di kematian-kematian sebelumnya.

Dengan langkah pasti aku menghampiri pria itu, kemudian bersandar di dinding putih rumah sakit yang ia sandari pula. Dia kembali menatap sesuatu –entah apa–  dengan pandangan hampa. Dia seperti tidak menyadari kedatanganku.

“Mengapa kemari?” ujarnya tanpa melepas pandangannya.

“Kupikir kau tidak tahu aku mendekat.”

“Itu bukan jawaban.”

“Siapa kau?” ujarku, dia menatapku. Entah apa yang kupikirkan, namun saat aku melihat mata hitamnya yang indah dan wajahnya yang pucat jantungku serasa berhenti bekerja.

“ Aku.. Cho Kyuhyun.”

“A.. ada urusan apa kau di sini?” ujarku tergagap –masih terkesima.

“Urusanku telah selesai sejak tadi, hanya penyesalan yang masih tertinggal.” Aku tak mengerti apa yang dia maksud. Dia melihat dahiku menyerit, kemudian dia tersenyum dengan sangat indah.

“Chae Rin,” panggil kakakku, Jung Soo oppa. Aku menoleh “Tolong kau beri tahu appa tentang keadaan umma.” Dia menyodorkan ponselnya ke arahku. Segera ku ambil dan ketika aku berbalik, Cho Kyuhyun telah pergi.

***

Sudah beberapa hari ini benakku dibayangi oleh guratan penyesalan yang selalu tergores di wajah pria itu. Cho Kyuhyun, di mana dia sekarang? Dia bahkan tak sama sekali menanyakan siapa namaku. Ingin sekali aku mencarinya. Tapi ke mana? Entahlah. Aku tidak tahu.

Aku tengah menunggu bis di halte yang tak jauh dari kampus. Berkali-kali aku melirik jam tangan yang ku pakai di tangan kanan. Sudah pukul 4 sore, Jung Soo oppa pasti marah kalau aku tak cepat pulang. Tapi mau bagaimana belum ada bis yang datang. Dari persimpangan jalan lain terdengar sebuah debuman hebat. Tidak begitu lama orang-orang ramai menuju sumber suara. Dengan rasa penasaran yang teramat sangat, aku ikut melihat. Tabrakan hebat dua buah mobil pribadi. Darah mulai berceceran di sana. Mobil-mobil itu mengeluarkan kepulan asap yang menjulang tinggi. Dua orang anak kecil telah hilang nyawa, seorang pria dewasa juga begitu. Dan seorang ibu muda masih meronta terhimpit bangkai mobil yang sudah tidak berbentuk. Sementara orang lain sibuk menonton sambil menutup mulut mereka saking terkejut. Beberapa orang menelepon ambulans agar segera datang. Dengan segenap kekuatan dan keberanian aku membuka pintu bangkai mobil yang menimpa tubuh si ibu muda. Agak sulit karena pintunya terkunci, kutarik dengan keras dan beberapa orang pria membantuku sehingga pintu bobrok itu dapat terbuka dan aku membawa tubuh tak berdaya itu ke jalan. Dari tempat aku bersimpuh aku dapat melihat dia –Cho Kyuhyun sedang duduk di sebuah kafetaria yang berjarak hanya beberapa meter dariku. Dia tidak sama sekali membantuku menolong ibu muda ini. Dia hanya memberiku wajah sendu itu lagi, penyesalan itu lagi. Aku tak dapat berfokus padanya kini. Aku melihat keadaan ibu muda ini. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan tidak bernada, ada tulang mencuat pada tungkai kanan atasnya, lengan kanannya patah. Dia masih hidup dan dia harus tetap hidup! Aku mengangkat dagunya agar memperlancar jalan napasnya, masih sulit. Aku menangkap oksigen dengan mulutku dan memberikan dua kali napas cepat pada ibu muda ini, sedikit demi sedikit dia mulai tenang bernapas, tapi beberapa kali masih tersengal. Saat kurasa usahaku berhasil, kulihat pria itu menjentikkan jarinya sekali, aku dengan cepat menoleh ke arahnya dengan tatapan bertanya. Dia menatapku balik, kemudian mengalihkan pandangannya ke ibu muda yang sedang ku tolong. Saat aku melihat kembali pada ibu muda ini, dia sedang menghela napas –napas terakhir. Aku agak sedikit cemas, kemudian aku pompa jantungnya dengan sesekali ku beri napas buatan. Namun nihil. Ibu muda itu telah pergi. Aku menutup matanya kemudian berdiri, dengan langkah tak pasti aku mundur beberapa langkah. Banyak hal berkecamuk di otakku, aku bingung, aku tak mengerti, aku berteriak kencang di sana. Terlalu kencang hingga kakiku lemas dan membuat aku bersimpuh di jalanan. Aku tidak menangis, hanya saja aku merasa bodoh.

Ada yang menggenggam lenganku, yang tanpa kata menyuruhku berdiri. Aku turuti perintahnya, dia lalu merangkul bahuku untuk membantuku pergi dari semua usahaku yang sia-sia. Dia menuntunku berjalan ke suatu tempat yang ku tahu adalah rumahku.

Dia mengambilkan aku segelas air. Dan menyodorkan di hadapanku.

“Minum.” ujarnya datar. Aku mengambilnya kemudian meneguknya dengan cepat.

“Seharusnya aku bisa menolong ibu itu.. harusnya dia masih hidup..”

“Tidak. Seharusnya dia mati hari ini.”

“Kau.. kenapa kau bisa bicara semudah itu? Tadi juga kau sama sekali tidak bersimpati.”

“Untuk apa? Sekeras apapun berusaha toh dia akan tetap mati tadi.”

“Ucapanmu keterlaluan. Aku terlalu banyak melihat kematian, maka dari itu aku berusaha agar tak melihatnya lagi.” nada bicaraku meninggi.

“Tapi dia ditakdirkan untuk mati hari ini. Kau dan aku bisa apa? Aku juga terlalu sering melihat kematian, lebih sering darimu, tapi aku sama sekali tak bisa berusaha.”

“Siapa kau sebenarnya?” ujarku

“Aku..”

“Chae Rin, ada apa? Kenapa kau berteriak?” Jung Soo oppa membuka pintu kamarku.

“Emm.. tidak ada apa-apa oppa.. semua baik-baik saja.” Ujarku pelan, ya Tuhan.. Jung Soo oppa pasti menanyakan siapa pria ini.. “Emm, ini..” aku menoleh ke arah Kyuhyun dan dia sudah tidak ada di sana.

***

Aku tengah mengerjakan tugas kuliahku, mataku terfokus pada laporan yang harus kususun. Tanpa ku sadari dia sudah berdiri dai sampingku. Ekor mataku menangkap sosoknya. Dia menatapku dengan tatapan datar.

“Dari mana kau masuk?” tanyaku.

“Pintu.”

“Kamarku terkunci.”

“…”

“Siapa kau sebenarnya? Sudah tiga kali aku menanyakan hal ini dan kau selalu menghilang tanpa jejak.”

“Aku, sama sepertimu. Hanya makhluk Tuhan biasa.”

“Kalau begitu kau bukan manusia.”

“Aku tahu itu bukan pertanyaan.”

“Untuk apa kau kemari?”

“Entahlah.. tanpa alasan. Mungkin aku hanya ingin melihatmu.”

“Kyuhyun, apakah masuk akal jika aku mencintaimu?” tanyaku.

“Atas dasar apa kau mencintaiku?”

“Dasar yang sama dengan kedatanganmu menemuiku.” Dia terdiam

“Kau hanya ingin tahu siapa aku. Tak lebih.” Ujarnya pada akhirnya.

“Kau tidak dapat membaca pikiranku Kyuhyun. Tapi aku dapat membaca hatimu.”

“Aku bukan sesuatu yang pantas untuk dicintai. Dan kau, tak tahu apapun tentang aku maupun hatiku.” Dia berbalik menatap keluar. Aku memeluknya dari belakang. Tak ada elakkan. Aku tahu dia menikmatinya.

“Jangan pernah membohongi dirimu sendiri.” Bisikku di telinganya. Dia memutar badannya dan memelukku.

“Aku bukan sesuatu yang pantas untuk dicintai.” Ulangnya sekali lagi.

“Tidak ada makhluk yang tidak pantas dicintai.”

“Tapi kita berbeda,”

“Cukup katakan kau juga mencintaiku, maka semuanya akan selesai, dan perbedaan itu tak akan menjadi apa-apa.”

“Saranghae.” Untuk pertama kalinya dia mengecup bibirku.

***

Aku tahu hubungan ini tidak lazim, aku tahu kisah ini tidak masuk akal. Namun, tidak pernah ada yang salah dalam cinta. Asalkan dia mencintaiku dan aku mencintainya itu sama sekali bukan masalah. Sudah beberapa bulan ini dia selalu menemuiku setiap harinya. Aku merasa memiliki kekasih seperti manusia biasa. Hanya saja, hanya aku yang dapat melihatnya.

Sepulang kuliah aku langsung pulang ke rumah dan segera naik ke kamar, di sana sudah ada Kyuhyun sedang duduk di atas ranjangku dengan wajah pilunya. Dia mendongak ketika aku datang. Aku bersimpuh di hadapannya dan memegang kedua pipinya yang tirus.

“Ada apa?” tanyaku.

“Aku baru saja melakukan pekerjaan. Dan itu sangat menyakitkan.” Aku memeluknya.

“Tidak apa-apa semua baik-baik saja..” aku mengelus rambut belakangnya.

“Aku tak akan pernah bisa membayangkan jika nanti aku harus melakukannya padamu.”

***

Sudah lama aku tidak melihat kematian, tapi setiap hari aku harus meliat wajah sendu itu. Jujur ini sangat menyiksaku. Tapi apa dayaku? Cinta memang selalu membuat sesuatu tidak masuk akal.

Aku sedang melepas penat di taman dekat kampus, lalu dari belakang ada yang mencium tengkukku.

“Kyu-ya.. jangan tiba-tiba mengagetkanku begitu..” ujarku.

“Maaf.” Katanya, aku berbalik dan menatapnya

“Ada apa?” tanyaku.

“Tidak ada..”

“Kau tidak pernah pandai berbohong.”

“Entah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi, selama sisa waktuku tolong jangan pernah jauh dariku.” Dia menggenggam tanganku.

“Ingatkah kau? Akulah yang terjebak dalam permainan waktu bukan kau..”

“Tapi aku yang lebih terjebak dalam permainan Tuhan.”

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

“Tidak ada. Cukup jalani waktu kita dengan tenang.”

Entah mengapa, kata-kata itu membuatku takut akan kehilangannya. Aku merasa sebentar lagi dia akan pergi meninggalkan aku. Jauh, ke tempat yang tak pernah bisa ku jangkau. Aku memeluknya dengan erat, seolah pelukan ini akan jadi pelukan terakhirku. Tubuhnya dingin, tapi aku tak peduli dan terus mendekapnya.

***

Benar saja firasatku, sudah seminggu ini dia tak datang menemuiku. Aku duduk di ranjangku dan bersender di dinding.

“Kyu-ya..” panggilku, “Kyu-ya..” tidak ada jawaban. “Kyu-ya.. Kyu-ya..” nada suaraku makin naik, tapi tidak ada sahutan, “Kyu-ya..” panggilku terus. Aku memeluk lutut dan menenggelamkan kepalaku di antaranya. “Kyu-ya..”

“Kenapa Chae Rin?” aku mendongak,

ternyata Jung Soo oppa.

“Tidak apa-apa.”

“Kenapa kau menangis? Aku baru melihatmu menangis lagi semenjak tiga tahun yang lalu sejak Hyun Chul pergi.” Dia memelankan suaranya saat menyebut nama Hyun Chul –mantan kekasihku yang meninggal karena kecelakaan.

“Aku benar-benar tidak apa-apa oppa.. aku hanya sedang membutuhkan seseorang.”

“Memang dia ke mana?”

“Aku tidak tahu apa-apa.. aku tak pernah tahu sedikit pun tentang dia. Aku tahu ini semua kebodohanku, dia sudah memperingatiku akan perbedaan kami, bahwa kami tak seharusnya bersama. Tapi aku bilang semua akan baik-baik saja. Aku bilang kami akan dapat menjalani semuanya hanya karena rasa cinta. Tapi nyatanya semua salah oppa. Kini rasa cintaku sudah terlalu besar. Kehilangannya membuat luka mendalam di hatiku. Dadaku sesak jika mengingatnya, tapi otakku menolak untuk tidak memikirkannya, semua ini terlalu pilu untuk dijalani. Tapi rasa untuk tak mengenangnya terlalu sakit, lebih sakit saat aku kehilangan umma, lebih sakit dari melihat Hyun Chul mati di hadapanku. napasnya telah menjadi oksigenku. Pelukannya telah menjadi energiku. Tatapannya yang membantu jantungku berdetak, rasanya sebentar lagi aku akan mati oppa..”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan? Siapa yang kau maksud itu?”

“Dia.. malaikatku.. Cho Kyuhyun.”

***

Di mana? Di mana aku harus mencarinya? Belakangan ini aku jadi seperti orang gila yang tak punya tujuan hidup. Aku benar-benar bingung dengan kesendirian ini. Dia meninggalkanku tanpa sedikit pun berkata. Dia pergi dalam diam yang membuatku hilang arah. Dia tidak bilang kenapa dia harus pergi. Tolong.. ini semua sungguh menyesakkan.

Aku harus apa? Tenang Chae Rin.. pikirkan sesuatu dengan kepala dingin. Pertemuan itu, wajah sendu itu, kondisi itu, dalam beberapa saat, di kepalaku terbesit kilasan-kilasan kejadian yang melibatkannya.

Cho Kyuhyun aku akan mendapatkanmu kembali.

***

Aku menggunakan pakaian terbaikku, sebuah dress putih selutut dengan high heels. aku mengurai rambut panjangku, dan berdandan seolah ini adalah malam spesial bagiku. Ya ini adalah malam paling istimewa untukku. Di mana aku akan menemui dia yang membawa separuh jiwa dan sebagian akal sehatku bersamanya. Dia Cho Kyuhyun.

Aku menarik napas panjang kemudian tersenyum getir.

“Datanglah sekarang.” Bisikku. Tidak ada jawaban. “Baik, kalau begitu maumu. Aku ingin kau tahu Kyu-ya, aku mencintaimu lebih dari hidupku.”

Aku mengambil sesuatu yang sudah ku siapkan di meja. Pisau lipat yang sudah ku hias agar tampak cantik. Pertama ku cium pisau itu. Kemudian aku goreskan di nadi pada pergelangan tangan kiriku. Darah mengucur dari luka yang kuhasilkan. Cairan merah itu mengalir hingga ke sikuku. Semakin lama darah itu semakin banyak dan menetes hingga mengubah dress putihku menjadi berwarna kemerahan. Kakiku lemas, dan aku tersungkur ke lantai. Sakit, apa ini rasanya mau mati? Semakin lama aku semakin berani mengoyak nadiku. Hingga goresannya berbentuk zigzag. Aaah.. sungguh ini menyiksa. Namun rasa kehilangan pria itu lebih menyiksa dari ini.

Kesadaranku mulai menghilang, dengan pandangan kabur aku melihat dia datang. Wajahnya lebih sendu dari biasanya. Bahkan kini dia menangis tersedu.

“Bodoh.. mengapa kau lakukan ini?”

“Ini takdirku bukan?”

“Tapi kau bodoh.. mengapa kau menyakiti dirimu sendiri? Tidak seharusnya kau mati dengan cara ini!”

“Aku tidak peduli dengan cara apa aku akan mati. Yang aku tahu adalah, kau, Cho Kyuhyun akan.. akan.. melaksanakan tugasnya.. padaku.. kau.. mencabut nyawaku..” ucapku dengan tersengal.

“Demi Tuhan yang menciptakanku dengan rasa cinta, aku tak pernah ingin mencabut nyawamu. Aku harap aku bisa melihatmu tetap hidup tenang. Biarpun kau mati bukan aku yang melakukannya.. Maafkan aku.”

“Tidak apa. Dulu.. aku selalu marah pada malaikat pencabut nyawa. Dia dengan enaknya mengambil orang-orang yang ku kasihi. Tapi.. kini aku malah mencintai malaikat itu.. aku rela kau mengambil nyawaku. Aku rela melakukan apapun untukmu. Sekarang di sisa waktu yang tinggal hitungan detik, tolong bilang kau mencintaiku,”

“Saranghae.. saranghae.. saranghae Chae Rin..” dia mendekapku yang berlumuran darah.

“Na do.. kau.. bisa membawa jiwaku pergi.. Kyu-ya.”

Dia dengan perlahan mengambil sesuatu dari atas tenggorokanku. Sakit.. dan  aku menghembuskan napas terakhirku. Dia memelukku lebih erat.

“Kenapa harus aku?” ujarnya.

***

Epilog

Mengapa dia dapat melihatku? Padahal orang lain tidak. Ah, mungkin karena ia terlalu sering melihat kematian. Tapi apakah tidak apa? Dia menghampiriku dan bertanya mengenaiku. Dapatkah aku memberitahunya? Kubilang saja aku Cho Kyuhyun.

Kami dipertemukan lagi dalam suatu kematian. Dia berusaha untuk mencegahnya, namun kematian tak dapat dicegah bagaimanapun usahanya. Aku hanya melakukan tugasku tanpa banyak kata. Dan dia kelihatan sangat menyesal akan kesia-siaannya. Aku membawanya kembali pulang dan dia kembali bertanya tentangku. Aku tak ingin dia tahu banyak tentangku jadi saat dia teralih aku pergi. Tanpa sepengetahuannya aku mengunjunginya, aku harus menghilangkan keberadaanku agar dia tidak sadar. Berkali-kali aku menemuinya tanpa dia tahu. Tapi hari itu, saat aku sedang menatapnya, aku lupa menghilangkan keberadaanku dan dia mengetahui aku datang. Dia bilang dia mencintaiku. Aku tahu aku juga mencintainya tapi ini sulit. Adakah aku harus memunafikkan diri dengan berkata bahwa aku tak mencintainya? Di tengah kegalauanku dia meyakinkanku agar menerima fitrah Tuhan akan cinta. Dan aku menyetujuinya. Kami memulai hubungan yang tak lazim ini. Kami bahagia, sampai aku di beri tahu untuk menjauh dari gadis yang paling aku cintai. Jika tidak dia akan mati dengan cara yang paling di benci manusia dan aku akan hilang menjadi buih. Tentu saja aku tak peduli dengan diriku, tapi dia? Tidak, dia harus hidup dengan bahagia meski tanpa aku. Aku memutuskan memberi salam perpisahan walau secara tersurat dan dia tidak menyadarinya.

Dia pikir aku tak lagi menemuinya. Padahal aku hanya menghilangkan keberadaanku sama sepeti saat pertama kali aku masuk ke kamarnya. Hatiku tercabik setiap dia bilang dia mencintaiku, setiap dia menyebut namaku ‘Kyu-ya.. Kyu-ya..’ suara parau itu terus menyayat hatiku tanpa henti.

Aku tidak dapat membaca pikiran manusia. Tapi aku dapat mengetahui kapan manusia itu akan mati, mata dan pancaran sinar mereka akan berbeda. Dan ku lihat mata dan sinarnya gelap, dan seketika aku tahu bahwa tugasku harus kulaksanakan padanya sebentar lagi. Seharian itu aku berada di sampingnya. Aku lihat dia berdandan dengan sangat cantik. Aku dengar bisikannya yang menyuruhku datang. Tapi aku tetap pada pendirian dan bersikeras tetap tak terlihat olehnya. Hingga kulihat di mulai menggoreskan benda tajam itu ke nadinya. Aku berteriak kencang mencegah. Dia belum mendengarku, aku tampakkan diri dengan bersikap tenang. Dia tersengal, dia memintaku berkata bahwa aku mencintainya. Aku lakukan permintaan terakhirnya karena aku tak akan melihatnya lagi. Melihat senyumnya, merasakan sentuhannya, dan mengecup bibirnya. Dia hanya akan menjadi fantasi untukku.

“Kyu-ya..” panggil seseorang, suara itu.. aku menoleh

“Kau?”

***

The End

Please leave a comment ya,

kamsahamnida :)

3 Responses

  1. [...] This post was mentioned on Twitter by Shawol-ELF Indonesia, Yuanita Indah Putri. Yuanita Indah Putri said: @SEI_World [FF/1S/PG-16] Irrational. Language: Indonesia http://wp.me/pPbHU-196 [...]

  2. Aaaa … Keereeen bangeeet chinguu ..

    Buatin novel pasti lebih seru, awalnya malah kukira kyu jdi vampire ..hhehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers